Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #14

Burung di Dalam Sangkar

Rumah itu sedang bersiap menyambut hajatan. Kain-kain batik dijemur di halaman. Pendapa dipoles hingga mengilap. Tukang kayu datang memperbaiki kursi yang mulai goyah. Dari dapur, aroma jenang dan wajik memenuhi udara sejak subuh. Semua orang bekerja lebih cepat daripada biasanya. Katanya, rumah yang akan menggelar pesta harus tampak bahagia.

Aku memandang kesibukan itu sambil mengangkat baskom berisi bunga melati. Anehnya, semakin banyak orang tersenyum, semakin sering aku melihat mata yang sembab. Rumah ini memang pandai mengajari orang tersenyum tanpa merasa bahagia.

Sekar menghampiriku dengan langkah pelan.

"Ratri."

"Iya?"

"Kakak mengurung diri."

Aku langsung menoleh.

"Kenapa?"

Sekar menggeleng.

"Sejak semalam."

Kami berjalan ke lorong samping. Kamar Ndara Putri berada di ujung rumah. Pintunya tertutup rapat. Dari dalam tidak terdengar suara apa pun. Nyai berdiri di depan pintu sambil membawa sepiring makanan.

"Putri."

Tak ada jawaban.

"Ini Ibu."

Tetap sunyi. Nyai mengetuk sekali lagi.

"Nak, makan dulu."

Hanya angin yang menjawab. Tak lama kemudian Simbah datang. Wajahnya tetap tenang. Tangannya membawa tasbih yang terus bergerak di sela jari.

"Kalau tidak mau makan, biarkan."

Lihat selengkapnya