Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #15

Sumur yang Mengingat

Sejak pertengkaran di ruang tengah itu, rumah berubah lebih sunyi. Tidak ada lagi tawa Sekar yang berlarian di pendapa. Nyai lebih sering berada di kamar Ndara Putri. Simbah memperpanjang waktu mengajinya. Sementara Ndara Kakung semakin jarang terlihat. Kalaupun keluar, wajahnya seperti batu. Datar. Sulit dibaca.

Hanya sumur di belakang rumah yang tetap sama. Airnya jernih. Tembok batunya dingin. Lumut hijau tumbuh di sela-sela bata tua. Setiap pagi aku menimba air dari sana. Katanya, sumur itu sudah ada sejak rumah ini dibangun. Jauh sebelum aku lahir. Jauh sebelum Ibu datang bekerja. Sumur itu telah menyaksikan beberapa generasi tumbuh, menikah, menangis, lalu mati.

Aku sering berpikir, seandainya sumur bisa bicara, mungkin ia tahu lebih banyak daripada semua penghuni rumah. Pagi itu aku menimba air sendirian. Ember baru saja menyentuh permukaan ketika kudengar dua orang sedang berbicara dari balik rumpun bambu.

"Kasihan Lasmi."

Suara Simbok Darmi.

"Sudah bertahun-tahun."

Suara laki-laki tua yang kukenal sebagai Pak Wiryo, tukang kebun.

"Dia memilih bertahan."

"Memangnya dia punya pilihan?"

Pak Wiryo menghela napas panjang.

"Kalau waktu itu dia pergi, anaknya tidak akan selamat." Tanganku berhenti menarik tali. Anaknya. Mereka sedang membicarakan aku? Aku mendekat sedikit. Namun sebelum sempat mendengar lebih banyak, Simbok Darmi berkata lirih,

"Sudah, jangan diteruskan!"

Keduanya berjalan menjauh. Aku tetap berdiri. Jantungku berdetak semakin cepat. Selama ini aku mengira Ibu bertahan karena tidak punya tempat lain. Ternyata ada alasan lain. Alasan yang belum kuketahui.

Siang harinya, aku menemui Pak Wiryo di kebun. Ia sedang memangkas ranting jambu.

"Pak."

"Iya, Nduk."

"Tadi pagi Bapak bicara tentang Ibu."

Pak Wiryo berhenti bekerja.

"Apa?"

"Ibu pernah mau pergi?"

Wajahnya berubah. Keriput di dahinya semakin dalam.

"Kamu salah dengar."

"Aku tidak salah."

Pak Wiryo membuang pandangan.

"Ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi cerita orang tua."

"Tapi itu tentang Ibu."

Lihat selengkapnya