Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #16

Malam tanpa Bulan

Malam datang tanpa bulan. Langit tertutup awan hitam. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga kenanga dari halaman depan. Rumah besar itu tenggelam dalam gelap. Hanya beberapa lampu minyak yang masih menyala di pendapa. Dari kejauhan, rumah itu tampak tenang. Terlalu tenang untuk sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak tangis.

Aku belum tidur. Kata-kata Pak Wiryo terus berputar di kepalaku. Kalau waktu itu dia pergi, anaknya tidak akan selamat. Kalimat itu seperti duri. Kecil. Namun setiap kali kuingat, ia menusuk lebih dalam. Aku menoleh ke arah Ibu. Ia sudah berbaring di tikar. Napasnya terdengar pelan. Wajahnya tampak lelah. Kerutan halus mulai muncul di sekitar matanya. Baru kusadari, selama bertahun-tahun aku selalu melihatnya bekerja. Menimba air. Memasak. Mencuci. Menyapu. Menundukkan kepala. Aku hampir tidak pernah melihatnya beristirahat. Rumah itu mengambil tenaganya sedikit demi sedikit. Mungkin juga mengambil hidupnya.

Aku bangkit perlahan. Kakiku melangkah ke luar gandhok. Malam begitu sunyi hingga suara jangkrik terdengar seperti bisikan. Aku berjalan menuju sumur tua. Airnya tampak hitam. Tidak memantulkan apa pun. Aku menatap dasar sumur yang gelap. Entah kenapa, aku merasa sedang menatap masa lalu.

"Belum tidur?"

Suara itu datang dari belakang. Pak Wiryo. Ia membawa lampu sentir di tangannya.

"Aku tidak bisa tidur."

Pak Wiryo berdiri di sampingku.

"Lagi memikirkan ibumu?"

Aku mengangguk.

"Pak."

"Hm?"

"Apa Ibu pernah bahagia?"

Pak Wiryo tidak langsung menjawab. Ia memandang air sumur cukup lama.

"Lasmi-lah orang yang paling pandai tersenyum."

"Itu bukan jawabannya."

Ia tersenyum tipis.

"Nah."

Lihat selengkapnya