Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #17

Garis Wajah

Sejak malam di ruang penyimpanan itu, aku tidak lagi melihat rumah dengan mata yang sama. Setiap pintu terasa menyembunyikan sesuatu. Setiap lorong seperti menyimpan bisikan. Bahkan suara langkah para penghuni rumah terdengar berbeda. Seolah semua orang sedang berjalan di atas rahasia yang rapuh.

Pagi itu matahari muncul cerah. Embun masih menggantung di ujung daun melati. Aku membantu Ibu menjemur pakaian di halaman belakang. Kain-kain putih berkibar pelan tertiup angin. Di sela-selanya, kulihat bayanganku sendiri memanjang di tanah.

Aku berhenti. Entah mengapa, aku memandangi bayangan itu lebih lama dari biasanya.

"Kenapa?" tanya Ibu.

"Aku sedang melihat wajahku."

Ibu tertawa kecil.

"Wajahmu ada di bayangan?"

"Bukan."

Aku menggeleng.

"Aku sedang berpikir, aku lebih mirip siapa?"

Tawa Ibu menghilang. Tangannya yang sedang menjepit kain berhenti di udara.

"Kamu mirip dirimu sendiri."

Jawabannya terdengar ringan. Namun matanya menghindar.

***

Siang harinya, Nyai memintaku mengantarkan buah ke kamar Ndara Kakung. Aku mengetuk pintu pelan.

"Masuk!"

Beliau sedang duduk di depan meja kayu. Di tangannya ada kacamata baca dan sebuah buku tua. Cahaya matahari masuk dari jendela, menerangi wajahnya yang mulai dipenuhi keriput.

Aku meletakkan nampan.

"Buahnya, Ndara."

"Nggih."

Saat hendak keluar, beliau memanggilku.

"Ratri."

Lihat selengkapnya