Rumah itu masih berdiri tegak. Dindingnya tidak berubah. Pendapanya tetap dipel hingga mengilap. Bunga melati tetap ditaburkan setiap pagi. Dari luar, siapa pun akan mengira rumah ini penuh ketenteraman. Hanya orang-orang yang tinggal di dalamnya yang tahu, ketenangan sering kali hanyalah cara lain untuk menyembunyikan luka.
Sejak menerima buku dari Ndara Kakung, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang. Buku itu kusimpan di bawah tikar. Setiap malam kubuka kembali. Bukan karena kamus bahasa Belandanya. Melainkan karena secarik kertas bertuliskan "Maafkan aku."
Kalimat itu terus mengejarku. Maaf untuk siapa? Maaf karena apa?
Pagi itu aku membawa buku itu ke halaman belakang. Aku duduk di bawah pohon sawo kecik sambil membalik halaman demi halaman. Di sela sampul belakang, aku menemukan satu hal yang belum pernah kulihat. Sebuah cap kecil berbentuk bunga melati. Di bawahnya tertulis dua huruf. L. S. Aku mengernyit. Lasmi Surati. Itu nama lengkap Ibu.
Dadaku mendadak berdebar. Mengapa buku milik keluarga itu pernah berada di tangan Ibu? Belum sempat pikiranku menyusun jawaban, seseorang merebut buku itu dari tanganku.
"Ibu!"
Lasmi berdiri di depanku. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam buku itu begitu erat hingga buku tua itu sedikit terlipat.
"Dari mana kamu dapat ini?"
"Dari Ndara Kakung."
Ibu memejamkan mata. Seolah jawaban itu justru paling ditakutinya.
"Kenapa Ibu begitu panik?"
"Tidak ada."
"Itu ada nama Ibu."
Lasmi tidak menjawab. Ia membalik halaman pertama. Mengusap pelan tulisan yang mulai pudar. Tangannya gemetar.
"Lalu?" tanyaku. "Ibu pernah membaca buku ini?"
Lama sekali ia diam. Kemudian ia mengangguk.