Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #19

Surat yang Tak Pernah Sampai

Sejak bertengkar dengan Ibu, kami lebih sering berbicara seperlunya. Ia tetap menyiapkan sarapan. Aku tetap membantu mencuci piring. Kami masih duduk di tikar yang sama setiap malam. Namun ada sesuatu yang berubah. Kata-kata kami menjadi pendek. Pandangan kami saling menghindar. Rumah itu berhasil melakukan apa yang paling pandai ia lakukan: membuat orang yang saling menyayangi hidup dalam diam.

Pagi itu Nyai memintaku membersihkan loteng kecil di belakang ruang baca. Katanya, beberapa peti tua harus dibersihkan sebelum musim hujan benar-benar datang. Aku membawa sapu lidi dan kain lap. Tangga kayunya berderit setiap kali kupijak. Debu beterbangan saat pintu loteng dibuka. Bau kayu tua dan kertas lembap memenuhi udara.

Di sudut ruangan berdiri tiga peti kayu. Dua di antaranya kosong. Yang terakhir masih terkunci, tetapi tutupnya sudah retak. Saat kuangkat perlahan, sebuah amplop kusam menyelip keluar dari celah papan. Aku memungutnya. Kertasnya sudah menguning. Di bagian depan tertulis dengan tinta yang hampir pudar.

Untuk Lasmi.

Jantungku berdegup lebih cepat. Aku melihat ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Dengan jemari gemetar, kubuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada selembar surat. Tulisan tangannya rapi.

Aku sudah meminta izin. Mereka menolak. Katanya, perempuan sepertimu tidak boleh bermimpi terlalu tinggi. Kalau suatu hari kau memilih pergi, jangan menungguku. Aku tidak ingin hidupmu ikut hancur karena namaku.

Tidak ada nama pengirim. Hanya sebuah inisial. S. Aku membaca surat itu berkali-kali. Dadaku sesak. Selama ini aku mengira Ibu tidak pernah mencintai siapa pun. Ternyata aku salah. Ia pernah memiliki seseorang. Seseorang yang tidak pernah berhasil bersamanya.

Aku melipat surat itu kembali. Belum sempat kusimpan, suara langkah terdengar dari bawah. Aku buru-buru memasukkan surat itu ke dalam saku. Ibu muncul di ujung tangga.

"Waktunya makan."

Aku mengangguk.

Sepanjang makan siang, aku diam. Sesekali mataku mencuri pandang ke wajah Ibu. Aku mencoba membayangkan dirinya saat masih muda. Apakah ia pernah tertawa lebih sering? Apakah matanya pernah berbinar seperti mata Sekar? Atau sejak awal hidupnya memang hanya berisi kehilangan?

Sore harinya aku menemui Pak Wiryo di kebun.

"Pak."

"Iya, Nduk."

"Apakah Ibu pernah hampir menikah?"

Pak Wiryo membeku. Gunting tanaman di tangannya berhenti bergerak.

Lihat selengkapnya