Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #20

Halaman yang Hilang

Pagi itu rumah terasa lengang. Ndara Kakung pergi ke kota bersama beberapa kerabat. Simbah menghadiri pengajian di desa sebelah. Nyai menemani Ndara Putri yang sejak beberapa hari terakhir lebih sering mengurung diri. Hanya para pembantu yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Aku tahu kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Seusai mencuci piring, aku berjalan pelan menuju ruang penyimpanan. Jantungku berdetak lebih cepat setiap kali mendekati pintu kayu itu. Tanganku berkeringat. Entah karena takut atau karena terlalu berharap.

Pintu itu tidak terkunci. Aku terdiam sesaat. Barangkali seseorang lupa. Atau barangkali rumah ini mulai lelah menyimpan rahasia. Aku masuk perlahan. Ruangan itu masih dipenuhi bau kertas tua dan kayu yang lembap. Cahaya matahari menembus sela jendela kecil, membentuk garis-garis tipis di udara yang penuh debu. Semua tampak sama seperti terakhir kali kulihat. Kecuali satu hal. Buku bersampul hitam itu tidak lagi berada di dalam lemari.

Dadaku langsung mencelos. Aku mencari ke rak sebelah. Lalu ke meja kecil.

 Akhirnya kutemukan buku itu tergeletak di atas peti kayu, seolah baru saja selesai dibaca seseorang. Aku mengangkatnya perlahan. Sampulnya terasa dingin. Debu tipis menempel di jemariku.

Aku membuka halaman pertama. Daftar nama keluarga memenuhi lembar demi lembar. Lahir. Menikah. Meninggal. Semuanya ditulis rapi. Seolah hidup manusia bisa diringkas menjadi beberapa baris tinta. Aku terus membalik halaman. Nama Simbah. Nama Ndara Kakung. Nama Nyai. Nama Mas Bimo. Nama Ndara Putri. Nama Sekar.

Aku berhenti. Ada jarak beberapa lembar sebelum halaman berikutnya. Aneh. Nomor halamannya melompat. Dari dua puluh tiga. Langsung menjadi dua puluh lima. Aku memeriksa pinggir buku. Bekas sobekan itu masih terlihat. Rapi. Sengaja. Seseorang telah mengambil satu halaman dari buku ini. Dan ia ingin tidak ada seorang pun mengetahui bahwa halaman itu pernah ada.

Tanganku gemetar. Apa yang tertulis di sana? Nama siapa yang dihapus? Aku membalik halaman-halaman berikutnya. Tak ada lagi yang janggal. Semua kembali rapi. Terlalu rapi. Seolah luka itu sengaja dijahit agar tak meninggalkan bekas.

"Sedang mencari sesuatu?"

Suara itu membuat darahku serasa berhenti mengalir. Aku menoleh. Pak Wiryo berdiri di depan pintu. Wajahnya tampak letih.

"Bapak mengagetkanku."

Pak Wiryo masuk. Matanya jatuh pada buku di tanganku.

"Lalu akhirnya kamu membukanya."

Aku menunduk.

"Pak."

Lihat selengkapnya