Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #21

Orang di Belakang Foto

Hujan turun sejak dini hari. Atap rumah berdenting pelan. Udara dipenuhi aroma tanah basah dan kayu yang lembap. Para penghuni rumah lebih banyak berdiam di dalam. Dapur menjadi tempat paling ramai. Orang-orang mengobrol sambil mengupas singkong dan menunggu hujan reda.

Aku memilih pergi ke ruang baca. Ruangan itu selalu membuatku tenang. Rak-rak kayu dipenuhi buku yang baunya mengingatkanku pada musim hujan. Di dinding tergantung foto-foto keluarga dalam bingkai hitam. Selama ini aku hanya melihatnya sekilas. Hari itu, entah mengapa, aku ingin memperhatikannya satu per satu.

Aku mendekat. Foto paling tua memperlihatkan pendiri rumah itu. Foto berikutnya menampilkan pernikahan Simbah dan Ndara Kakung. Lalu foto-foto kelahiran. Khitanan. Wisuda. Semua peristiwa penting keluarga dipajang rapi.

Aku berhenti di sebuah foto yang belum pernah benar-benar kulihat. Foto itu diambil di pendapa. Barangkali lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Semua orang mengenakan pakaian terbaik. Ndara Kakung masih tampak muda. Nyai berdiri di sampingnya. Di depan mereka, seorang anak kecil sedang tersenyum. Mungkin Ndara Putri ketika masih balita.

Namun mataku tidak berhenti di sana. Di barisan paling belakang aku melihat seorang perempuan muda. Wajahnya masih sangat belia. Rambutnya dikepang sederhana. Tangannya saling menggenggam di depan tubuh. Aku mengenali wajah itu. Ibu.

Dadaku berdegup. Aku melangkah lebih dekat. Semakin kupandang, semakin aneh rasanya. Ibu tidak berdiri bersama para pembantu lain. Ia berada tepat di belakang Ndara Kakung. Hanya berjarak satu langkah. Posisi yang terlalu dekat. Seolah ia bukan orang asing di rumah itu.

"Sedang melihat apa?"

Aku menoleh. Nyai berdiri di ambang pintu. Aku buru-buru menunjuk foto itu.

"Ini Ibu, ya?"

Nyai memandang bingkai tersebut. Lama sekali.

"Iya."

"Waktu itu Ibu masih muda."

Nyai mengangguk pelan.

"Masih seusiamu."

Aku kembali melihat foto itu.

Lihat selengkapnya