Sejak menemukan foto kecil itu, aku menyimpannya di balik lipatan kain di bawah tikar. Beberapa kali aku ingin membuangnya. Namun setiap kali hendak kulakukan, wajah Ibu muncul di kepalaku. Wajah yang pucat. Wajah yang kehilangan warna hanya karena melihat selembar foto lama.
Aku tahu foto itu penting. Yang belum kutahu adala penting bagi siapa.
Pagi itu rumah kembali sibuk. Persiapan pernikahan Ndara Putri semakin dekat. Tukang dekor datang membawa rangkaian janur. Perempuan-perempuan di dapur sibuk membuat jadah dan wajik. Dari pendapa terdengar suara gamelan yang dimainkan perlahan.
Semua tampak meriah. Namun di balik kemeriahan itu, wajah Ibu semakin muram. Ia lebih banyak diam. Bahkan ketika Sekar mengajaknya berbincang, ia hanya tersenyum sekilas. Aku mulai merasa sesuatu sedang menunggu untuk terjadi.
Menjelang sore, Nyai memintaku mengantar teh ke ruang kerja Ndara Kakung. Aku membawa nampan dengan hati-hati. Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Aku hendak mengetuk. Namun suara dari dalam membuat tanganku berhenti.
"Dia mulai mencari."
Itu suara Ibu.
"Aku tahu."
Suara Ndara Kakung terdengar pelan.
"Kita harus menghentikannya."
Dadaku menegang. Mereka sedang membicarakan siapa?
"Dia berhak tahu."
Suara Ibu kali ini bergetar.
"Bukan sekarang."
"Kalau terus ditunda." Ibu menarik napas panjang. "Suatu hari dia akan membenci kita."
Sunyi.