Sejak mendengar percakapan Ibu dan Ndara Kakung, tidurku semakin pendek. Setiap malam aku terbangun sebelum ayam berkokok. Aku duduk di depan jendela gandhok, memandangi rumah besar yang masih gelap. Di dalam kesunyian itu, aku mulai percaya bahwa rumah juga bisa berjaga. Ia tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu siapa yang cukup berani membuka pintu yang salah.
Pagi itu udara terasa pengap. Awan menggantung rendah. Burung-burung yang biasanya ramai justru diam. Bahkan suara lesung di dapur terdengar pelan. Entah mengapa, sejak membuka buku silsilah dan menemukan foto-foto lama, setiap langkahku terasa diawasi.
Saat hendak mengambil sapu di gudang belakang, aku berhenti. Kotak kayu yang pernah kulihat di tangan Ibu sudah terbuka. Tutupnya tergeletak di lantai. Isinya berantakan. Kain putih itu masih ada. Namun kertas-kertas yang dulu kulihat telah hilang. Dadaku langsung berdebar. Aku memeriksa seluruh isi kotak. Kosong. Seseorang telah mengambil semua suratnya.
"Sedang mencari itu?"
Aku menoleh cepat. Simbok Darmi berdiri di pintu. Wajahnya tampak lebih tua pagi itu.
"Surat-suratnya hilang."
Ia mengangguk pelan.
"Semalam."
"Siapa yang mengambil?"
Simbok Darmi menggeleng.
"Di rumah ini." Ia menarik napas panjang. "Tidak semua pencuri ingin memiliki."
"Lalu?"
"Ada yang mencuri supaya orang lain tidak pernah menemukan."
Aku terdiam. Kalimat itu membuat tengkukku meremang.
Menjelang siang, suasana rumah mendadak berubah. Ndara Kakung memanggil semua pembantu ke pendapa. Kami berdiri berjajar. Tak seorang pun berani berbicara. Beliau memandang kami satu per satu. Tatapannya tenang. Namun kali ini terasa lebih berat.