Pagi itu langit berwarna kelabu. Matahari muncul malu-malu di balik awan. Halaman rumah masih basah oleh hujan semalam. Daun-daun mangga berguguran memenuhi tanah. Aku menyapu pelan, tetapi pikiranku masih tertinggal pada secarik kertas yang kutemukan di ruang baca.
Berhentilah mencari.
Semakin kupikirkan, semakin aku yakin.Kalimat itu bukan ancaman.Kalimat itu adalah permohonan. Namun aku belum tahu permohonan dari siapa.
Menjelang siang, Nyai memanggilku ke dapur utama.
"Ratri."
"Inggih, Nyai."
"Tolong antar bubur ini."
"Untuk siapa?"
Nyai diam beberapa saat.
"Untuk Ndara Putri."
Aku membawa nampan menuju kamar di ujung lorong. Pintu terbuka sedikit. Ndara Putri sedang duduk menghadap jendela. Rambutnya terurai. Wajahnya jauh lebih pucat daripada beberapa minggu lalu.
Ia menoleh saat aku masuk.
"Taruh saja di meja."
Aku menurut. Saat hendak pergi, ia berkata pelan, "Ratri."
Aku berhenti.
"Kamu pernah ingin pergi dari rumah?"
Pertanyaan itu mengejutkanku.
"Sering."
Ia tersenyum tipis.
"Aku juga."
Aku menatapnya.