Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #26

Ruang Kosong

Kunci itu kusimpan di dalam saku baju. Beratnya tidak seberapa. Namun setiap kali melangkah, aku merasa sedang membawa seluruh isi rumah di dalam genggaman. Pak Wiryo tidak mengatakan pintu mana yang harus kubuka. Ia hanya memberiku kunci, lalu pergi tanpa menoleh.

Aku menunggu malam. Rumah selalu lebih jujur ketika semua orang tidur. Selepas lampu-lampu dipadamkan, aku keluar dari gandhok. Udara dingin menusuk kulit. Bulan separuh menggantung di atas pohon sawo kecik. Bayangan pendapa memanjang hingga halaman. Aku berjalan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Lorong belakang terasa lebih gelap daripada biasanya. Aku mengingat semua pintu yang pernah kulihat.

Gudang.

Ruang penyimpanan.

Lumbung.

Tak satu pun cocok dengan bentuk kunci di tanganku. Aku hampir menyerah ketika melihat sebuah pintu kecil di balik rak tempayan tua. Selama bertahun-tahun pintu itu tertutup lemari kayu. Mungkin karena itulah aku tidak pernah menyadarinya. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Kuncinya pas. Bunyi logam beradu terdengar lirih.

Klik.

Pintu terbuka. Bau kayu tua langsung menyergap wajahku. Aku mengangkat lampu minyak lebih tinggi. Ruangan itu sempit. Tidak ada jendela. Hanya rak-rak kosong. Beberapa peti tua. Dan debu yang menebal di setiap sudut.

Aku melangkah masuk. Semakin jauh. Semakin terasa aneh. Kalau memang ruangan ini begitu penting, mengapa isinya hampir tidak ada?

Aku membuka peti pertama.

Kosong.

Lihat selengkapnya