Sejak Ibu pergi, rumah itu terasa lebih luas. Lorong-lorongnya memanjang. Pendapanya semakin dingin. Bahkan suara langkahku terdengar asing di telingaku sendiri. Tidak ada yang mengatakan aku harus pergi. Namun untuk pertama kalinya, aku merasa rumah ini tidak lagi menganggapku bagian darinya.
Orang-orang mulai berbicara pelan setiap kali aku lewat. Mereka berhenti ketika aku mendekat. Mereka tersenyum, tetapi senyum itu cepat menghilang. Aku mencoba berpura-pura tidak melihatnya. Padahal setiap tatapan yang mereka sembunyikan terasa lebih tajam daripada kata-kata.
Sekar datang menemuiku menjelang sore. Ia membawa dua cangkir teh hangat. Kami duduk di serambi gandhok tanpa banyak bicara. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah yang lembap. Angin menggoyangkan daun sawo hingga beberapa helai jatuh ke halaman.
"Aku kangen Mbok Lasmi," katanya pelan.
Aku hanya mengangguk.
"Romo juga berubah."
Aku menoleh.
"Berubah bagaimana?"
"Beliau lebih sering diam."
Sekar menatap cangkirnya.
"Semalam aku mendengar beliau menangis."
Aku membeku.
"Ndara Kakung?"
Sekar mengangguk.
"Seumur hidupku, baru sekali itu."
Dadaku terasa penuh. Aku ingin marah kepada laki-laki itu. Namun bayangan seorang lelaki tua yang menangis sendirian justru membuat kemarahanku kehilangan bentuk.
Menjelang magrib aku berjalan ke halaman belakang. Pohon sawo kecik berdiri seperti biasa. Di bawahnya masih ada ayunan kayu tua yang mulai lapuk. Tali pengikatnya telah kusam dimakan hujan dan panas. Aku tidak ingat kapan terakhir kali ada yang menggunakannya.
Aku duduk di atas ayunan itu. Pelan. Kayunya berderit. Suara kecil yang terasa akrab. Tiba-tiba Simbok Darmi datang membawa seikat daun kering.
"Lama tidak ada yang duduk di situ."
Aku menoleh.