Rumah ini ternyata pandai menyimpan jejak. Bukan di dalam lemari. Bukan di balik peti kayu. Melainkan pada benda-benda yang setiap hari dilewati orang. Benda yang terlihat biasa karena terlalu sering dilihat. Setelah Ibu pergi, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tak pernah kupedulikan. Retakan dinding. Bau kayu jati. Bekas paku di pendapa. Semuanya seperti sedang mencoba bercerita.
Pagi itu aku membersihkan ruang tengah. Nyai memintaku mengelap kusen-kusen pintu yang mulai kusam. Katanya, tamu akan berdatangan. Aku membawa kain basah dan ember kecil. Pekerjaan itu sederhana. Sampai tanganku berhenti pada salah satu kusen.
Di sana ada banyak garis. Pendek. Panjang. Berjajar ke atas. Di samping setiap garis tertulis tahun. Dan nama Sekar. Tahun berikutnya. Sekar. Lalu tahun berikutnya lagi. Sekar.
Aku tersenyum. Rupanya setiap tahun tinggi badan Sekar selalu diukur di tempat ini. Namun beberapa garis di bawahnya membuatku mengernyit. Tidak ada nama. Hanya satu huruf.
R.
Aku mengusapnya pelan. Ukiran itu lebih tua daripada garis milik Sekar. Kayunya sudah menggelap dimakan usia. Aku menelusuri garis berikutnya. Ada lagi.
R.
Lebih tinggi. Lalu satu lagi. Masih huruf yang sama. Jantungku berdetak pelan. Aku menghitung jaraknya. Tiga tahun berturut-turut. Seseorang pernah mengukur tinggi badan anak bernama R. Tetapi mengapa hanya inisial? Dan mengapa setelah itu tidak ada lagi?
"Sedang apa?"
Suara Nyai membuatku tersentak. Aku menunjuk kusen itu.
"Ini siapa?"
Nyai mendekat. Begitu melihat huruf-huruf itu, wajahnya berubah. Sangat cepat. Hampir tak terlihat. Namun aku sempat menangkapnya. Beliau mengenal ukiran itu.
"Sudah tua." Katanya singkat.
"Lalu?"
"Sudah tidak penting."
Aku menatapnya.