Sejak menemukan garis-garis di kusen pintu, pikiranku tak pernah tenang. Huruf R itu terus mengikutiku. Siapa pun anak itu, rumah ini pernah mengingatnya. Lalu seseorang memutuskan untuk melupakannya.
Sore itu, ketika sedang menyapu pendapa, Ndara Kakung memanggilku.
"Ratri."
Aku menghentikan sapu.
"Inggih, Ndara."
"Duduklah."
Aku terkejut. Selama ini aku selalu berdiri setiap kali berbicara dengan beliau. Hari itu beliau justru menyuruhku duduk di anak tangga pendapa. Beliau sendiri duduk di kursi rotan tua.
"Masih marah kepadaku?" tanya beliau pelan.
Aku tidak langsung menjawab.
“Tidak tahu."
"Itu jawaban yang jujur."
Beliau tersenyum tipis. Senyum yang cepat sekali hilang. Beberapa saat kami sama-sama diam. Lalu beliau berkata,
"Waktu seumurmu." Tatapannya lurus ke halaman. "Aku mengira menjadi laki-laki berarti harus selalu benar."
Angin sore menggerakkan ujung janur.
"Ternyata?" tanyaku.
"Ternyata."