Sejak menemukan manik tasbih, aku tidak lagi tidur nyenyak. Setiap memejamkan mata, bayangan Ndara Kakung, Ibu, dan huruf R di kusen pintu datang silih berganti. Semua petunjuk terasa saling berkaitan. Hanya satu simpul yang belum berhasil kutemukan.
Sore itu Simbok Darmi sedang duduk di belakang dapur. Tangannya mengupas kelapa tua. Gerakannya lambat. Tidak seperti biasanya. Aku duduk di sampingnya. Tidak langsung bertanya. Kami hanya mendengar suara pisau yang menggesek tempurung.
"Capek ya, Mbok."
Ia tersenyum tipis.
"Capek itu biasa."
"Lalu apa yang tidak biasa?"
Ia berhenti mengupas.
"Menunggu."
Aku menoleh.
"Menunggu apa?"
"Menunggu keberanian."
Jawaban itu membuatku tercekat. Aku menarik napas panjang.
"Mbok." Aku menggenggam manik kayu di dalam saku. "Aku sudah terlalu jauh."
Simbok Darmi mengangguk pelan.
"Iya."
"Semua orang menyuruhku berhenti."
"Karena mereka takut."
"Takut pada apa?"
Ia memandang rumah utama.
"Takut rumah ini kehilangan wajahnya."
Aku menggeleng.
"Aku tidak mengerti."
Simbok Darmi meletakkan pisau. Lalu menatapku lurus-lurus.
"Kamu selama ini mencari siapa yang bersalah."
Aku mengangguk.