Malam datang bersama gerimis. Rumah yang sejak pagi dipenuhi tamu akhirnya mulai sunyi. Lampu-lampu di pendapa masih menyala. Aroma melati memenuhi halaman. Aku justru tidak bisa memejamkan mata. Ucapan Simbok Darmi terus terngiang.
"Besok malam, pergilah ke pohon sawo kecik."
Aku melangkah pelan menuju halaman. Tanah masih basah. Daun-daun sawo meneteskan air hujan. Ayunan tua bergoyang pelan diterpa angin. Tidak ada siapa-siapa. Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Hampir aku memutuskan kembali ketika terdengar langkah kaki. Simbok Darmi datang. Membawa cangkul kecil di tangannya.
"Mbok."
Ia mengangguk.
"Lampunya."
Aku mengangkat lampu minyak lebih tinggi. Kami berdiri tepat di bawah pohon sawo kecik. Simbok Darmi menusukkan cangkul ke tanah.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tanah yang basah mudah terbuka.
Aku ikut membantu dengan tangan. Lumpur masuk ke sela kuku. Tak lama kemudian jemariku menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah kotak kayu. Ukurannya tidak besar. Tutupnya sudah mulai lapuk. Aku mengangkatnya perlahan. Jantungku berdetak begitu keras hingga tanganku ikut bergetar.
"Ini."
Suaraku nyaris hilang. Simbok Darmi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Kubuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada emas. Tidak ada uang. Hanya beberapa lembar kain bayi. Sepasang sepatu kecil. Dan sebuah selendang lusuh. Aku mengangkat selendang itu. Seketika Simbok Darmi menangis.
"Itu milik Lasmi."
Aku memandangnya.
"Kenapa dikubur?"
Karena." Ia mengusap air matanya. "Dia ingin mengubur hidupnya sendiri."
Dadaku terasa sesak. Di dasar kotak ada buku kecil bersampul cokelat. Aku membukanya. Tulisan tangan Ibu.
Halaman pertama bertanggal dua puluh lima tahun lalu.