Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #32

Aku Pergi

Aku, Lasmi.

Aku tidak sedang melarikan diri. Kalau ingin lari, seharusnya kulakukan itu belasan tahun yang lalu. Saat perutku mulai membesar. Saat orang-orang mulai menatapku dengan mata penuh tanya. Saat setiap langkahku terasa seperti membawa aib keluarga di atas kepala. Namun aku tetap tinggal. Tinggal adalah hukuman yang kupilih sendiri.

Pagi itu, sebelum azan Subuh berkumandang, aku menutup pintu gandhok tanpa suara. Kupandangi ruangan kecil yang telah menjadi rumahku selama lebih dari sepuluh tahun. Dindingnya masih sama. Tikar pandan yang mulai usang masih terhampar di sudut. Lemari kayu pemberian almarhum Simbok Darmi masih berdiri, meski pintunya tak lagi rapat. Di ruangan inilah Ratri belajar berjalan, menangis karena demam, tertawa bersama Sekar, lalu tumbuh menjadi perempuan yang terlalu sering memendam pertanyaan.

Aku mengusap kusen pintu. Di sana masih ada guratan-guratan kecil yang kubuat diam-diam setiap kali tinggi badan Ratri bertambah. Aku selalu melakukannya saat rumah telah tidur. Tak seorang pun tahu. Seorang ibu selalu mencari cara untuk menyimpan kenangan, bahkan ketika ia tak memiliki apa-apa selain sepetak kamar di belakang rumah orang lain.

Rumah itu masih gelap. Pendapa yang megah tampak seperti raksasa yang sedang terlelap. Pohon sawo kecik berdiri tanpa bergerak. Ayunan kayu yang dulu sering dinaiki Ratri dan Sekar hanya bergoyang pelan diterpa angin dini hari. Semua terlihat tenang. Padahal aku tahu, rumah itu sudah lama kehilangan kedamaiannya.

Aku membawa tas kain kecil. Isinya hanya sepasang pakaian, sebuah buku doa yang sampulnya mulai pudar, dan amplop cokelat yang kusimpan selama bertahun-tahun. Amplop itu belum pernah kubuka lagi sejak malam ketika seseorang memintaku merahasiakan segala sesuatu yang tertulis di dalamnya.

Hari ini, rahasia itu harus menemukan pemiliknya. Aku melangkah keluar melalui pintu samping. Tidak ada yang melihat. Memang begitulah nasib seorang pembantu. Datang tanpa disambut. Pergi tanpa dicari. Bertahun-tahun aku hidup di rumah itu, tetapi kehadiran dan kepergianku tak pernah dianggap penting. Yang penting hanyalah pekerjaan selesai dan nama baik keluarga tetap utuh.

Lihat selengkapnya