Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #33

Pintu Samping

Aku masih Lasmi.

Lima belas tahun yang lalu

Orang-orang mengira aku pergi. Padahal, yang benar adalah aku sedang pulang.

 Pulang kepada ingatan yang selama bertahun-tahun kusimpan rapat seperti kendi retak yang kutakutkan pecah di tangan siapa pun.

Sebelum Ratri mengetahui siapa dia sebenarnya, biarlah aku bercerita. Sebab ada kisah yang hanya bisa dipahami dari mata perempuan yang menjalaninya.

Aku tiba di rumah itu pada suatu pagi ketika embun masih menggantung di pucuk daun sawo kecik. Usiaku delapan belas tahun. Bapak telah lama meninggal. Sawah kami dijual untuk biaya berobat yang tak pernah cukup menyelamatkan siapa pun. Ibu berkata, bekerja di rumah ningrat lebih baik daripada melihatku menikah tergesa-gesa dengan lelaki yang bahkan tak mampu menghidupi dirinya sendiri.

Aku menurut. Perempuan sepertiku memang lebih sering hidup dari kata menurut daripada kata memilih.

Rumah itu berdiri anggun di balik pagar kayu jati. Pendapanya luas. Tiang-tiangnya menjulang. Lantainya dingin. Angin yang melintas pun seolah tahu kapan harus pelan dan kapan harus diam. Simbok Darmi membawaku melewati jalan samping. Bukan lewat pendapa. Bukan lewat pintu utama. Melainkan lewat pintu belakang yang langsung menghadap gandhok.

Lihat selengkapnya