Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #34

Menyeberangi Batas

Ini ceritaku, cerita Lasmi.

Tahun ketiga aku bekerja di rumah itu, aku hafal hampir semua bunyinya.

 Aku tahu suara pintu gudang yang selalu berderit saat dibuka terlalu keras. Aku tahu lantai kayu di depan ruang kerja yang berbunyi pelan setiap kali diinjak. Aku tahu kapan Nyai sedang marah hanya dari cara beliau meletakkan cangkir teh. Aku bahkan hafal jam berapa matahari akan menyentuh pohon sawo kecik di halaman belakang.

Rumah itu perlahan menjadi bagian dari tubuhku. Aku bangun sebelum ayam berkokok. Menyapu pendapa. Menimba air. Menyiapkan sarapan. Menyiram bunga. Menjelang siang membantu di dapur. Menjelang sore membersihkan ruang tamu. Hari-hariku berulang seperti jarum jam. Sama. Rapi. Nyaris tanpa kejutan.

Nyai mulai mempercayaiku. Beliau jarang lagi memeriksa pekerjaanku. Kadang beliau hanya berkata, "Lasmi, tolong siapkan teh untuk Ndara Kakung."

Aku mengangguk. Sejak itu aku lebih sering keluar masuk ruang kerja.

Ruangan itu berbeda dari ruang lain di rumah. Dindingnya dipenuhi buku. Meja kayunya selalu rapi. Aroma kopi bercampur bau kertas tua memenuhi udara. Ndara Kakung sering duduk membaca atau menulis surat. Beliau tidak banyak bicara. Kadang hanya mengucapkan terima kasih ketika aku meletakkan teh di meja.

Kadang bertanya, "Ibumu sehat?"

Aku menjawab singkat. "Alhamdulillah."

Lalu kembali bekerja. Semula semua terasa biasa. Sampai suatu sore hujan turun tanpa jeda. Aku masuk membawa teh hangat. Beliau sedang berdiri di dekat jendela.

Lihat selengkapnya