Lasmi
Aku tidak ingat kapan tepatnya batas itu benar-benar hilang. Mungkin bukan pada hari ketika beliau menggenggam tanganku. Mungkin jauh sebelum itu. Barangkali sejak aku mulai menunggu suara langkahnya setiap sore. Atau sejak beliau mulai memanggil namaku tanpa menyebut kata Lasmi dengan jarak seorang majikan kepada pembantunya.
Semuanya terjadi pelan. Pelan sekali. Seperti hujan yang mula-mula hanya membasahi ujung daun, lalu tanpa terasa telah memenuhi sungai.
Hari itu Nyai pergi ke rumah orang tuanya. Rumah mendadak lengang. Aku sedang membereskan ruang kerja ketika Ndara Kakung masuk. Beliau tidak segera duduk. Hanya berdiri di dekat pintu.
"Lelah?"
Aku menggeleng.
"Sudah biasa."
Beliau tersenyum tipis.
"Sudah berapa tahun kamu di sini?"
"Empat tahun."
"Waktu cepat sekali."
Aku tidak menjawab. Keheningan memenuhi ruangan. Di luar, hujan mulai turun. Deras. Aku hendak keluar membawa baki.