Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #36

Kelahiran

Lasmi

Orang bilang setiap kelahiran membawa kabar baik. Aku pernah mempercayainya. Sampai bulan itu datang. Rumah dipenuhi bau minyak telon dan rebusan daun sirih. Para tetangga hilir mudik membawa doa. Di pendapa, orang-orang mengucapkan selamat. Di dapur, para pembantu memasak tanpa sempat mengusap keringat. Nyai melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Namanya Sekar. Tangisnya nyaring. Semua orang tersenyum.

Ndara Kakung menggendongnya dengan mata yang berbinar. Nyai memeluk putrinya lama sekali, seolah seluruh luka selama mengandung telah lunas dibayar oleh satu tangis kecil itu. Rumah besar itu kembali dipenuhi tawa. Aku ikut tersenyum. Sambil menahan mual yang semakin sering datang. Tak seorang pun bertanya mengapa wajahku semakin pucat. Mereka mengira aku hanya kelelahan. Aku membiarkan mereka percaya pada dugaan yang paling mudah.

Hanya Simbok Darmi yang mengerti. Suatu malam, ketika semua orang telah tidur, beliau menggenggam pergelangan tanganku.

"Sudah berapa bulan?"

Aku menangis. Tak sanggup menjawab. Simbok Darmi tidak bertanya lagi. Perempuan tua itu hanya memelukku. Pelukannya hangat. Hangat yang membuatku semakin sadar bahwa hidupku tak akan pernah sama lagi.

***

Sekar belum genap satu bulan ketika perutku tak lagi bisa disembunyikan. Rumah yang selama ini pandai menyimpan suara akhirnya dipenuhi bisik-bisik. Tidak ada yang berani bertanya langsung. Tetapi semua mata mulai menghitung. Menghitung usia kandungan. Menghitung hari. Menghitung kemungkinan. Lalu berhenti pada satu nama yang tak pernah diucapkan. Ndara Kakung.

***

Lihat selengkapnya