Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #38

Ingatan Patah

Lasmi

Aku pernah mengira rahasia bisa disimpan selamanya. Ternyata tidak. Rahasia hanya menunggu malam yang tepat untuk pecah. Malam itu angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Hujan baru saja berhenti. Bau tanah basah memenuhi halaman. Rumah telah tidur. Lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu. Hanya lampu minyak di ruang tengah yang masih menyala redup.

Aku baru saja menidurkan Ratri. Usianya lima tahun. Ia tidur sambil memeluk boneka kain yang kubuat dari sisa kebaya bekas. Baru saja aku hendak memejamkan mata ketika terdengar suara Simbok Darmi mengetuk pintu gandhok.

"Lasmi."

Suara beliau bergetar.

"Nyai memanggil."

Dadaku langsung sesak. Aku mengikuti Simbok Darmi menuju rumah utama. Setiap langkah terasa lebih berat daripada langkah sebelumnya. Di ruang tengah, Nyai sudah berdiri. Beliau masih mengenakan baju tidur. Rambutnya terurai. Wajahnya pucat. Tetapi sorot matanya tajam seperti mata pisau.

Ndara Kakung berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tak ada seorang pun yang berani duduk.

"Aku sudah cukup lama diam."

Suara Nyai pelan. Justru karena pelan, setiap katanya terasa lebih menyakitkan.

"Aku mencoba memaafkan."

Beliau menatapku.

"Aku mencoba menganggap semua ini sudah selesai."

Air mata mulai memenuhi matanya.

"Tapi setiap kali melihat anakmu."

Beliau menarik napas panjang.

"Aku selalu diingatkan bahwa suamiku memilih mengkhianatiku di rumah yang kubangun sendiri."

Aku menunduk. Tak ada satu kalimat pun yang mampu kubela. Aku memang bersalah. Namun rasa bersalah ternyata tidak membuat luka orang lain menjadi lebih ringan.

"Ampuni saya, Nyai."

Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

Lihat selengkapnya