Beberapa tahun berlalu sejak malam Ratri kehilangan sebagian ingatannya. Rumah itu kembali tampak tenang. Sekar dan Ratri tumbuh semakin besar. Nyai kembali mengurus rumah seperti biasa. Ndara Kakung lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Orang-orang kampung mengira badai telah lama berlalu. Padahal, rumah yang pandai menyembunyikan luka hanya tampak tenang dari luar.
Sri datang pada awal musim kemarau. Usianya mungkin baru tujuh belas tahun. Tubuhnya kecil. Kulitnya sawo matang. Setiap kali berbicara, kepalanya selalu tertunduk. Ia mengingatkanku pada diriku sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu. Aku yang mengajarinya bekerja. Cara melipat kain batik. Cara menyeduh teh untuk tamu. Cara berjalan melewati pendapa tanpa menimbulkan suara. Dan satu nasihat yang tak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
"Kalau pekerjaanmu sudah selesai, jangan lama-lama berada sendirian di rumah utama."
Sri mengangguk.
"Mengapa, Mbok?"
Aku terdiam. Aku tidak menemukan jawaban yang sanggup melindunginya.
"Hanya ingat saja."
Hari-hari pertama berjalan baik. Sri cekatan. Nyai menyukainya. Sekar dan Ratri pun cepat akrab dengannya. Tawanya yang renyah membuat dapur terasa lebih hidup.
Aku mulai percaya, mungkin rumah ini akhirnya belajar menjadi tempat yang lebih baik.
Aku salah.
Suatu siang Nyai pergi menghadiri selamatan di rumah saudara. Aku sedang menjemur pakaian di belakang gandhok ketika Ndara Kakung memanggil.
"Sri."
"Iya, Ndara."
"Tolong antarkan teh ke ruang kerja."
Sri mengangkat nampan. Lalu menghilang di balik pintu. Aku kembali menjemur pakaian. Tetapi entah mengapa, jemariku mendadak gemetar. Aku mengenal jalan itu. Aku mengenal pintu itu. Dan aku mengenal kesunyian yang sering lahir di dalamnya.