Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #40

Jalan Pulang

Lasmi

Aku menghilang selama tujuh hari. Tujuh hari yang terasa lebih panjang daripada tujuh belas tahun. Aku tidak pergi jauh. Hanya ke rumah bibiku di lereng gunung. Rumah kayu yang dindingnya mulai dimakan rayap. Halamannya sempit. Di belakangnya mengalir sungai kecil yang suaranya tak pernah berhenti, bahkan ketika semua orang memilih diam.

Bibiku tidak banyak bertanya. Beliau hanya menyiapkan tikar, sepiring nasi hangat, dan segelas teh.

"Kalau ingin bercerita, berceritalah."

"Kalau belum sanggup, tidak apa-apa."

Aku memilih diam. Sudah terlalu lama aku hidup bersama diam. Kupikir diam bisa melindungi semua orang. Ternyata diam hanya membuat luka tumbuh lebih dalam. Setiap pagi aku duduk di tepi sungai. Melihat air mengalir tanpa pernah kembali ke hulunya. Aku ingin seperti air. Pergi. Melupakan. Tetapi ingatan tidak pernah belajar mengalir. Ia menetap. Berdiam di tempat-tempat yang bahkan sudah lama kutinggalkan.

Aku teringat hari pertama datang ke rumah itu. Aku teringat malam ketika Ratri lahir. Aku teringat Sekar yang tertidur di pangkuanku. Aku teringat Sri yang menangis di gudang. Aku teringat wajah Nyai pada malam rumah itu pecah. Lalu aku teringat Ratri. Anakku. Entah sedang menangis. Entah sedang marah. Entah sedang mencariku. Dadaku kembali sesak.

Aku membuka tas kain yang kubawa. Isinya tidak banyak. Beberapa helai pakaian. Selembar kain bedong yang dulu membungkus tubuh Ratri. Dan sebuah foto yang mulai pudar. Di foto itu, Ratri dan Sekar duduk berdampingan di bawah pohon sawo kecik. Mereka tertawa ke arah kamera. Tidak ada yang bisa menebak bahwa salah satu dari mereka adalah anak majikan, sementara yang lain tumbuh di gandhok. Anak-anak memang tidak pernah menciptakan batas. Orang dewasalah yang sibuk membangunnya.

Aku mengusap foto itu pelan. Air mataku jatuh di atas wajah Ratri.

Lihat selengkapnya