Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #41

Ziarah

Ratri, 40 tahun kemudian

Empat puluh tahun ternyata cukup lama untuk mengubah wajah seseorang. Tidak cukup lama untuk menghapus sebuah rumah. Siang itu kututup toko bukuku lebih awal. Bel kecil di atas pintu berdenting pelan ketika pelanggan terakhir melangkah keluar. Di etalase depan, novel terbaruku berdiri di antara buku-buku lain. Orang-orang mengenalku sebagai penulis. Mereka membaca kisah-kisah yang kutulis, tetapi tak pernah tahu bahwa setiap rumah dalam novelku selalu lahir dari satu rumah yang sama. Rumah yang membesarkanku. Rumah yang juga menyimpan rahasia paling panjang dalam hidupku.

Aku mengambil tas dan mengunci pintu. Hari itu aku mempunyai janji. Janji yang tak pernah ingin kulewatkan.

Sekar datang hampir bersamaan dengan mobilku berhenti di depan warung soto langganan kami. Rambutnya mulai dipenuhi uban tipis. Wajahnya masih seteduh yang kuingat. Ia kini menjadi dosen, mengajar mahasiswa yang mungkin seusia kami ketika pertama kali belajar bahwa hidup tidak selalu adil. Kami saling tersenyum.

"Lama menunggu?"

"Baru sebentar."

Padahal kami sama-sama tahu, kami telah menunggu hari seperti ini hampir sepanjang hidup. Kami memilih duduk di pojok. Memesan dua mangkuk soto. Seperti dulu.

Kami mengenang Simbok Darmi yang selalu menyelipkan singkong rebus ke tangan kami. Mengenang pohon sawo kecik yang menjadi tempat persembunyian setiap kali bermain petak umpet. Mengenang gandhok yang sempit, tetapi selalu terasa hangat karena di sanalah Ibu menungguku setiap sore.

Tidak ada lagi kalimat yang kami hindari. Tidak ada lagi rahasia yang kami sembunyikan. Yang tersisa hanyalah kenangan. Dan penerimaan.

Setelah makan, Sekar berdiri lebih dulu.

"Ayo."

Aku mengangguk.

Lihat selengkapnya