Gunung selalu membuat orang berbicara lebih pelan. Barangkali karena manusia sadar, di hadapan sesuatu yang lebih tua darinya, suara tidak pernah benar-benar berarti.
Aku memarkir mobil di halaman sebuah rumah kecil yang menghadap lereng. Dindingnya sedikit kusam. Halamannya dipenuhi bunga kenikir dan beberapa pot anggrek yang digantung di teras. Di samping rumah, pohon kopi tumbuh rimbun. Angin membawa aroma tanah basah yang mengingatkanku pada masa kecil. Di sinilah Mas Bimo menghabiskan masa pensiunnya.
Aku berdiri cukup lama di depan pagar bambu. Entah mengapa, jantungku berdegup seperti anak kecil yang hendak menghadap guru. Sudah berkali-kali kami bertemu sejak semua rahasia itu terbuka. Tetapi ini pertama kalinya aku datang ke rumahnya. Rumah yang dipilihnya sendiri. Rumah yang jauh dari pendapa. Jauh dari gandhok. Jauh dari segala yang pernah melukainya.
Seorang lelaki tua membuka pintu. Rambutnya telah memutih hampir seluruhnya. Tubuhnya tetap tegap. Namun sorot matanya sedikit layu. Terasa teduh. Hangat. Dan selalu menyimpan sesuatu yang tak selesai diucapkan.
"Mas."
Ia tersenyum kecil.
"Akhirnya jadi juga."
Aku ikut tersenyum.
"Iya."
Hanya itu. Kami sama-sama canggung. Hubungan saudara rupanya tidak langsung lahir hanya karena darah. Ia juga membutuhkan waktu.
Mas Bimo mempersilahkanku masuk. Rumahnya sederhana. Rak-rak buku memenuhi dinding ruang tamu. Sebagian besar buku sejarah, sastra Jawa, dan kitab-kitab agama. Di sudut ruangan berdiri kursi goyang tua. Di atas meja ada teko tanah liat yang masih mengepulkan uap.
"Teh?"
Aku mengangguk. Ia menuangkan teh perlahan.
"Masih pahit."
"Aku memang tidak pernah suka gula."
Aku tertawa kecil.
"Mas ternyata masih sama."
"Kalau yang berubah terlalu banyak, kita sendiri nanti tidak mengenali diri."
Kalimat itu membuat kami sama-sama tersenyum. Kecanggungan perlahan luruh. Kami berbicara tentang banyak hal. Tentang pekerjaanku sebagai penulis. Tentang toko buku yang semakin ramai. Tentang Sekar yang masih sibuk mengajar. Tentang cucu-cucunya yang gemar membaca buku bergambar. Tak sekali pun kami menyebut nama Romo. Seolah nama itu masih terlalu berat untuk diletakkan di meja.
Menjelang siang, Mas Bimo mengajakku berjalan. Kami menyusuri jalan kecil menuju kebun kopi. Kabut tipis mulai turun dari lereng. Burung-burung sesekali melintas rendah.
"Indah, ya."
Aku mengangguk.
"Mas memilih tinggal di sini sejak pensiun?"
"Sejak jauh sebelum pensiun."
Aku menoleh.
"Maksudnya?"
Ia tersenyum tipis.
"Aku sudah meninggalkan rumah itu sejak hari aku menikah."
Kami terus berjalan. Langkahnya pelan. Tetapi suaranya tetap tenang.
"Orang mengira aku pindah karena pekerjaan. Bukan."
"Aku pergi karena kalau terus tinggal di sana, aku bisa membenci Romo lebih dalam."
Aku diam. Ia memungut sehelai daun kopi yang jatuh. Memainkannya di antara jari-jari yang mulai keriput.
"Dulu aku mencintai seseorang."
Aku menatapnya. Baru kali itu Mas Bimo bercerita tentang hidupnya sendiri.
"Namanya Sulastri."
Ia tersenyum. Senyum yang justru tampak lebih sedih daripada tangisan.
"Kami bertemu waktu sekolah."
"Dia perempuan biasa. Bukan ningrat. Bukan anak pejabat. Hanya anak guru. Tapi aku mencintainya."
Angin gunung berembus pelan. Membawa aroma pinus dari kejauhan.
"Aku pulang membawa niat memperkenalkannya kepada Romo."
Mas Bimo tertawa kecil.
"Bodohnya aku. Aku pikir restu orang tua selalu datang untuk anak yang jujur."
Ia berhenti berjalan. Menatap hamparan sawah di bawah bukit.
"Romo bahkan tidak mau mendengar namanya."
"Beliau sudah memilihkan calon istriku."
Aku tak sanggup berkata apa-apa. Mas Bimo melanjutkan.
"Katanya, keluarga seperti kami tidak boleh menikah sembarangan. Perkawinan bukan urusan hati. Melainkan urusan martabat."
Aku menelan ludah. Kalimat itu terasa begitu akrab. Rumah itu memang selalu pandai mengorbankan hati demi nama besar.