Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #43

Epilog

Ada orang yang mengukur hidup dari cincin di jari. Ada yang mengukurnya dari jumlah anak. Ada pula yang mengukurnya dari seberapa lama sebuah pernikahan bertahan. Aku tidak pernah berhasil mengukur hidup dengan cara-cara itu. Ketika usiaku melewati empat puluh tahun, semakin banyak orang bertanya mengapa aku tidak menikah. Awalnya aku menjawab dengan senyum. Lalu dengan bercanda. Lama-lama aku sadar, aku tidak perlu lagi menjelaskan apa pun

Aku pernah jatuh cinta. Lebih dari sekali. Aku juga pernah menerima lamaran. Laki-laki baik. Keluarga baik. Hidup yang mungkin juga akan baik-baik saja. Tetapi setiap kali aku membayangkan masa depan, yang kulihat bukanlah pelaminan. Yang kulihat justru sebuah toko buku kecil. Anak-anak yang duduk lesehan sambil mendengarkan cerita. Naskah-naskah yang belum selesai kutulis. Dan sore-sore yang tenang bersama orang-orang yang kucintai

Aku tidak sedang menolak pernikahan. Aku hanya tidak ingin menikah karena takut dianggap belum lengkap. Seumur hidup, aku sudah terlalu sering melihat orang menjalani hidup demi memenuhi harapan orang lain. Aku tidak ingin mengulanginya

Sore itu hujan turun perlahan. Toko buku hampir tutup. Beberapa anak masih duduk melingkar di sudut ruang baca. Aku baru selesai membacakan dongeng ketika seorang anak perempuan mengangkat tangan.

"Bu Ratri..."

"Iya?"

"Ibu kok tinggal sendirian?"

Lihat selengkapnya