ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

PULANG DARI TURKI

Pulang dari Turki

Fardhan kembali ke Karangtawang.

༺♡༻

Bus Budiman dari Jakarta baru berhenti di pertigaan Linggarjati saat azan Subuh menggema dari kejauhan. Kabut masih menggantung rendah di atas sawah Karangtawang, menempel di pucuk-pucuk padi yang belum dipanen. Fardhan menurunkan ransel hitam besarnya yang berdebu, ransel yang sama yang ia bawa tiga tahun lalu ke Bandara Soekarno-Hatta.

Tiga tahun di Konya terasa seperti tiga kehidupan yang berbeda. Di sana, ia adalah Fardhan Huzeyfe, mahasiswa Indonesia yang fasih berbahasa Turki, yang menghabiskan musim dingin dengan menyeduh çay di asrama Süleymaniye dan musim panas menghafal di bawah kubah Mevlana. Di sana, salju adalah keseharian. Di sini, udara Kuningan yang lembap langsung memeluknya, membawa aroma tanah basah, kotoran kerbau, dan asap kayu bakar dari dapur-dapur yang baru menyala.

Ia tidak langsung pulang. Ia berdiri agak lama di pinggir jalan, menatap papan nama desa yang catnya sudah pudar: KARANGTAWANG. Jalanan yang dulu ia lalui dengan sepeda ontel kini sudah dicor, tapi lubang-lubang kecil masih menganga. Seorang ibu-ibu dengan bakul jamu melintas dan memandanginya dari atas ke bawah — jubah abu-abu panjang, jenggot yang ia pelihara tipis selama di Turki, dan sorban yang ia lilitkan longgar di leher.

Fardhan menarik napas dalam. Ia membayangkan kepulangan ini berkali-kali selama di pesawat Turkish Airlines TK-56. Ibu akan menangis. Bapak akan memeluknya erat sambil menepuk-nepuk punggung. Para santri di madrasah kecil peninggalan kakeknya akan berebut mencium tangannya. Tapi sekarang, berdiri sendirian di pertigaan yang sepi itu, semua bayangan itu terasa terlalu mewah. Kepulangan ini terasa sunyi. Terlalu sunyi untuk seorang yang katanya baru saja menyelesaikan studi agama di negeri para sufi.

༺♡༻

Rumah panggung kayu itu masih berdiri di tempat yang sama, di ujung gang, tepat di samping madrasah Al-Huda yang cat hijau-nya sudah mengelupas. Pintu depannya terbuka setengah. Dari dalam terdengar suara radio tua yang menyiarkan wayang golek.

“Assalamu'alaikum,” ucap Fardhan, suaranya sedikit serak karena menahan haru.

Seorang perempuan keluar dari dapur, mengusap tangan ke celemeknya. Wajahnya lebih tirus dari yang Fardhan ingat. Rambutnya yang dulu hitam legam kini diselingi uban.

“Fardhan?”

Ibu. Hj. Maryam.

Detik berikutnya, tangis itu pecah juga. Tapi tidak seperti yang ia bayangkan. Ibunya memeluknya erat, ya, tapi pelukan itu gemetar, bukan hanya karena rindu, melainkan karena menahan sesuatu.

“Kamu sudah pulang, Ndan... Alhamdulillah kamu pulang,” bisik ibunya berulang-ulang.

“Bapak mana, Bu?”

Ibunya melepaskan pelukan. Matanya menghindari tatapan Fardhan. “Bapak di belakang. Lagi di balong.”

Fardhan meletakkan ranselnya dan berjalan ke belakang. Di sana, ia melihat Bapaknya, Pak Haji Abdus Sobari, sedang duduk di bale bambu menatap kolam ikan yang airnya keruh. Punggungnya membungkuk lebih dari tiga tahun lalu.

“Bapak.”

Pak Sobari menoleh. Tidak ada senyum lebar. Hanya anggukan pelan. “Udah sampai. Masuk aja dulu. Ibu udah masak sayur asem kesukaan kamu.”

Fardhan jongkok di depan bapaknya. Ada jarak yang tidak kasat mata. Dulu, sebelum berangkat, Bapak yang paling keras mendorongnya berangkat. “Kamu harus jadi ulama yang bener, jangan kayak Bapak yang cuma ngaji kupingan. Pergi ke Turki, bawa pulang ilmu.”

Tapi sekarang, tatapan Bapak itu datar.

Saat sarapan, pemicu itu akhirnya meledak. Ibu menyajikan nasi liwet, ikan asin, dan sayur asem. Fardhan baru menyendok dua suap ketika Bapak membuka suara.

“Jadi gimana di Turki? Selesai S2-nya?”

Fardhan mengangguk. “Selesai, Pak. Bulan lalu wisuda. Tesis tentang tafsir Jalalain dalam perspektif Maturidi sudah diujikan. Alhamdulillah lulus dengan—”

“Bagus. Kalau gitu bisa langsung gantiin Bapak ngajar di madrasah. Ustadz Karim kemarin berhenti, katanya mau fokus dagang di pasar.”

Fardhan tersedak. “Gantiin Bapak? Maksudnya...?”

“Iya. Kan kamu pulang untuk itu. Madrasah sepi. Santri tinggal belasan. Bapak udah tua. Kamu yang muda harus terusin,” kata Bapak dengan nada final, seolah semua sudah diputuskan tanpa perlu diskusi.

Ibu menunduk, tidak berani menatap anaknya. Dari jendela, Fardhan bisa melihat bangunan madrasah yang kusam. Dindingnya retak. Papan tulisnya sudah bolong di beberapa bagian.

Ia baru pulang kurang dari satu jam, dan ia sudah merasa dikunci. Di Turki, para dosennya selalu bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan untuk dunia setelah ini?” Ia selalu menjawab dengan gagasan besar tentang moderasi, tentang dialog, tentang menulis. Tidak pernah ia membayangkan jawabannya akan sesempit: menggantikan Bapak mengajar belasan anak di madrasah yang hampir roboh di Karangtawang.

༺♡༻

Sore harinya, Fardhan mencoba mengunjungi madrasah. Kunci pintunya masih di tempat yang sama, di atas kusen. Ia membuka pintu kayu yang berderit panjang.

Di dalam, debu tebal menutupi karpet sajadah. Beberapa kitab kuning tergeletak berantakan. Di papan tulis, masih tertulis tulisan kapur dari tiga tahun lalu, tulisan tangannya sendiri: Al-Ilmu Nurun. Ilmu adalah cahaya.

Cahaya itu kini redup.

“Fardhan?”

Suara itu membuatnya menoleh. Seorang perempuan berdiri di pintu, mengenakan gamis coklat sederhana dan kerudung yang diikat rapi. Wajahnya tidak banyak berubah, hanya lebih dewasa.

“Laras?”

Lihat selengkapnya