ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

GADIS YANG MENYAPA

GADIS YANG MENYAPA DI JALAN DESA

Pertemuan pertama dengan Nayla

༺♡༻

Jalan desa Karangtawang setelah jam empat sore adalah urat nadi yang paling jujur.

Debu yang naik karena motor-motor yang pulang dari sawah belum turun sepenuhnya. Anak-anak berseragam SD berlarian tanpa alas kaki. Ibu-ibu menenteng ember dari sumur umum. Dan di setiap tikungan, selalu ada yang berhenti hanya untuk bertanya, "Mau kemana, Ndan?"

Sudah lima hari sejak kejadian di madrasah dengan Pak Kuwu. Fardhan menolak tawaran tanah wakaf itu dengan halus, tapi tegas. Akibatnya, ia resmi masuk daftar hitam Pak Kuwu. Bapaknya, Pak Haji Sobari, diam-diam mendukung, meski sejak itu bantuan raskin untuk keluarga mereka tiba-tiba terlambat.

Pagi itu, Fardhan memutuskan untuk tidak lagi memakai jubah Turki-nya. Ia memakai kemeja koko putih sederhana, sarung kotak-kotak, dan sandal swallow yang ia beli di warung. Ia ingin menjadi tidak terlihat. Ia membawa cangkul kecil dan karung, niatnya membersihkan pematang sawah milik Bapak yang sudah lama tidak terurus, di dekat jembatan bambu perbatasan desa.

Kabut tipis masih menggantung di atas kali kecil.

Di sanalah ia melihatnya untuk pertama kali.

Seorang gadis sedang duduk di atas batu besar di pinggir jalan, tepat di bawah pohon waru. Kakinya menggantung, sepatu kets putihnya kotor oleh lumpur. Ia memakai rok panjang hitam, kemeja flanel biru, dan kerudung segi empat yang diikat berantakan, tidak seperti kerudung rapi ibu-ibu pengajian. Di pangkuannya ada buku sketsa yang terbuka, dan tangannya bergerak cepat dengan pensil.

Fardhan melambatkan langkah. Gadis itu tidak seperti gadis Karangtawang pada umumnya. Wajahnya bersih, alisnya tebal alami, dan di bawah matanya ada lingkaran hitam seperti orang kurang tidur.

Gadis itu mendongak, tepat saat Fardhan lewat.

"Mas!" panggilnya.

Fardhan berhenti. Jantungnya sedikit berdegup. Tidak ada yang memanggilnya "Mas" di desa ini. Semua memanggil "Ustadz" atau "Ndan".

"Ya?" jawab Fardhan.

"Mas tau nggak, ini pohon apa?" tanya gadis itu sambil menunjuk pohon waru di atasnya.

Fardhan mengerutkan kening. Pertanyaan aneh.

"Pohon waru," jawabnya singkat.

Gadis itu tertawa. Tawanya lepas, tidak ditahan.

"Salah. Ini pohon waru yang sedang sedih. Lihat daunnya, semua nunduk. Dia pasti kesepian."

༺♡༻

Fardhan tidak tahu harus bereaksi apa. Selama tiga tahun di Konya, ia terbiasa dengan dialog-dialog sufistik yang metaforis, tapi tidak pernah ada yang mengatakan pohon waru sedang sedih di pinggir jalan desa.

"Namanya Nayla," kata gadis itu, tanpa ditanya. Ia menutup buku sketsanya. "Aku baru tiga hari di sini. Ngontrak di rumah Bu Tati. Yang jualan gorengan depan masjid itu."

Fardhan terkejut. "Rumah Bu Tati? Yang di depan masjid? Itu... tetangga saya."

"Iya, aku tau. Kamu Fardhan, kan? Yang baru pulang dari Turki. Satu kampung ngomongin kamu terus dari kemarin. Katanya khutbahnya tentang penyair cinta."

Wajah Fardhan memerah. Rasa malu dari hari Jumat itu kembali menusuk.

"Kamu dengar dari siapa?"

"Dari ibu-ibu yang beli gorengan. Mereka ngomonginnya kenceng banget. Sampai aku yang orang baru jadi hafal," kata Nayla, lalu ia melompat turun dari batu. Ia ternyata cukup tinggi, hampir sepundak Fardhan.

"Maaf, aku nggak bermaksud..." Nayla melihat perubahan wajah Fardhan.

"Nggak apa-apa," potong Fardhan cepat. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kamu dari mana? Kuliah?"

"Aku dari Bandung. Mahasiswi seni rupa, semester akhir. Lagi ngerjain tugas akhir. Temanya tentang desa yang terlupakan. Dosenku nyuruh cari desa yang belum tersentuh Instagram. Aku nemu Karangtawang di Google Maps, titiknya aja hampir nggak keliatan. Jadi aku kesini."

Fardhan mengangguk. Masuk akal.

"Tapi..." Nayla melanjutkan, menatap jalan tanah yang berlubang. "Desa ini nggak terlupakan. Desa ini cuma pura-pura dilupakan. Padahal banyak cerita."

"Misalnya?"

"Misalnya, kenapa madrasah di ujung gang itu kosong? Padahal bangunannya bagus, kalau dibersihin. Kenapa balong di belakang rumah kamu airnya butek padahal di atasnya ada mata air? Kenapa ibu-ibu di sini kalau ngobrol selalu bisik-bisik kalau ada nama Pak Kuwu disebut?"

Fardhan terdiam. Gadis di depannya, yang baru tiga hari di desa ini, sudah menangkap semua borok Karangtawang yang ia sendiri butuh tiga tahun di luar negeri untuk menyadarinya.

"Kamu observasinya tajam," kata Fardhan pelan.

"Bukan tajam. Aku cuma orang luar. Orang luar ngeliatnya lebih jelas," jawab Nayla. Ia membuka lagi buku sketsanya dan memperlihatkannya pada Fardhan.

Di kertas itu, ada sketsa madrasah Al-Huda. Tapi bukan sketsa bangunan kusamnya. Nayla menggambarnya penuh cahaya, jendelanya terbuka, anak-anak duduk melingkar di lantai, dan di tengahnya ada seorang laki-laki berjubah putih kotor lumpur sedang mencangkul selokan.

Itu dirinya. Kemarin sore.

"Kamu lihat saya kemarin?" tanya Fardhan kaget.

"Iya. Aku duduk di warung Bu Tati. Aku lihat Ustadz Turki nyangkul selokan pakai jubah mahalnya. Menurutku itu keren. Makanya aku gambar," kata Nayla sambil tersenyum. "Lukisan pertama untuk tugas akhirku. Judulnya: Ustadz yang Pulang."

Untuk pertama kalinya sejak pulang, Fardhan merasa dilihat bukan sebagai gelar, bukan sebagai investasi, bukan sebagai bahan gunjingan. Ia dilihat sebagai cerita.

"Mas Fardhan, boleh nggak aku main ke madrasah itu besok? Aku mau gambar lagi," pinta Nayla.

"Boleh. Tapi madrasahnya kotor."

"Justru itu bagusnya. Yang bersih mah udah banyak di Instagram."

Fardhan tertawa. Tawa pertama yang benar-benar lepas sejak ia turun dari bus Budiman.

"Boleh. Datang aja jam tujuh pagi. Saya bersihin dulu."

"Oke! Janji ya!" kata Nayla sambil mengacungkan jari kelingkingnya, gaya anak kecil.

Fardhan ragu, tapi akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya juga. Sentuhan singkat itu terasa aneh, hangat, dan jujur.

༺♡༻

Besok paginya, Nayla benar-benar datang jam tujuh. Tidak hanya datang, ia membawa dua hal: termos berisi kopi hitam dan sapu lidi baru.

"Selamat pagi, Ustadz kuli bangunan!" sapanya dari pintu madrasah.

Fardhan yang sedang mengepel lantai terkejut.

"Kamu beneran datang."

"Katanya janji. Janji itu hutang, kata Bu Tati," jawab Nayla sambil meletakkan termos di atas meja yang sudah ia lap semalam. "Aku bawa kopi. Kopi Bandung. Biar nggak ngantuk nyapunya."

Mereka bekerja bersama. Fardhan menyapu langit-langit yang penuh sarang laba-laba, Nayla mengelap jendela-jendela kayu yang sudah lama tidak dibuka. Sesekali mereka mengobrol, lebih banyak Nayla yang bercerita.

"Di kampusku, semua orang pengen jadi seniman yang pameran di Jakarta. Aku malah pengen pameran di desa. Aneh ya?"

"Nggak aneh. Di Turki, guruku bilang, tempat paling suci itu bukan Ka'bah-nya, tapi orang-orang yang berdoa di sekitarnya," balas Fardhan.

"Wih, dalam. Cocok jadi caption Instagram," goda Nayla.

"Jangan. Nanti dikira khutbah lagi."

Mereka tertawa bersamaan.

Konflik itu dimulai justru karena tawa itu.

Sekitar jam delapan, Laras datang, seperti biasa membawa ember untuk mengepel. Ia berhenti di pintu saat melihat Fardhan dan Nayla tertawa bersama di dalam madrasah, berbagi kopi dari satu tutup termos.

Lihat selengkapnya