ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

ANAK JURAGAN EMPING

ANAK JURAGAN EMPING

Rahasia kehidupan Nayla

༺♡༻

Pagi di Karangtawang selalu dimulai dari bunyi yang sama. Bukan azan, bukan ayam berkokok, tapi bunyi tuk-tuk-tuk berirama dari lesung kayu. Itu bunyi emping melinjo ditumbuk.

Dari ujung gang sampai ke sawah, hampir semua rumah punya lesungnya sendiri. Karangtawang memang bukan desa padi, Karangtawang adalah desa emping. Asap dari penggorengan emping mengepul dari jam lima pagi, bau minyak kelapa dan melinjo sangrai menjadi parfum desa ini.

Fardhan berdiri mematung di depan madrasah dengan dua bungkus gorengan yang sudah dingin di tangannya. Di depannya, Pak Kuwu dan petugas BPN dengan meteran kuningnya sudah siap mengukur tanah di belakang balai desa. Dan di sampingnya, Nayla berdiri dengan buku sketsanya, kerudungnya masih berantakan.

"Jadi gimana, Ustadz Fardhan? Kita ukur sekarang ya?" tanya Pak Kuwu dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Mumpung petugasnya lagi di sini."

Nayla berbisik pelan ke Fardhan, "Mas, tanah yang mau diukur itu yang ada gubuk Bu Tati itu ya?"

Fardhan mengangguk pelan. "Iya."

"Jangan kasih, Mas."

Kalimat itu pelan, tapi tegas. Pak Kuwu mendengarnya.

"Mbak ini siapa? Kok ikut-ikut urusan tanah desa?" tanya Pak Kuwu ketus, menatap Nayla.

"Saya Nayla, Pak. Yang ngontrak di rumah Bu Tati," jawab Nayla. Suaranya tidak lagi ceria seperti biasanya. Ada getaran marah di sana.

"Oh, anak kos. Ya sudah, anak kos nggak usah ikut campur urusan warga asli. Sana, masuk aja," usir Pak Kuwu.

Nayla tidak bergerak. Ia justru melangkah maju satu langkah.

"Pak, tanah itu bukan tanah bengkok. Itu tanah adat. Di atasnya ada tujuh gubuk pengrajin. Kalau Bapak patok hari ini, mereka kehilangan tempat kerja. Bapak tau nggak, satu kilo emping mentah harganya berapa? Empat puluh ribu. Mereka sehari cuma dapat setengah kilo. Kalau gubuknya digusur, mereka makan apa?"

Pak Kuwu terkejut. Petugas BPN juga terkejut. Bagaimana mungkin anak kos dari Bandung yang baru tiga hari di desa ini tahu harga emping mentah dan tahu ada tujuh gubuk di tanah itu?

Fardhan juga menatap Nayla. Ada sesuatu yang berbeda di matanya pagi itu.

"Mas Fardhan," kata Nayla, tanpa menatap Fardhan, matanya tetap menatap Pak Kuwu. "Bilang sama Pak Kuwu ini, siapa bapak saya."

༺♡༻

Pak Kuwu tertawa mengejek.

"Bapak kamu? Emang bapak kamu siapa? Juragan emping dari Bandung?"

Nayla membuka tas kainnya yang lusuh. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kartu nama yang sudah agak terlipat. Ia memberikannya pada petugas BPN, bukan pada Pak Kuwu.

Petugas itu membaca. Matanya membesar.

"PT. Emping H. Darsono Jaya... Kuningan - Cirebon - Jakarta..." baca petugas itu pelan.

Pak Kuwu merebut kartu itu. Wajahnya yang tadinya merah karena marah, perlahan pucat.

"H. Darsono... Juragan emping Linggarjati itu?" tanya Pak Kuwu, suaranya tiba-tiba kecil.

Nayla mengangguk. "Nama lengkap saya Nayla Adinda Darsono. Bapak saya H. Darsono. Ibu saya Hj. Lilis Kesumah. Rumah saya yang paling besar di jalan raya Linggarjati, yang ada truk-truk parkir itu. Yang setiap hari ngirim dua ton emping ke Jakarta."

Fardhan membeku. Nama H. Darsono adalah legenda di Karangtawang. Jika Karangtawang adalah desa emping, maka H. Darsono adalah rajanya. Ia punya pabrik besar, punya puluhan karyawan, dan hampir semua tengkulak emping di Kuningan setor ke dia. Termasuk Bu Tati. Termasuk janda-janda yang menganyam tikar dan menggoreng emping di gubuk belakang balai desa itu.

"Jadi kamu... kamu anak juragan emping?" tanya Fardhan, suaranya hampir tidak keluar.

"Iya," jawab Nayla, akhirnya menatap Fardhan. Matanya berkaca-kaca. "Aku anak juragan emping."

Suasana di depan madrasah itu mendadak senyap. Hanya terdengar bunyi tuk-tuk-tuk lesung dari kejauhan.

"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?" tanya Fardhan pelan.

"Kalau aku bilang dari awal, Mas Fardhan bakal ngobrol sama aku kayak orang-orang ngobrol sama anak juragan? Minta diskon? Minta modal? Atau kayak Pak Kuwu ini, langsung minta tanda tangan biar bisa jual tanah ke bapak saya?" jawab Nayla, air matanya akhirnya jatuh.

Pak Kuwu yang masih memegang kartu nama itu langsung mengubah sikapnya 180 derajat.

"Lho, Neng Nayla toh! Astagfirullah, Bapak nggak tau! Bapak kan kenal baik sama H. Darsono! Sering ngopi bareng! Kenapa nggak bilang dari kemarin kalau Neng di sini? Aduh, Bu Tati gimana sih, nggak bilang kalau yang ngontrak anaknya Pak Haji!"

Nayla mengusap air matanya kasar.

"Justru itu, Pak. Saya nggak mau Bapak kenal saya sebagai anak H. Darsono. Saya di sini sebagai Nayla. Mahasiswi seni rupa yang tugas akhirnya gagal karena desanya mau digusur sama Kuwunya sendiri."

Petugas BPN itu melipat kembali meterannya dengan canggung.

"Pak Kuwu, kalau gitu pengukuran hari ini kita tunda dulu ya. Saya harus cek dulu status tanahnya di kantor. Nggak enak kalau ada pihak PT. Darsono di sini," kata petugas itu, mencari alasan untuk pergi.

"Jangan, Pak! Jangan tunda! Tetap ukur!" Pak Kuwu panik.

"Maaf, Pak. Saya ada jadwal lain," kata petugas itu cepat, lalu naik ke motor trailnya dan pergi, meninggalkan Pak Kuwu sendirian dengan kartu nama di tangannya yang gemetar.

Setelah petugas itu pergi, Pak Kuwu menatap Nayla dan Fardhan bergantian. Senyum manisnya hilang, berganti menjadi tatapan marah dan terancam.

"Oke. Jadi kalian main belakang ya? Anak Ustadz sama anak Juragan main belakang buat jegal saya? Bagus. Kita lihat aja nanti. Tanah itu tetap akan jadi pesantren. H. Darsono sekalipun nggak bisa halangin program desa!" bentak Pak Kuwu, lalu ia naik ke motornya dan pergi dengan ngebut, meninggalkan debu yang mengepul.

Tinggal Fardhan dan Nayla berdua di depan madrasah. Gorengan di tangan Fardhan sudah benar-benar dingin.

"Jadi kamu bohong sama aku," kata Fardhan, pelan.

"Bukan bohong, Mas. Aku cuma... nggak cerita semuanya," jawab Nayla, suaranya kecil.

"Apa bedanya?"

Nayla duduk di anak tangga madrasah, memeluk lututnya. Bahunya naik turun menahan tangis.

"Bedanya besar, Mas."

༺♡༻

Fardhan duduk di sebelah Nayla, menjaga jarak.

"Cerita dong. Yang jujur. Dari awal," kata Fardhan.

Nayla menarik napas panjang. Bau minyak goreng dari dapur Bu Tati tercium sampai ke sini.

"Aku memang anak H. Darsono. Anak bungsu. Dari kecil, hidupku sudah diatur. Les piano, les bahasa Inggris, sekolah di SMA favorit di Kuningan, terus kuliah manajemen biar bisa terusin pabrik bapak. Semua sudah digarisin," kata Nayla, menatap kosong ke jalan.

"Tapi aku nggak suka emping, Mas. Aku benci bau minyaknya. Tangan aku alergi kalau kebanyakan nggoreng emping, langsung bentol-bentol. Tapi Bapak selalu bilang, 'Kamu itu darah emping, Nay. Nanti kamu yang gantiin Bapak jadi juragan'."

"Terus?"

"Terus aku diam-diam daftar seni rupa di Bandung. Pakai uang tabunganku sendiri. Bapak marah besar waktu tau. Katanya seni nggak bisa bikin kenyang. Seni cuma buat orang yang nggak punya kerjaan. Kami berantem besar tiga bulan lalu. Bapak bilang, kalau aku tetap mau jadi seniman, anggap aja nggak punya bapak."

Fardhan terdiam. Ia baru sadar, luka Nayla jauh lebih dalam dari yang ia kira.

"Jadi aku pergi dari rumah. Aku nggak bawa apa-apa kecuali buku sketsa dan uang beasiswa yang sisa. Aku cari desa yang paling jauh dari Linggarjati, yang bapakku nggak bakal cari. Aku nemu Karangtawang. Aku pikir, di sini aku bisa jadi Nayla aja. Bukan anak juragan. Cuma gadis yang suka gambar pohon waru."

"Kenapa kamu pilih rumah Bu Tati?" tanya Fardhan.

"Karena Bu Tati itu satu-satunya pengrajin yang berani jualan empingnya sendiri ke pasar, nggak setor ke bapakku. Bapakku nggak suka sama Bu Tati. Katanya Bu Tati itu pembangkang. Makanya aku penasaran. Aku mau tau, kenapa ibu-ibu ini tetap bertahan bikin emping sendiri padahal kalau setor ke pabrik bapakku lebih gampang dan dapat uang pasti."

Fardhan baru mengerti. Nayla bukan sekadar mahasiswi yang cari objek tugas akhir. Ia adalah anak yang lari dari bayang-bayang bapaknya, dan secara tidak sengaja lari ke desa yang menjadi sumber kekayaan bapaknya.

"Nayla, gubuk-gubuk di belakang balai desa itu... mereka semua setor empingnya ke bapak kamu?" tanya Fardhan.

Nayla mengangguk. "Iya. Mereka itu plasma binaan bapakku. Bapakku kasih modal melinjo mentah, mereka yang goreng dan tumbuk, terus setor lagi ke pabrik. Harganya ditentukan bapakku. Murah banget, Mas. Makanya mereka miskin terus. Bu Tati itu satu-satunya yang berani keluar dari sistem itu."

"Jadi kalau tanah itu digusur Pak Kuwu..."

Lihat selengkapnya