SAHABAT DI ANTARA TUMPUKAN MELINJO
Kedekatan yang semakin tumbuh
༺♡༻
Pagi setelah keributan di depan madrasah itu, Karangtawang tidak langsung kembali tenang. Justru sebaliknya, desa itu menjadi lebih berisik dari biasanya, tapi berisiknya bukan karena lesung emping lagi.
Pak Kuwu dan orang-orang berlignis itu akhirnya pulang dengan tangan hampa kemarin. Bukan karena Fardhan melawan, tapi karena H. Darsono sendiri yang membentak Pak Kuwu di depan ibu-ibu.
"Siapa yang suruh bawa linggis, Kuwu?! Saya bilang mau jemput anak saya, bukan mau gusur rumah orang!" bentak H. Darsono, suaranya menggelegar sampai ke warung Bu Tati.
Sejak itu, H. Darsono tidak jadi membawa Nayla pulang paksa. Ia hanya berpesan, "Bapak tunggu di rumah, Nduk. Kalau tugas akhirmu sudah selesai, pulang ya. Ibu masak sayur lodeh kesukaanmu."
Dan ia pulang.
Kini, madrasah Al-Huda berubah fungsi. Papan triplek "TERBUKA UNTUK UMUM" yang dipasang Fardhan masih tergantung, tapi di bawahnya, Nayla menambahkan tulisan kecil dengan cat akrilik: "GUDANG CERITA & EMPING GRATIS".
Tumpukan melinjo mentah yang biasanya hanya ada di gubuk-gubuk belakang balai desa, kini menumpuk di dalam madrasah. Karung-karung goni berisi kulit melinjo merah menggunung di sudut ruangan. Ibu-ibu pengrajin yang kemarin ketakutan, kini malah menjadikan madrasah sebagai tempat ngumpul baru mereka. Lebih aman, kata Bu Tati, daripada di gubuk yang mau digusur.
Fardhan dan Nayla kini punya jadwal baru yang tidak tertulis. Jam tujuh pagi sampai jam sembilan, mereka membersihkan madrasah. Jam sembilan sampai jam dua belas, mereka membantu ibu-ibu mengupas melinjo. Dan jam dua belas sampai Ashar, adalah jam mereka berdua.
Jam di mana Nayla mengajari Fardhan cara melihat.
"Nay, ini melinjonya sudah dikupas semua, terus diapain?" tanya Fardhan pagi itu, tangannya sudah hitam karena getah melinjo. Ia duduk bersila di atas tikar, di antara gunungan melinjo yang sudah dikupas putih.
Nayla yang duduk di depannya, dengan celemek bunga-bunga pinjaman dari Bu Tati, tertawa kecil.
"Mas Fardhan ini, di Turki belajar tafsir Jalalain, tapi ngupas melinjo aja nggak bisa. Ini bukan langsung digoreng, Mas. Ini dijemur dulu sehari, baru nanti dipipihin."
"Oh, harus dijemur dulu. Kirain langsung," kata Fardhan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas, kalau hidup itu kayak melinjo, Mas mau jadi yang langsung digoreng atau yang dijemur dulu?"
Fardhan menatap tumpukan melinjo putih di depannya.
"Kalau langsung digoreng pasti gosong, ya?"
"Nah, pinter," kata Nayla sambil melempar satu melinjo kupas ke arah Fardhan, yang berhasil ia tangkap dengan mulutnya. "Makanya Mas jangan buru-buru jadi Ustadz besar. Dijemur dulu aja di Karangtawang. Biar nggak gosong."
Fardhan mengunyah melinjo mentah itu, rasanya pahit.
"Pahit, Nay."
"Iya, hidup emang pahit dulu, Mas, baru gurih belakangan. Kayak emping."
Di antara tumpukan melinjo yang pahit itulah, kedekatan mereka tumbuh. Bukan kedekatan yang meledak-ledak, tapi kedekatan yang dijemur pelan-pelan, seperti melinjo itu sendiri.
༺♡༻
Peristiwa pemicunya terjadi pada hari ketiga mereka menjadikan madrasah sebagai gudang melinjo.
Siang itu, Bu Tati datang tergopoh-gopoh dengan wajah panik.
"Ndan! Nayla! Gawat! Harga melinjo turun!"
"Turun? Jadi berapa, Bu?" tanya Fardhan, berdiri.
"Tadi tengkulak dari Kuningan datang. Katanya sekarang PT. Darsono cuma mau beli emping jadi dengan harga dua puluh ribu perkilo! Padahal kemarin masih tiga puluh lima ribu! Kalau dua puluh ribu, kita rugi, Ndan! Modal melinjo mentahnya aja udah lima belas ribu!"
Nayla yang mendengar nama PT bapaknya langsung berdiri. Wajahnya pucat.
"Dua puluh ribu? Nggak mungkin. Bapakku nggak mungkin nurunin segitu. Pasti tengkulaknya yang main, Bu," kata Nayla.
"Nggak tau lah, Neng. Tengkulaknya bilang itu perintah dari atas. Dari Pak Haji Darsono langsung. Katanya emping Karangtawang kualitasnya jelek, banyak yang gosong," kata Bu Tati, hampir menangis. Enam ibu-ibu lain di belakangnya juga mulai menangis pelan.
Fardhan menatap Nayla. Nayla menatap tumpukan melinjo di dalam madrasah. Tumpukan itu adalah tabungan Bu Tati dan kawan-kawannya selama seminggu.
"Nay, coba kamu telepon bapakmu," bisik Fardhan pelan.
"Aku nggak punya pulsa, Mas. Dan aku nggak mau telepon Bapak dulu. Nanti dikira aku ngadu," jawab Nayla, suaranya bergetar.
"Tapi ini kan menyangkut ibu-ibu, Nay. Bukan cuma kamu."
Nayla diam lama. Lalu ia mengambil ponsel bututnya.
"Bu Tati, tengkulaknya masih di mana?" tanya Nayla.
"Masih di gubuk belakang balai desa. Lagi nimbang empingnya Bu Siti."
"Ayo kita kesana," kata Nayla tegas.
Fardhan, Nayla, dan Bu Tati berjalan cepat ke gubuk belakang balai desa. Di sana, seorang laki-laki kurus dengan topi caping sedang menimbang karung emping dengan timbangan gantung. Di sampingnya ada Bu Siti yang menunduk lesu.
"Pak Karman!" panggil Bu Tati.
Tengkulak itu menoleh.
"Oh, Bu Tati. Mau setor juga? Tapi harganya sekarang dua puluh ribu ya," katanya tanpa rasa bersalah.
"Pak Karman, siapa yang suruh turunin harga? Pak Haji Darsono langsung?" tanya Nayla, langsung to the point.
Pak Karman menatap Nayla dari atas ke bawah.
"Kamu siapa? Anak baru?"
"Saya Nayla Darsono. Anaknya Pak Haji Darsono," jawab Nayla, kali ini dengan suara lantang, tidak lagi berbisik malu.
Pak Karman langsung kaget dan hampir menjatuhkan timbangannya.
"Neng Nayla? Astagfirullah, Neng ada di sini?"
"Iya. Jawab pertanyaan saya, Pak. Bapak saya yang suruh turunin harga jadi dua puluh ribu?"
Pak Karman gugup. Keringatnya mengucur.
"Nggak... nggak, Neng. Bukan Pak Haji. Pak Haji malah naikin harga jadi empat puluh ribu minggu ini. Tapi... tapi Pak Kuwu yang nyuruh saya bilang dua puluh ribu. Katanya selisihnya buat dana pembangunan pesantren. Jadi saya disuruh setor yang dua puluh ribu ke ibu-ibu, sisanya... sisanya buat Pak Kuwu."
Suasana di gubuk itu langsung panas.
"Kurang ajar!" teriak Bu Tati. "Jadi selama ini Pak Kuwu yang makan uang kita!"
Fardhan mengepalkan tangan. "Pantesan kemarin ngotot mau bangun pesantren. Ternyata mau korupsi dari emping."
Nayla menatap Pak Karman dengan mata berkaca-kaca marah.
"Pak Karman, mulai hari ini, jangan pernah lagi bohongin ibu-ibu di sini. Bilang sama semua tengkulak, harga dari PT. Darsono itu empat puluh ribu. Bukan dua puluh ribu. Kalau ada yang berani motong lagi, saya sendiri yang akan lapor ke bapak saya. Dan saya yang akan pastiin bapak saya pecat kalian semua!"
Pak Karman mengangguk ketakutan.
"Iya, Neng. Iya. Maaf, Neng."
Setelah Pak Karman pergi dengan motornya, Bu Siti yang tadi diam langsung memeluk Nayla.
"Neng Nayla, terima kasih ya, Neng... Kalau nggak ada Neng, kami nggak tau mau makan apa minggu ini," kata Bu Siti sambil menangis.
Nayla memeluk balik Bu Siti. Untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi anak juragan itu ada gunanya.
Fardhan berdiri di belakang mereka, melihat pemandangan itu. Ia melihat Nayla yang tadi pagi masih melempar melinjo ke mulutnya dengan manja, kini berdiri tegak membela ibu-ibu yang bahkan bukan karyawannya.
"Nay," panggil Fardhan pelan.
Nayla menoleh.
"Kamu keren," kata Fardhan.
Nayla tersenyum, senyum yang masih basah oleh air mata.
"Mas Fardhan juga. Kalau Mas nggak ajak aku ke sini, aku nggak bakal tau kalau bapakku ternyata nggak sejahat yang aku kira. Yang jahat itu Pak Kuwu."
Hari itu, untuk pertama kalinya, Nayla tidak merasa malu menjadi anak juragan emping. Ia merasa bangga.
༺♡༻
Sejak kejadian Pak Karman, madrasah Al-Huda resmi menjadi markas perlawanan emping.
Nayla, dengan izin dari bapaknya lewat telepon malam itu, membuat sistem baru. Ibu-ibu tidak lagi setor ke tengkulak. Mereka setor langsung ke madrasah, dan dari madrasah, Nayla yang akan mengantarkan langsung ke pabrik PT. Darsono di Linggarjati dengan mobil pick-up pinjaman dari pabrik. Tanpa potongan tengkulak, tanpa potongan Pak Kuwu. Harga utuh empat puluh ribu langsung ke tangan ibu-ibu.
Tentu saja, Pak Kuwu tidak tinggal diam.
Kabar madrasah jadi penampung emping langsung sampai ke telinga Pak Kuwu sore itu juga.
Keesokan paginya, saat Fardhan dan Nayla sedang menjemur melinjo di halaman madrasah yang sudah mereka bersihkan, dua orang hansip datang dengan surat di tangan.
"Fardhan! Ada surat dari balai desa!" teriak salah satu hansip.
Fardhan mengambil surat itu. Surat peringatan. Isinya: Kegiatan penumpukan bahan pangan di fasilitas pendidikan (madrasah) tanpa izin desa melanggar peraturan kebersihan dan ketertiban. Harap kosongkan dalam 1x24 jam atau akan ditertibkan paksa.