CINTA YANG TIDAK DIRENCANAKAN
Persahabatan berubah menjadi cinta
༺♡༻
Madrasah Al-Huda tidak habis terbakar. Tapi hampir.
Pemadam dari Kuningan datang terlambat dua jam. Yang berhasil mereka selamatkan hanya tembok batanya saja. Atap kayu jati peninggalan kakek Fardhan, papan tulis, karpet sajadah, dan yang paling menyakitkan: tujuh karung emping siap jual pesanan Dapur Mba Pevita, semuanya menjadi arang.
Pagi itu, Karangtawang tidak berbunyi lesung. Tidak ada yang menumbuk emping. Semua orang berdiri di depan puing madrasah yang masih mengepulkan asap tipis. Bau kayu terbakar bercampur bau melinjo sangrai yang gosong menjadi bau duka yang aneh.
Fardhan duduk di atas balok kayu yang hangus, memegang ember kosong. Tangannya hitam, bukan karena getah melinjo lagi, tapi karena arang. Semalam ia dan beberapa warga mencoba menyiram api dengan ember, sia-sia.
Nayla duduk tidak jauh darinya, memeluk kotak pensil tua bapaknya yang selamat, dan buku sketsanya yang pinggirnya sudah menghitam. Celemek bunga-bunga pinjaman Bu Tati yang ia pakai masih menempel di badannya, kini penuh jelaga.
Tidak ada yang bicara. Bahkan Bu Tati yang biasanya paling cerewet pun hanya diam, memeluk karung goni kosong.
Laras datang membawa dua gelas teh hangat. Ia memberikannya pada Fardhan dan Nayla tanpa berkata apa-apa.
"Minum dulu," kata Laras pelan.
Fardhan mengambil gelas itu. "Makasih, Ras."
Nayla menggeleng. "Aku nggak haus, Kak."
"Nay, minum. Kamu dari tadi malam belum minum," kata Fardhan, suaranya serak karena asap.
Nayla akhirnya mengambil gelas itu. Tangannya gemetar.
"Mas," kata Nayla, suaranya hampir tidak terdengar karena menahan tangis. "Ini salah aku. Kalau aku nggak bikin brand Emping Madrasah, kalau aku nggak viralin, Pak Kuwu nggak bakal sejahat ini. Gara-gara aku, madrasah Mas habis."
Fardhan menatap puing di depannya. Langit-langit yang kemarin mereka bersihkan bersama sampai bersih dari sarang laba-laba, kini hanya tinggal rangka hitam.
"Bukan salah kamu, Nay," jawab Fardhan pelan. "Ini salah aku. Aku yang maksa pasang papan TERBUKA UNTUK UMUM. Aku yang mancing Pak Kuwu."
"Kalau mau salah-salahan, salah aku semua," sela Laras tiba-tiba. Ia duduk di antara mereka berdua. "Aku yang videoin Pak Kuwu kemarin. Mungkin dia dendam karena itu."
Mereka bertiga diam lagi. Tiga orang yang merasa paling bersalah, duduk di depan bangunan yang mereka cintai yang kini menjadi abu.
Angin pagi berhembus, menerbangkan abu-abu halus dari puing madrasah. Abu itu menempel di rambut Nayla, di kerudung Laras, di sarung Fardhan.
Di antara abu itu, tidak ada yang sadar, bahwa sesuatu yang lain sedang tumbuh. Bukan emping, bukan madrasah. Tapi sesuatu yang tidak direncanakan, sesuatu yang tumbuh pelan-pelan di antara arang dan air mata.
༺♡༻
Siang itu, petugas keamanan datang. Hanya formalitas. Tanya-tanya sebentar, foto-foto puing, lalu pergi dengan kalimat, "Kami akan selidiki. Diduga korsleting listrik."
Semua orang tau itu bohong. Madrasah Al-Huda tidak punya listrik. Hanya lampu minyak.
Setelah petugas keamanan pergi, H. Darsono datang dengan mobil pick-up. Bukan mobil mewahnya, tapi pick-up pengangkut melinjo. Di bak belakangnya ada triplek, paku, cat, dan beberapa karung semen.
"Bapak dengar madrasah kebakar," kata H. Darsono tanpa turun dari mobil, menatap puing dengan wajah keras. "Siapa yang bakar?"
Semua orang menatap Fardhan. Fardhan menatap Nayla. Nayla menunduk.
"Belum tau, Pak Haji. Petugas keamanan bilang korsleting," jawab Pak Haji Sobari, bapak Fardhan, yang baru datang dengan napas terengah-engah.
"Korsleting matamu! Jelas dibakar! Siapa lagi kalau bukan Kuwu sialan itu!" bentak H. Darsono, tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia turun dari mobil.
Ia berjalan ke arah Nayla dan melihat kondisi anaknya yang penuh jelaga.
"Nayla, kamu nggak apa-apa? Kamu terluka?" tanya H. Darsono, suaranya langsung berubah lembut.
"Aku nggak apa-apa, Pak," jawab Nayla pelan.
H. Darsono menatap Fardhan. "Fardhan, Bapak minta maaf. Gara-gara urusan Bapak sama Kuwu, madrasah kakek kamu jadi korban."
"Bukan salah Pak Haji," jawab Fardhan.
H. Darsono menghela napas panjang. "Bapak sudah telepon tukang. Minggu depan kita bangun lagi madrasah ini. Lebih bagus. Pakai bata, pakai atap genteng. Bapak yang biayain semua. Anggap aja... hadiah buat Nayla yang sudah jaga madrasah ini."
Semua ibu-ibu yang mendengar itu langsung bersorak pelan.
"Tapi," lanjut H. Darsono, menatap Nayla. "Syaratnya, Nayla harus pulang dulu ke rumah. Ibu kangen. Tugas akhir bisa dilanjutin nanti dari rumah. Bapak antar jemput tiap hari kalau mau."
Nayla membeku. Inilah yang ia takutkan. Momen di mana ia harus memilih.
"Pak, aku..." Nayla menatap Fardhan sekilas, lalu menunduk lagi.
Fardhan mengerti tatapan itu. Selama ini, Nayla adalah sahabatnya di antara tumpukan melinjo. Sahabat yang melempar melinjo ke mulutnya, sahabat yang mengajarinya menggambar. Tapi tatapan barusan bukan tatapan sahabat. Itu tatapan seseorang yang tidak ingin pergi.
"Pak Haji, kasih Nayla waktu sehari ya. Biar dia beresin barang-barangnya di kos Bu Tati dulu," sela Fardhan cepat.
H. Darsono menatap Fardhan lama, lalu mengangguk.
"Oke. Besok pagi Bapak jemput jam delapan. Jangan sampai nggak ada, Nduk."
Setelah H. Darsono pergi, madrasah kembali sepi. Hanya tinggal Fardhan dan Nayla.
Nayla duduk di balok kayu hangus, membuka buku sketsanya yang selamat. Halaman terakhir yang ia gambar kemarin sore masih ada: gambar Fardhan di antara tumpukan melinjo dengan tulisan "Sahabatku, Ustadz Emping".
Tapi hari ini, ia mengambil pensil dari kotak tua bapaknya, dan di bawah tulisan itu, ia menambahkan sesuatu dengan tulisan kecil dan gemetar.
Fardhan yang melihat dari samping, membaca tulisan itu.
Di bawah kata Sahabatku, Nayla menambahkan kata: ...yang aku...
Kata itu tidak selesai. Pensilnya berhenti. Nayla tidak berani melanjutkan.
"Nay, yang kamu apa?" tanya Fardhan, suaranya pelan sekali, hampir berbisik.
Nayla langsung menutup buku itu dengan keras.
"Nggak! Nggak apa-apa! Cuma coretan!" kata Nayla gugup, wajahnya yang hitam karena jelaga kini memerah.
"Nay, kamu mau nulis apa?"
"Nggak ada, Mas! Mas kepo ah!" kata Nayla, berdiri dan menjauhi Fardhan.
Fardhan berdiri juga dan menahan lengan Nayla pelan.
"Nayla, besok kamu pulang ya?"
Nayla tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca lagi.
"Mas Fardhan mau aku pulang?" tanya Nayla balik, suaranya bergetar.
Fardhan terdiam. Pertanyaan itu membalikkan segalanya. Selama ini ia yang selalu ditanya mau apa. Sekarang ia yang harus menjawab mau apa.
"Aku..." Fardhan menarik napas panjang. Bau kayu terbakar masih kuat. "Aku nggak mau kamu pulang, Nay."
Hening.
"Aku nggak mau sahabatku pulang," lanjut Fardhan, tapi suaranya terdengar janggal, seperti ada kata yang salah.
Nayla menatap mata Fardhan dalam-dalam. Mata yang tiga minggu lalu ia lihat sebagai mata Ustadz dari Turki yang kaku, kini ia lihat sebagai mata seseorang yang juga takut kehilangan.
"Mas Fardhan, kalau aku pulang, Mas bakal nungguin aku balik lagi nggak?"
"Nungguin."
"Sebagai apa? Sebagai sahabat?"
Fardhan menatap puing madrasah, menatap abu yang beterbangan, menatap celemek bunga-bunga Nayla yang kotor.
"Sebagai..." Fardhan berhenti. Ia tidak bisa mengatakan kata itu. Kata itu terlalu besar, terlalu berat untuk diucapkan di depan puing kebakaran.
Nayla tersenyum sedih, seolah mengerti.
"Nggak apa-apa, Mas. Nggak usah dijawab sekarang. Jawabnya nanti aja, kalau madrasahnya sudah jadi lagi. Kalau tumpukan melinjonya sudah ada lagi."
Ia melepaskan pegangan tangan Fardhan pelan, lalu berjalan pergi ke arah kos Bu Tati, meninggalkan Fardhan sendirian di antara puing, dengan kalimat yang menggantung di udara.
༺♡༻
Malam itu adalah malam terakhir Nayla di Karangtawang, setidaknya menurut jadwal H. Darsono.
Bu Tati membuat selamatan kecil di warungnya. Bukan selamatan bahagia, tapi selamatan perpisahan. Ada nasi liwet, ikan asin, dan emping yang tersisa sedikit yang tidak ikut terbakar, yang sengaja digoreng Bu Tati untuk Nayla.
Semua ibu-ibu pengrajin datang. Laras juga datang. Bahkan Pak Haji Sobari dan Hj. Maryam, orang tua Fardhan, datang.
"Neng Nayla, maafin Ibu ya kalau selama ngontrak di sini rumah Ibu reot, bocor kalau hujan," kata Bu Tati sambil menyendok nasi liwet ke piring Nayla.
"Nggak, Bu. Rumah Bu Tati itu rumah paling nyaman yang pernah aku tempatin. Lebih nyaman dari rumahku yang ada AC-nya," jawab Nayla tulus.
"Bohong ah, Neng. Masa rumah reot lebih nyaman dari rumah gedong," sela Bu Siti.
"Beneran, Bu. Di rumah gedong, kalau malam sepi. Nggak ada yang ngobrol. Di sini, kalau malam, ada suara Bu Tati ngorok, ada suara tikus lari-lari, ada suara Fardhan... eh..." Nayla keceplosan dan langsung menutup mulutnya.
Semua ibu-ibu langsung menatap Fardhan yang duduk di pojok.
"Suara Fardhan apa, Neng?" goda Bu Tati, matanya berbinar.
"Suara Fardhan... suara Fardhan ngaji! Iya, ngaji malem-malem di madrasah, kedengeran sampai kos!" jawab Nayla cepat, wajahnya merah padam.
Fardhan yang ditatap hanya bisa pura-pura batuk.
"Oh, ngaji..." kata ibu-ibu bersamaan dengan nada menggoda.