ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

JANJI DUA AYAH

JANJI DUA AYAH

Hubungan lama keluarga terbongkar

༺♡༻

"Fardhan! Jadi ini yang kamu mau, Ndan?! Anak saya kamu ajak pacaran di bawah pohon?!"

Suara H. Darsono menggelegar di bawah pohon waru itu, membuat beberapa petani yang lewat menoleh.

Fardhan langsung mematung. Satu biji melinjo mentah yang tadi ia genggam erat-erat untuk diberikan ke Nayla, jatuh ke tanah, menggelinding ke selokan.

Nayla langsung berdiri di depan Fardhan, seperti seminggu lalu ia berdiri di depan madrasah menghadang Pak Kuwu.

"Bapak! Bukan gitu! Mas Fardhan nggak ngajak pacaran! Kami cuma ngobrol!" bela Nayla, suaranya panik.

"Ngobrol? Ngobrol jam lima sore di pinggir jalan sepi? Ngobrol sambil pegang-pegangan melinjo? Kamu pikir Bapak bodoh, Nduk?!" bentak H. Darsono. Wajahnya merah padam, bukan karena marah, tapi karena takut. Takut kehilangan anaknya lagi.

Dari kejauhan, motor bebek Pak Haji Sobari, bapaknya Fardhan, terlihat mendekat dengan kecepatan tinggi. Ternyata Fardhan tidak berangkat sendirian. Bapaknya membuntutinya diam-diam.

"Sobari! Darsono! Sudah, jangan ribut di jalan!" teriak Pak Haji Sobari sambil turun dari motor, masih dengan sarung dan peci miringnya.

Dua ayah itu kini berdiri berhadapan di bawah pohon waru, tempat anak-anak mereka pertama kali bertemu. Angin sore Linggarjati berhembus, menerbangkan daun waru yang sudah menguning.

H. Darsono menatap Pak Haji Sobari dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah, kaget, rindu, semua campur jadi satu.

"Sobari... jadi ini anak kamu? Fardhan yang katanya baru pulang dari Turki itu, anak kamu?" tanya H. Darsono, suaranya tiba-tiba pelan.

"Iya. Ini Fardhan, anak saya. Darsono, ini Nayla, anak kamu? Yang cerita Bu Tati anak juragan itu?" tanya Pak Haji Sobari balik.

Dua anak muda itu saling pandang, bingung. Mereka tidak mengerti kenapa dua bapak-bapak itu saling memanggil nama seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu.

"Kamu masih inget janji kita dulu, Bar?" tanya H. Darsono pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

Pak Haji Sobari menghela napas panjang, napas yang berat seperti menahan beban puluhan tahun.

"Inget, Son. Gimana mau lupa. Di bawah pohon waru ini juga kita bikin janjinya, dua puluh lima tahun lalu."

Nayla dan Fardhan saling menatap. Janji? Dua puluh lima tahun lalu? Di bawah pohon waru ini?

"Janji apa, Pak? Bapak kenal Pak Haji Sobari?" tanya Nayla, memegang lengan bapaknya.

"Bapak kenal? Nduk, Pak Haji Sobari ini... ini sahabat Bapak dulu. Sahabat satu lesung," jawab H. Darsono, suaranya bergetar.

Fardhan menatap bapaknya. "Bapak kenal Pak Haji Darsono, Pak? Juragan emping itu?"

Pak Haji Sobari tidak menjawab. Ia hanya duduk di akar pohon waru yang besar, akar yang sama tempat ia dan H. Darsono dulu duduk.

"Duduk kalian berdua. Ada cerita panjang yang harus Bapak ceritain. Cerita kenapa madrasah Al-Huda itu ada, dan kenapa pabrik emping Hj. Darsono itu ada," kata Pak Haji Sobari.

Sore itu, di bawah pohon waru yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama Fardhan dan Nayla, rahasia dua puluh lima tahun yang terkubur di antara tumpukan melinjo akhirnya terbongkar.

༺♡༻

"Dulu, sebelum ada PT, sebelum ada madrasah, Karangtawang ini cuma punya satu lesung besar. Lesung peninggalan kakek buyut kita. Semua warga numpuk melinjo di sana, tumbuk bareng-bareng," Pak Haji Sobari memulai ceritanya, suaranya pelan, seperti mendongeng. Fardhan, Nayla, dan H. Darsono duduk melingkar di akar pohon waru, mendengarkan.

"Bapak dan Darsono ini sahabatan dari kecil. Bapak anaknya kyai kampung, Darsono anaknya petani melinjo biasa. Tiap hari kita main di lesung itu. Bapak yang pinter ngaji, Darsono yang pinter dagang. Kalau ada melinjo lebih, Darsono yang bawa ke pasar Kuningan naik sepeda, Bapak yang jaga lesung."

H. Darsono melanjutkan, "Sampai suatu hari, tahun 1998, waktu krismon. Harga melinjo jatuh. Nggak ada yang mau beli emping. Warga kelaparan. Lesung besar itu sepi. Bapak sama Sobari bingung mau makan apa."

"Terus kita janji di bawah pohon waru ini," sela Pak Haji Sobari. "Kita janji, kalau nanti kita sukses, kita akan bangun Karangtawang bareng-bareng. Darsono bilang, 'Bar, nanti kalau aku jadi juragan emping, aku bakal bikin pabrik besar, biar warga nggak usah jual murah lagi ke tengkulak'. Bapak bilang, 'Son, nanti kalau aku jadi kyai, aku bakal bikin madrasah besar, biar anak-anak Karangtawang pinter ngaji dan pinter dagang, nggak dibodohin tengkulak'."

"Janji dua ayah," gumam Fardhan.

"Iya. Janji dua ayah," kata H. Darsono. "Tahun 2000, Bapak dapat modal dari paman di Jakarta, Bapak buka pabrik kecil di Linggarjati. Alhamdulillah laku. Bapak jadi juragan. Sobari, dia nerusin pesantren kakeknya, jadi madrasah Al-Huda. Kita berdua tepati janji. Awalnya kita kerja sama bagus. Warga setor melinjo ke pabrik Bapak, anak-anaknya sekolah gratis di madrasah Sobari."

"Terus kenapa sekarang jadi musuhan, Pak? Kenapa Bapak sama Pak Haji Sobari kayak nggak kenal?" tanya Nayla, tidak sabar.

Dua ayah itu saling pandang. Ada luka lama di mata mereka.

"Tahun 2010," jawab Pak Haji Sobari dengan suara berat. "Ada kebakaran besar di pabrik Darsono yang lama. Pabrik kecilnya habis. Darsono butuh uang cepat buat bangun lagi. Dia datang ke Bapak, pinjam sertifikat tanah madrasah buat jaminan ke bank. Bapak kasih. Karena sahabat."

H. Darsono menunduk. "Bapak pinjam sertifikat itu. Bapak dapat uang, Bapak bangun pabrik yang sekarang, yang besar. Tapi... Bapak telat bayar angsuran bank. Bank mau sita tanah madrasah. Bapak panik. Bapak jual tanah sawah Bapak sendiri buat nutupin, tapi nggak cukup."

"Terus?" tanya Fardhan, jantungnya berdegup kencang.

"Terus Bapak bohong sama Sobari. Bapak bilang sertifikatnya hilang di bank, masih proses. Padahal sertifikatnya sudah mau disita. Sampai akhirnya, Bapak dapat rezeki besar dari pesanan Jakarta, Bapak tebus sertifikat itu diam-diam, Bapak balikin ke Sobari tanpa bilang apa-apa. Tapi Sobari sudah tau. Dia tau Bapak hampir bikin madrasah kakeknya disita bank."

Suasana di bawah pohon waru itu hening. Hanya suara motor yang lewat sesekali.

"Sejak itu, kita nggak pernah ngobrol lagi, Nduk. Bapak malu sama Sobari. Sobari juga marah sama Bapak. Janji dua ayah itu retak di sini, di bawah pohon waru ini juga. Kita berantem besar di sini tahun 2011. Setelah itu, Bapak fokus sama pabrik, Sobari fokus sama madrasah. Kita jadi orang asing di desa sendiri," kata H. Darsono, air matanya jatuh.

Pak Haji Sobari mengusap mata tuanya yang juga berkaca-kaca.

"Bapak juga salah, Son. Bapak gengsi. Waktu kamu mau minta maaf, Bapak usir. Bapak bilang, 'Jangan injak lagi Karangtawang'. Padahal yang bikin Karangtawang hidup itu ya pabrik kamu sama madrasah Bapak. Kalau satu hilang, desa ini pincang."

Nayla dan Fardhan saling menatap. Rahasia yang mereka cari tentang kenapa madrasah sepi dan kenapa pengrajin miskin, ternyata jawabannya adalah luka dua sahabat yang tidak pernah selesai.

"Jadi... madrasah Al-Huda itu... hampir disita gara-gara pabrik bapak?" tanya Nayla pelan.

H. Darsono mengangguk, menangis.

"Dan pabrik emping bapak yang besar itu... modalnya dari sertifikat madrasah kakek aku?" tanya Fardhan pada bapaknya.

Pak Haji Sobari mengangguk pelan.

"Ya Allah..." gumam Fardhan.

Janji dua ayah itu ternyata bukan janji manis. Janji itu pernah menjadi pengkhianatan.

༺♡༻

Malamnya, di rumah Pak Haji Sobari, empat orang duduk di ruang tamu yang sempit. Dua ayah dan dua anak.

Tidak ada nasi liwet, tidak ada teh hangat. Hanya ada dua gelas air putih dan hening yang panjang.

"Jadi selama ini, Bapak sama Pak Haji Darsono itu sahabatan?" tanya Fardhan, masih tidak percaya.

"Dulu," jawab Pak Haji Sobari singkat.

"Dulu," ulang H. Darsono.

Nayla yang duduk di samping bapaknya memberanikan diri bicara.

"Bapak, Pak Haji Sobari, kalau dulu Bapak berdua sahabatan dan janji mau bangun Karangtawang bareng-bareng, kenapa sekarang malah jadi begini? Kenapa madrasah hampir roboh dan pabrik Bapak nggak pernah bantu madrasah? Kenapa malah Pak Kuwu yang jadi penengah dan malah ngerusak semuanya?"

Pertanyaan Nayla itu jujur dan menampar kedua ayah itu.

H. Darsono menatap Pak Haji Sobari.

"Bar, jawab. Kamu kan yang paling pinter ngomong."

Pak Haji Sobari menghela napas.

"Karena gengsi, Nduk. Bapak sama bapak kamu itu sama-sama gengsi. Bapak gengsi minta bantuan ke Darsono setelah dia hampir bikin madrasah Bapak disita. Darsono gengsi minta maaf setelah Bapak usir. Akhirnya kita berdua pura-pura nggak kenal. Padahal tiap hari lewat jalan yang sama. Tiap hari denger suara lesung yang sama."

"Terus janji dua ayah itu gimana, Pak?" tanya Fardhan. "Janji mau bikin Karangtawang maju bareng-bareng?"

"Janji itu masih ada, Ndan. Di hati Bapak masih ada. Cuma... terkubur sama malu," jawab Pak Haji Sobari.

H. Darsono tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Pak Haji Sobari. Ia bersimpuh di depan sahabat lamanya itu.

"Bar, maafin aku, Bar. Aku salah. Aku hampir bikin warisan kakek kamu hilang gara-gara aku serakah mau jadi juragan besar. Maafin aku," kata H. Darsono, suaranya pecah, air matanya mengalir deras.

Semua orang di ruangan itu terkejut. Juragan emping terbesar di Kuningan, bersimpuh minta maaf di depan kyai kampung dengan rumah panggung kayu.

Pak Haji Sobari juga menangis. Ia memeluk H. Darsono.

"Son, Bapak juga minta maaf. Bapak yang salah. Bapak yang sombong. Waktu kamu susah, Bapak malah usir kamu. Padahal kamu cuma butuh bantuan. Maafin Bapak juga, Son."

Dua ayah yang sudah bermusuhan dua belas tahun itu berpelukan di tengah ruang tamu yang sempit, menangis seperti anak kecil. Tangis yang menahan rindu dan malu selama belasan tahun.

Fardhan dan Nayla yang melihat itu ikut menangis. Tapi tangis mereka berbeda. Tangis lega.

"Mas, lihat deh," bisik Nayla pada Fardhan sambil mengusap air matanya. "Bapak kita ternyata kayak kita ya. Sama-sama gengsi bilang kangen."

Fardhan mengangguk sambil tertawa kecil di antara air matanya.

Lihat selengkapnya