PERJODOHAN YANG MENGIKAT
Keluarga meminta mereka menikah
༺♡༻
Tawaran lima ratus juta itu tidak membuat Fardhan dan Nayla kaya. Tawaran itu justru membuat Karangtawang tidak tidur semalaman.
Laki-laki berjas hitam dari Jakarta itu bernama Pak Hendra. Ia bukan dari perusahaan emping. Ia dari perusahaan startup makanan sehat di Jakarta yang sedang viral. Ia melihat postingan @EmpingMadrasah yang di-repost Dapur Mbak Pevita dan langsung naik mobil ke Kuningan malam itu juga.
"Brand kalian bagus. Ceritanya kuat. Madrasah yang jadi pabrik emping jujur. Itu yang dicari market sekarang. Authentic story. Saya mau beli brand dan hak jualnya. Lima ratus juta. Kalian tinggal produksi, saya yang marketingin ke seluruh Indonesia," kata Pak Hendra di ruang tamu Pak Haji Sobari yang sempit, di depan semua orang: Fardhan, Nayla, H. Darsono, Pak Haji Sobari, Hj. Maryam, Bu Tati, dan bahkan Laras yang ikut nimbrung karena penasaran.
Lima ratus juta. Angka yang tidak pernah terdengar di Karangtawang. Bu Tati sampai menjatuhkan gelasnya.
"Lima ratus juta teh sabaraha, Ndan? Bisa buat beli sawah berapa hektar?" bisik Bu Tati pada Fardhan.
"Bisa buat beli satu desa, Bu," jawab Fardhan, suaranya juga bergetar.
Nayla yang duduk di samping bapaknya justru diam. Ia memegang balok kayu bertuliskan Al-Ilmu Nurun yang tadi malam dipakai Fardhan untuk melamarnya dengan versi melinjo.
"Gimana, Neng Nayla? Mas Fardhan? Deal?" tanya Pak Hendra sambil menyodorkan map berisi kontrak.
H. Darsono yang sebagai juragan emping paling mengerti bisnis, mengambil map itu dan membacanya cepat.
"Pak Hendra, lima ratus juta itu untuk brand aja? Atau termasuk pabrik? Termasuk resep?" tanya H. Darsono.
"Brand dan hak distribusi eksklusif selama lima tahun. Resep tetap punya ibu-ibu. Pabrik tetap di Karangtawang. Tapi nanti ada QC dari kami, ada standar packaging. Nggak bisa pakai plastik bening lagi," jawab Pak Hendra.
Semua mata tertuju pada Fardhan dan Nayla. Karena brand itu atas nama mereka berdua. @EmpingMadrasah.
Fardhan menatap Nayla. Nayla menatap Fardhan.
Kemarin sore di bawah pohon waru, mereka baru saja janji mau jadi partner ngupas melinjo seumur hidup. Janji cinta yang belum sempat dirayakan, kini langsung diuji dengan janji bisnis setengah miliar.
"Pak Hendra, boleh kami pikir dulu semalam ya? Kami harus musyawarah dulu sama ibu-ibu," kata Fardhan akhirnya.
Pak Hendra mengangguk. "Boleh. Saya nginap di hotel Kuningan. Besok jam sepuluh saya balik lagi. Tolong jangan sampai brand ini diambil orang lain dulu."
Setelah Pak Hendra pergi, ruang tamu itu meledak.
"Lima ratus juta, Ndan! Terima aja!" teriak Bu Tati.
"Jangan, Bu! Nanti emping kita jadi punya orang Jakarta! Kita cuma jadi kuli lagi!" sahut Bu Siti.
H. Darsono mengangkat tangan.
"Sudah, sudah, diam semua. Ini bukan urusan ibu-ibu aja. Ini urusan masa depan anak-anak kita juga. Dan urusan janji dua ayah."
Pak Haji Sobari yang dari tadi diam, akhirnya bicara.
"Son, kamu masih inget janji kita dulu di bawah pohon waru? Kalau anak kita laki perempuan, kita jodohkan?"
H. Darsono mengangguk. "Inget, Bar."
"Nah, sekarang anak kita sudah ketemu. Sudah saling suka. Sudah bikin brand bareng. Sudah bangun madrasah bareng. Menurut Bapak, ini saatnya kita tunaikan janji itu. Bukan cuma janji bisnis emping, tapi janji perjodohan."
Semua orang di ruangan itu terdiam. Topiknya melompat dari lima ratus juta langsung ke perjodohan.
Nayla membelalakkan mata. "Pak Haji! Bapak..."
Fardhan juga kaget. "Bapak, jangan sekarang, Pak. Kami baru..."
"Justru harus sekarang, Ndan," potong Hj. Maryam, ibunya Fardhan, yang tiba-tiba masuk dengan nampan teh. "Ibu sudah ngobrol sama Hj. Lilis, ibunya Nayla, lewat telepon tadi. Ibunya Nayla bilang, kalau Nayla mau nikah sama kamu, beliau setuju. Asal madrasahnya jadi dulu. Dan empingnya tetap jalan."
H. Darsono menatap anaknya.
"Nayla, gimana? Bapak sih setuju aja. Fardhan anak baik. Lulusan Turki, mau ngupas melinjo. Jarang ada laki-laki kayak gitu. Daripada kamu di Bandung nggak jelas sama seniman-seniman gondrong itu."
"Bapak!" protes Nayla, wajahnya merah padam.
Fardhan menunduk dalam-dalam. Lamaran pakai balok kayu tadi sore di bawah pohon waru terasa begitu sederhana dibandingkan lamaran resmi yang kini diucapkan dua ayah di depan ibu-ibu satu desa.
༺♡༻
Malam itu, setelah ibu-ibu pulang dengan membawa mimpi lima ratus juta di kepala masing-masing, hanya tinggal keluarga inti: Pak Haji Sobari, Hj. Maryam, H. Darsono, Fardhan, dan Nayla di ruang tamu.
Laras sudah pulang, tapi ia sempat berbisik pada Fardhan sebelum pergi.
"Ndan, kalau kamu nikah sama Nayla, aku jadi apa? Masih sahabat kan?"
"Masih, Ras. Selamanya," jawab Fardhan.
Kini, perjodohan itu dibahas serius, tanpa kerumunan.
"Nayla, Fardhan," kata H. Darsono membuka. "Bapak sama Pak Sobari tadi sudah ngobrol panjang di belakang, waktu kalian beresin puing. Kita berdua merasa bersalah. Dua belas tahun kita musuhan gara-gara gengsi. Janji kita buat bangun Karangtawang bareng-bareng jadi berantakan. Madrasah hampir roboh, pabrik Bapak hampir nggak punya penerus."
Pak Haji Sobari melanjutkan, "Dan sekarang, kalian berdua yang menyambung lagi janji itu. Tanpa disuruh. Kalian bikin Emping Madrasah. Kalian bikin warga kompak lagi. Bapak sama Darsono mikir, mungkin ini memang jalannya Allah. Allah kirim Fardhan pulang dari Turki dan kirim Nayla kabur dari rumah, biar ketemu di Karangtawang dan nyambungin lagi persahabatan kita yang putus."
"Jadi Bapak berdua mau kami nikah?" tanya Fardhan pelan, memberanikan diri.
"Bukan mau, Ndan. Meminta. Dengan sangat," jawab Pak Haji Sobari. "Tapi bukan paksaan. Bapak tau kamu baru pulang, masih bingung mau jadi apa. Dan Nayla masih kuliah, masih punya mimpi jadi seniman."
H. Darsono menatap anaknya lekat-lekat.
"Nduk, Bapak tau kamu benci disuruh-suruh. Dulu Bapak maksa kamu jadi juragan, kamu kabur. Sekarang Bapak nggak akan maksa. Kalau kamu nggak mau nikah sama Fardhan, nggak apa-apa. Bapak tetap bangun madrasah ini. Bapak tetap bantu Emping Madrasah. Tapi Bapak cuma mau bilang, Fardhan ini... Bapak lihat sendiri, dia beda sama laki-laki lain. Dia mau kotor tangannya buat ibu-ibu. Dia mau belain kamu di depan Kuwu. Jarang ada yang kayak gitu, Nduk."
Nayla menunduk, memainkan ujung kerudungnya. Balok kayu Al-Ilmu Nurun masih ia pangku.
"Bapak, kalau aku nikah sama Mas Fardhan, aku harus berhenti jadi seniman? Harus jadi istri ustadz yang di rumah aja, ngajar ngaji?" tanya Nayla, suaranya kecil, inilah ketakutan terbesarnya.
Hj. Maryam langsung menjawab, sebelum suaminya sempat.
"Nggak, Neng. Siapa bilang istri ustadz harus di rumah aja? Ibu ini istri kyai, tapi Ibu juga yang ngurus warung, ngurus sawah. Istri itu partner, bukan pajangan. Kalau Neng mau jadi seniman, ya jadi seniman. Nanti madrasah yang baru ada kelas gambar, Neng yang ngajar. Fardhan yang ngajar ngaji. Kan bagus, madrasah seni dan agama. Pertama di Kuningan."
Fardhan mengangguk cepat.
"Iya, Nay. Aku nggak akan larang kamu gambar. Justru aku mau belajar gambar sama kamu. Biar khutbah aku nggak ngebosenin lagi. Bisa pakai gambar."
Nayla tertawa kecil di antara rasa gugupnya.
"Mas Fardhan, Mas baru aja dilamar pakai balok kayu tadi sore. Sekarang dilamar lagi pakai dua bapak. Mas ini jago ngelamar ya."
Semua orang di ruangan itu tertawa, pecah suasana tegangnya.
H. Darsono lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kotak kecil beludru merah.
"Nduk, ini punya ibumu. Cincin kawin ibumu dulu. Ibumu titip, katanya kalau kamu mau dilamar Fardhan, kasih ini. Bukan lamaran resmi, cuma tanda. Kalau kamu mau terima, pakai. Kalau nggak, balikin lagi ke Bapak. Bapak nggak maksa."
Nayla membuka kotak itu. Cincin emas sederhana, tidak besar, tapi mengkilap. Cincin ibunya.
Fardhan menatap cincin itu, lalu menatap Nayla. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia khutbah Jumat pertama.
"Nay, kamu nggak harus jawab sekarang," kata Fardhan pelan. "Pikirin dulu. Sampai besok. Sampai Pak Hendra datang lagi soal lima ratus juta itu. Kita pikirin bareng."
Nayla menutup kotak cincin itu pelan.
"Bapak, Pak Haji, Bu Haji, boleh aku ngomong berdua aja sama Mas Fardhan di luar? Sebentar aja," pinta Nayla.
Dua ayah dan satu ibu itu saling pandang, lalu mengangguk dan masuk ke dalam rumah, memberi ruang.
Tinggal Fardhan dan Nayla di teras rumah panggung, di bawah langit Karangtawang yang penuh bintang, dengan tawaran lima ratus juta yang menggantung besok pagi dan cincin emas ibu yang ada di pangkuan Nayla.
༺♡༻
Di teras, angin malam Karangtawang berhembus dingin.
"Mas, bingung ya?" tanya Nayla membuka.
"Bingung banget," jawab Fardhan jujur. Ia duduk di anak tangga, menatap sawah yang gelap. "Tiga minggu lalu aku pulang dari Turki, aku cuma mikir gimana caranya benerin madrasah. Sekarang aku disuruh mikirin nikah, mikirin brand lima ratus juta, mikirin masa depan Karangtawang. Berat, Nay."
"Aku juga, Mas. Tiga minggu lalu aku cuma mikir gimana caranya biar tugas akhirku lulus tanpa ketahuan bapakku. Sekarang aku disuruh jadi juragan emping, jadi guru gambar, jadi... jadi calon istri Ustadz Emping," kata Nayla, duduk di sebelah Fardhan, menjaga jarak setengah meter.
Hening sejenak. Hanya suara jangkrik.
"Mas, kalau kita nikah, Emping Madrasah gimana? Dijual lima ratus juta itu?" tanya Nayla.