ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

LELAKI DARI MASA LALU

LELAKI DARI MASA LALU

Raka hadir membawa masalah baru

༺♡༻

Pernikahan itu tidak jadi hari itu.

Pelaminan dari karung goni berisi melinjo dibiarkan begitu saja di halaman madrasah baru. Mahar 100 bungkus Emping Madrasah dan balok kayu bertuliskan Al-Ilmu Nurun masih di atas meja penghulu. Tamu-tamu pulang dengan wajah bingung, membawa nasi kotak dan gosip baru yang lebih panas daripada gosip emping.

"Katanya calon pengantinnya kabur lagi ke Jakarta!"

"Katanya nggak jadi nikah karena rebutan warisan emping!"

"Kasihan Fardhan, sudah dua kali ditinggal di pelaminan. Dulu sama Turki, sekarang sama Nayla."

Fardhan tidak menangis. Ia hanya duduk di pelaminan kosong itu sampai Maghrib, memegang balok kayu maharnya. Pak Haji Sobari dan H. Darsono tidak berani mendekat. Hanya Laras yang berani duduk di sebelahnya, tanpa bicara.

"Ndan, pulang yuk. Sudah Maghrib," kata Laras pelan.

Fardhan menggeleng. "Ras, aku nungguin. Siapa tau Nayla balik."

"Ndan, Nayla sudah di Jakarta. Kata bapaknya, lomba filmnya besok. Nggak mungkin balik malam ini."

"Aku tau, Ras. Tapi aku janji di bawah pohon waru, aku bakal nungguin. Sebagai apa pun. Sahabat, partner ngupas melinjo, calon suami. Aku nungguin."

Laras tidak memaksa lagi. Ia mengambilkan sarung dan membiarkan Fardhan shalat Maghrib sendirian di pelaminan yang seharusnya jadi tempat ijab kabulnya.

Malamnya, Karangtawang kembali sepi. Lesung tidak berbunyi. Warga tidak ada yang berani lewat depan madrasah baru karena tidak enak hati.

Jam sembilan malam, sebuah mobil Avanza hitam berhenti di depan madrasah. Bukan mobil H. Darsono, bukan mobil Pak Hendra dari Jakarta. Mobil rental dengan plat D, plat Bandung.

Seorang laki-laki turun. Tinggi, kurus, rambut gondrong diikat kuncir, memakai jaket denim penuh pin, membawa tas ransel besar berisi kamera dan tripod. Wajahnya tampan dengan cara yang berantakan, cara yang disukai mahasiswi seni rupa.

Ia melihat pelaminan karung goni itu dan melihat Fardhan yang masih duduk di sana dengan baju koko putihnya.

"Fardhan? Fardhan Huzeyfe? Anak Pak Haji Sobari?" tanya laki-laki itu.

Fardhan mendongak, matanya merah karena menahan kantuk dan kecewa.

"Iya, saya Fardhan. Mas siapa?"

Laki-laki itu tersenyum, senyum yang terlalu percaya diri.

"Gue Raka. Raka Pratama. Temennya Nayla. Dari Bandung. Seni Rupa angkatan 2021. Kakak tingkatnya Nayla."

Fardhan berdiri. Nama Raka pernah disebut Nayla sekali, sekilas, waktu mereka ngupas melinjo. "Kak Raka yang ngajarin aku pakai kamera pertama kali."

"Mas Raka? Temen Nayla?" tanya Fardhan.

"Iya. Gue kesini mau jemput Nayla, tapi katanya dia udah ke Jakarta duluan buat lomba film. Terus gue denger dari Bu Tati, lo calon suaminya? Yang Ustadz dari Turki itu?" tanya Raka sambil mengulurkan tangan untuk salaman.

Fardhan menyalami tangan itu dengan ragu. Tangan Raka penuh tato kecil gambar kamera dan kuas.

"Iya. Saya calon suaminya. Harusnya hari ini nikah. Tapi Nayla ke Jakarta," jawab Fardhan.

Raka tertawa kecil, tawa yang tidak enak didengar.

"Wah, khas Nayla banget. Kabur kalau takut. Dulu juga gitu, waktu gue tembak, dia kabur tiga hari ke Lembang."

Kata "gue tembak" itu membuat jantung Fardhan berdegup kencang. Bukan degup cinta, tapi degup cemburu dan curiga.

"Mas Raka pacarnya Nayla?" tanya Fardhan langsung, tanpa basa-basi.

Raka tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tas kameranya di atas pelaminan karung goni, duduk di pelaminan yang seharusnya jadi tempat Fardhan dan Nayla.

"Mantan. Mantan pacar. Dua tahun lalu. Putus karena dia anak juragan, gue anak kos. Dia nggak mau diajak susah," jawab Raka enteng, sambil menyalakan rokok, padahal di madrasah dilarang merokok.

Fardhan mengepalkan tangan di balik sarungnya.

"Terus Mas kesini mau apa? Kalau Nayla sudah di Jakarta, ngapain ke Karangtawang?"

Raka menghembuskan asap rokoknya dan menatap Fardhan dengan tatapan yang menantang.

"Gue kesini mau tagih janji. Janji Nayla sama gue. Dan mau kasih tau lo, Ustadz, kalau Emping Madrasah itu bukan ide lo sama Nayla doang. Itu ide gue juga. Dan gue punya buktinya. Kalau gue laporin ke panitia lomba film di Jakarta, film dokumenter Nayla yang judulnya MADRASAH EMPING itu bisa didiskualifikasi. Karena plagiat ide gue."

༺♡༻

Fardhan hampir saja memukul Raka malam itu, tapi Laras yang baru datang membawa teh hangat menahannya.

"Ndan! Jangan! Ingat, ini di madrasah baru!" bisik Laras sambil menarik lengan Fardhan.

Fardhan menarik napas panjang dan mencoba tetap tenang.

"Mas Raka, maksudnya plagiat gimana? Emping Madrasah itu ide Nayla dan ibu-ibu di sini. Nggak ada hubungannya sama Mas," kata Fardhan dengan suara yang ia paksa tenang.

Raka mengeluarkan laptop tipis dari ranselnya dan membukanya di atas karung goni. Di layar laptop itu ada folder dengan nama "PROJECT DESA TERLUPAKAN - NAYLA & RAKA 2024".

"Lihat ini, Ustadz. Tahun lalu, gue sama Nayla pernah survei beberapa desa di Kuningan buat tugas mata kuliah Dokumenter Sosial. Salah satunya Karangtawang. Waktu itu kita ngobrol sama Bu Tati juga. Ide bikin brand emping dengan cerita madrasah itu ide gue, Ustadz. Gue yang nulis di proposal tugas kelompok kita. Nayla cuma bagian gambar. Ada tanda tangan dia di sini," kata Raka sambil menunjukkan file PDF proposal dengan tanda tangan Nayla di bawahnya.

Fardhan membaca proposal itu dengan teliti. Memang ada tulisan tangan: "Ide: Branding Emping Berbasis Komunitas Madrasah - Karangtawang - oleh Raka Pratama & Nayla Adinda".

Tanggal proposal: 12 November 2024. Setahun yang lalu.

"Ini... ini bener tulisan Nayla?" tanya Fardhan pelan.

"Bener, Ustadz. Tanya aja Bu Tati. Tahun lalu gue sama Nayla pernah kesini. Cuma sebentar, nggak nginep. Waktu itu madrasah masih sepi, belum kebakar. Nayla janji mau lanjutin ide ini buat tugas akhirnya, bareng gue. Tapi terus dia malah ngilang, nggak bisa dihubungi tiga bulan, ternyata kabur ke sini dan bikin brand itu sama lo, tanpa ngajak gue," jelas Raka, nadanya dibuat seolah ia korban.

Laras yang ikut membaca proposal itu dari belakang Fardhan, berbisik,

"Ndan, jangan percaya dulu. Bisa aja ini akal-akalan dia. Nayla nggak pernah cerita punya pacar namanya Raka."

"Aku juga nggak tau, Ras. Nayla cuma cerita kalau dia punya kakak tingkat yang ngajarin kamera. Nggak cerita kalau mantan pacar," jawab Fardhan pelan.

Raka mendengar bisikan mereka dan tersenyum licik.

"Ustadz, gue nggak mau ribut. Gue cuma mau hak gue. Kalau Emping Madrasah itu sekarang viral dan ditawar lima ratus juta, harusnya ada bagian gue dong. Kan ide awalnya dari gue. Gue mau 50%. Atau, gue laporin ke panitia lomba di Jakarta besok. Film Nayla pasti didiskualifikasi, dan dia nggak akan dapat hadiah lima puluh juta itu. Malah bisa dapat sanksi akademik, nggak lulus kuliah."

Ancaman itu membuat Fardhan terdiam. Lima puluh juta itu adalah harapan Nayla untuk membuktikan bahwa ia bisa jadi seniman tanpa embel-embel anak juragan atau istri ustadz. Jika filmnya didiskualifikasi karena tuduhan plagiat, mimpi Nayla hancur. Dan pernikahan mereka yang sudah tertunda, akan semakin tertunda.

"Mas Raka mau berapa?" tanya Fardhan akhirnya.

"Gue mau 50% dari brand Emping Madrasah. Atau gue mau Nayla balikan sama gue. Pilih. Gue kasih waktu sampai besok pagi, sebelum lomba dimulai jam sembilan di Jakarta. Kalau besok pagi gue nggak dapat jawaban, gue naik travel ke Jakarta dan gue laporin Nayla ke panitia," kata Raka sambil menutup laptopnya dan berdiri.

"Mas ini ngancem?" tanya Laras dengan nada marah.

"Bukan ngancem, Neng. Ini bisnis. Seni itu bisnis, Neng. Nggak ada yang gratis. Nayla tau itu," jawab Raka sambil memakai kembali ranselnya.

"Mas Raka nginep di mana malam ini?" tanya Fardhan.

"Di rumah Bu Tati. Kan dulu gue pernah nginep di sana juga sama Nayla tahun lalu. Bu Tati masih inget gue," jawab Raka, lalu ia berjalan pergi meninggalkan pelaminan karung goni, meninggalkan Fardhan dan Laras dengan proposal plagiat di layar laptop yang masih menyala.

Setelah Raka pergi, Laras langsung mengambil ponselnya.

"Ndan, kita harus telepon Nayla sekarang! Kasih tau kalau mantannya datang dan ngancem!"

Fardhan menahan tangan Laras.

"Jangan, Ras. Nayla lagi fokus lomba besok. Kalau kita kasih tau sekarang, dia pasti down. Filmnya bisa berantakan."

"Terus kita biarin aja dia diancam gitu, Ndan? Raka itu jelas-jelas mau meras!"

Fardhan menatap pelaminan kosong di depannya. Pelaminan yang seharusnya jadi saksi cintanya, kini jadi saksi pemerasan.

"Ras, tolong antar aku ke rumah Bu Tati. Aku mau ngobrol sama Raka. Berdua aja. Laki-laki sama laki-laki."

"Ndan, jangan! Dia gondrong, tatoan! Nanti kamu dipukulin!"

"Nggak, Ras. Aku nggak akan berantem. Aku mau dengerin ceritanya. Siapa tau ada yang disembunyiin Nayla dari aku," kata Fardhan, suaranya pelan tapi ada luka di sana.

Luka karena baru sadar, ternyata Nayla punya masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan di antara tumpukan melinjo.

༺♡༻

Rumah Bu Tati malam itu lebih berisik dari biasanya. Bukan karena ada yang goreng emping, tapi karena ada Raka yang duduk di ruang tamu dengan kaki naik ke kursi, menceritakan kehebatan dirinya di Jakarta dan Bandung pada Bu Tati yang mendengarkan dengan melongo.

"Jadi gitu, Bu, saya itu sekarang sudah jadi asisten dosen. Film saya kemarin masuk festival di Jogja. Makanya saya kaget waktu tau ide saya sama Nayla dipakai di sini tanpa izin," kata Raka.

Fardhan dan Laras masuk.

"Mas Raka, bisa ngobrol sebentar di luar? Berdua aja?" kata Fardhan.

Raka menatap Fardhan, lalu mengangguk.

"Oh, Ustadz Emping mau ngobrol jantan ya? Boleh."

Mereka berdua keluar ke bale bambu belakang warung Bu Tati, tempat biasanya Nayla dan Fardhan ngupas melinjo. Bau melinjo masih ada di sana.

"Gini, Mas Raka, saya mau jujur. Saya nggak tau hubungan Mas sama Nayla dulu kayak gimana. Nayla nggak pernah cerita detail. Tapi yang saya tau, Nayla itu orang baik. Dia nggak mungkin plagiat ide orang. Apalagi ide mantan pacarnya sendiri," kata Fardhan membuka.

Raka tertawa dan menyalakan rokok lagi.

"Ustadz, lo polos banget ya. Cewek kalau sudah kepepet tugas akhir, apa aja dilakuin, Ustadz. Apalagi cewek manja kayak Nayla. Dulu dia manja banget sama gue, Ustadz. Apa-apa minta dibeliin. Kamera, kanvas, cat. Gue yang beliin pakai uang kos gue. Terus pas gue minta balikan modal, dia malah putusin gue dan bilang gue matre."

Fardhan mengepalkan tangan, tapi ia tahan.

Lihat selengkapnya