CEMBURU YANG MEMBAKAR
Kepercayaan mulai retak
༺♡༻
Sirine polisi itu tidak jadi berhenti di madrasah.
Motor trail Pak Kuwu dengan jerigen bensin memang terlihat di ujung jalan, tapi ia tidak sampai ke madrasah baru. Warga yang masih memegang obor bambu untuk merayakan pernikahan Fardhan dan Nayla jam empat pagi itu langsung menghadangnya di pertigaan. Bu Tati yang paling depan melemparkan ember berisi air cucian emping ke arah Pak Kuwu.
"Balik, Kuwu! Jangan bakar lagi madrasah kami!" teriak Bu Tati.
Pak Kuwu jatuh dari motornya, jerigen bensinnya tumpah ke sawah. Polisi langsung membekuknya lagi, kali ini dengan borgol yang lebih ketat. Ia dibawa kembali ke Polsek dengan teriakan warga yang masih marah.
Pernikahan yang hampir berakhir dengan kebakaran kedua itu akhirnya selesai juga jam lima pagi, dengan doa yang dipimpin Pak Haji Sobari yang suaranya bergetar karena mengantuk dan haru.
Setelah semua warga pulang dengan obornya masing-masing, tinggal Fardhan dan Nayla berdua di madrasah baru yang masih setengah jadi. Pelaminan karung goni masih di sana. Piala juara satu Nayla dari Jakarta masih di atas meja. Dan di tangan Nayla, masih ada ponsel dengan foto USG yang belum sempat ia jelaskan sebelum sirine polisi tadi memotongnya.
"Mas," kata Nayla pelan, setelah memastikan tidak ada orang lagi di madrasah. "Tadi aku mau nunjukin sesuatu."
Fardhan yang masih memakai baju koko putih dengan noda semen, duduk di samping Nayla di atas tikar pandan. Ia masih memegang buku nikah yang baru ditandatangani penghulu, masih hangat.
"Apa, Nay? Foto USG? Kamu... kamu sakit?" tanya Fardhan, mencoba berpikir positif. Ia belum pernah melihat foto USG sebelumnya, selain di buku pelajaran.
Nayla menarik napas panjang. Wajahnya yang tadi bahagia karena baru saja sah menjadi istri Fardhan, kini tegang lagi.
"Mas, aku nggak sakit. Tapi aku... aku harus jujur. Ini tentang Raka. Dan tentang kenapa aku kabur kemarin pas mau nikah," kata Nayla, suaranya pelan sekali.
Fardhan meletakkan buku nikahnya dan menatap Nayla lekat-lekat.
"Nay, kamu bilang Raka itu mantan pacar dua tahun lalu. Sudah selesai. Kan kemarin Raka sudah pulang ke Bandung, sudah minta maaf. Sudah hapus proposalnya. Apalagi yang harus dijujurin?"
Nayla membuka foto USG itu lagi dan menyodorkannya pada Fardhan.
"Mas, ini bukan USG aku."
Fardhan mengerutkan kening dan mengambil ponsel itu. Di foto USG itu ada tulisan: Nama: Hj. Lilis Darsono - Usia Kandungan: 8 minggu.
"Hj. Lilis Darsono? Itu... itu ibu kamu?" tanya Fardhan kaget.
Nayla mengangguk, air matanya langsung jatuh.
"Iya, Mas. Ibu aku hamil lagi. Umur 42 tahun. Hamil 8 minggu. Tadi sore sebelum lomba, Ibu pingsan di TIM. Aku bawa ke rumah sakit. Dokter bilang Ibu hamil. Makanya aku kabur kemarin pas mau nikah. Bukan karena aku takut jadi istri Ustadz. Tapi karena aku takut... takut Ibu kenapa-napa. Ibu kan sudah tua, Mas. Hamil di umur segitu bahaya."
Fardhan terdiam. Ia baru saja menikah, dan langsung dapat kabar calon adik ipar yang masih di dalam kandungan.
"Terus kenapa kamu nggak bilang dari kemarin, Nay? Kenapa bilang mau ke Jakarta buat lomba? Kenapa nggak bilang Ibu hamil?" tanya Fardhan.
"Karena Bapak nggak bolehin bilang ke siapa-siapa dulu, Mas. Bapak takut warga ngomongin. Juragan emping hamil lagi di umur 42, nanti dikira... dikira macem-macem. Bapak malu. Makanya Bapak suruh aku bilang ke semua orang aku ke Jakarta buat lomba aja. Padahal lomba itu sudah selesai minggu lalu. Piala ini... piala ini memang aku menang minggu lalu, bukan kemarin. Aku bohong, Mas," kata Nayla sambil menangis.
Pengakuan itu seperti ember air dingin yang disiramkan ke pelaminan karung goni yang baru saja sah.
Fardhan menatap piala juara satu itu, lalu menatap foto USG ibu mertuanya.
"Jadi... kemarin kamu kabur dari pelaminan bukan karena takut nikah sama aku, tapi karena ibu kamu hamil dan kamu harus temenin ke rumah sakit?"
Nayla mengangguk sambil terisak.
"Iya, Mas. Maaf ya, Mas. Aku bohong lagi. Aku sudah janji nggak akan bohong lagi setelah rahasia anak juragan emping itu. Tapi aku bohong lagi."
Fardhan seharusnya lega. Seharusnya ia memeluk Nayla dan bilang tidak apa-apa. Tapi yang muncul di kepalanya bukan rasa lega, tapi rasa curiga yang baru, yang lebih panas daripada api yang hampir membakar madrasah tadi.
"Terus Raka ngapain di Jakarta kemarin, Nay? Laras bilang Raka datang ke Karangtawang mau tagih janji. Janji apa? Janji nikah juga? Dan kenapa foto USG ibu kamu ada di HP kamu, tapi kemarin waktu di TIM, kamu bilang kamu pingsan karena kecapekan lomba? Kamu bohong lagi sama aku, Nay?"
Nada suara Fardhan mulai meninggi. Cemburu yang ia tahan sejak Raka datang dengan proposal plagiat dan cerita mantan pacar itu, kini mulai terbakar.
"Mas Fardhan, jangan gitu dong, Mas. Aku nggak bohong soal Raka. Raka memang datang, tapi sudah aku suruh pulang. Aku nggak ada apa-apa sama Raka lagi, Mas. Sumpah," kata Nayla, mencoba menggenggam tangan Fardhan.
Fardhan melepaskan genggaman itu pelan.
"Nay, aku baru pulang dari Turki tiga minggu lalu, aku langsung nikah sama kamu. Aku tolak tawaran lima ratus juta demi kamu dan demi madrasah ini. Aku tungguin kamu di pelaminan karung goni ini sampai jam lima pagi. Dan sekarang kamu bilang kamu bohong lagi? Dua kali bohong dalam seminggu, Nay? Gimana aku bisa percaya lagi?"
Nayla terdiam. Kata-kata "gimana aku bisa percaya lagi" itu lebih menyakitkan daripada api yang membakar madrasah lama.
Di luar madrasah baru, azan Subuh mulai berkumandang dari masjid Jami'. Pernikahan mereka yang baru berumur satu jam, sudah diuji dengan kepercayaan yang mulai retak.
༺♡༻
Pagi setelah akad jam empat pagi itu, tidak ada malam pertama yang indah.
Fardhan memilih tidur di serambi masjid Jami', bukan di rumah kecil kayu di belakang madrasah baru yang sudah disiapkan Hj. Maryam untuk mereka berdua. Nayla tidur di rumah Bu Tati, di kamar kos lamanya, dengan piala dan foto USG ibunya.
Warga yang melihat Fardhan tidur di masjid pagi-pagi, langsung berbisik-bisik lagi.
"Katanya baru nikah semalam, kok sudah tidur di masjid?"
"Berantem ya? Kasihan, belum sehari sudah berantem."
Laras yang datang membawa kopi ke masjid, melihat Fardhan yang menatap kosong ke arah sawah.
"Ndan, kamu ngapain tidur di sini? Kan sudah punya istri, sudah punya rumah baru di belakang madrasah?" tanya Laras sambil duduk di sebelahnya.
Fardhan menghela napas panjang.
"Ras, Nayla bohong lagi sama aku."
"Bohong apa lagi, Ndan? Bukannya sudah selesai soal anak juragan emping dan soal Raka?"
Fardhan menceritakan semuanya, dari foto USG ibunya yang hamil sampai alasan Nayla kabur dari pelaminan kemarin bukan karena takut nikah tapi karena ibunya pingsan.
Laras mendengarkan dengan teliti, lalu menggeleng.
"Ndan, menurut aku, Nayla nggak bohong. Dia cuma... nutupin aib keluarga. Kan ibunya hamil di umur 42, itu kan sensitif. Apalagi bapaknya juragan, pasti malu kalau ketahuan warga. Wajar kalau dia nggak cerita ke kamu. Dia kan baru jadi istri kamu satu jam, Ndan. Nggak mungkin langsung cerita semua rahasia keluarganya."
"Tapi dia sudah janji nggak akan bohong lagi, Ras. Setelah rahasia anak juragan itu. Dia janji mau jujur. Tapi dia bohong lagi. Gimana aku bisa percaya kalau nanti ada apa-apa lagi dia bohong lagi?" kata Fardhan, suaranya frustasi.
"Ndan, kamu di Turki belajar apa sih? Belajar jadi ustadz yang gampang menghakimi orang bohong? Atau belajar jadi ustadz yang maafin orang yang bohong karena terpaksa?" tanya Laras balik, agak ketus.
Fardhan terdiam.
"Lagipula, Ndan, kamu sendiri juga bohong, kan?"
"Aku bohong apa, Ras?"
"Kamu bohong sama Nayla. Kamu bilang kamu nungguin dia di pelaminan karena cinta, padahal kamu nungguin karena gengsi. Gengsi ditinggal dua kali. Kamu bilang kamu tolak lima ratus juta karena cerita, padahal sebagian hati kamu juga takut kalau brand itu dijual, kamu nggak punya apa-apa lagi buat ngikat Nayla di Karangtawang. Kamu juga bohong, Ndan. Cuma bohongnya beda bentuk sama bohongnya Nayla."
Kata-kata Laras itu menampar Fardhan lebih keras daripada kata-kata Pak Kuwu.
"Ndan, dengerin aku. Nayla itu sudah memilih kamu, Ndan. Di antara semua laki-laki di Bandung, di antara Raka yang gondrong dan pinter seni, dia milih kamu, Ustadz Emping yang baru pulang dari Turki dan nggak bisa bedain melinjo mentah sama mateng. Itu sudah bukti cinta yang paling jujur. Jangan dirusak cuma gara-gara satu foto USG ibunya yang hamil."
Fardhan menatap Laras, matanya berkaca-kaca.
"Ras, aku cemburu, Ras."
"Cemburu sama siapa?"
"Cemburu sama Raka. Raka tau Nayla sebelum aku. Raka pernah pacaran sama Nayla dua tahun. Raka pernah ngajarin Nayla pakai kamera. Aku? Aku cuma bisa ngajarin Nayla ngupas melinjo. Aku takut, Ras. Takut kalau ternyata Nayla lebih nyaman sama Raka yang seniman daripada sama aku yang ustadz."
Laras tersenyum dan menepuk pundak Fardhan.
"Ndan, kalau Nayla lebih nyaman sama Raka, dia nggak akan pulang dari Jakarta jam tiga pagi pakai obor warga. Dia akan tetap di Jakarta sama Raka. Tapi dia pulang, Ndan. Pulang ke Karangtawang. Pulang ke pelaminan karung goni kamu. Itu jawabannya, Ndan. Jangan tanya lagi."
Fardhan mengangguk pelan. Kata-kata Laras masuk akal.
"Tapi foto USG itu, Ras... aku masih kepikiran. Kenapa harus bohong?"
"Ya tanya aja langsung sama Nayla. Jangan tanya sama aku. Aku kan cuma sahabat kamu, bukan istri kamu. Istri kamu lagi nungguin di rumah Bu Tati, pakai mahkota melinjo berantakan, nangis karena suaminya tidur di masjid habis nikah," kata Laras sambil berdiri.
"Tanya gimana, Ras? Aku malu. Baru nikah sudah berantem soal kepercayaan."
"Ya tanya pakai cara Ustadz Turki. Pakai cara yang membumi. Jangan pakai dalil. Pakai emping."
"Pakai emping?"
"Iya. Bawa emping goreng anget ke kosnya. Bilang, 'Nay, emping ini gosong gara-gara aku cemburu'. Cewek itu luluh kalau dikasih gorengan anget, Ndan. Percaya sama aku," kata Laras sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana.
Fardhan ikut tertawa kecil, untuk pertama kalinya pagi itu.
"Ras, makasih ya."
"Sama-sama, Ndan. Sekarang sana, pulang. Bawa emping. Jangan bawa api cemburu. Api cemburu itu yang bakar madrasah lama. Jangan sampai bakar madrasah baru dan pernikahan baru kamu."
Fardhan berdiri, mengambil sarungnya, dan berjalan ke warung Bu Tati, tempat istrinya yang baru satu malam menikah sedang menunggu dengan foto USG ibunya dan piala juara satu yang kini terasa hambar.
༺♡༻
Di kos Bu Tati, Nayla duduk sendirian di bale bambu belakang warung, tempat biasanya ia dan Fardhan ngupas melinjo. Piala juara satu tergeletak di sampingnya, tidak lagi dibanggakan. Foto USG ibunya masih di layar ponselnya yang sudah lowbat.
Bu Tati keluar membawa dua piring emping goreng anget.
"Neng, makan dulu. Dari tadi malam belum makan. Suami kamu mana? Katanya tidur di masjid?" tanya Bu Tati dengan nada khawatir.
"Suami..." Nayla tersenyum pahit mendengar kata itu. Baru beberapa jam jadi suami, sudah tidur di masjid karena berantem. "Mas Fardhan lagi di masjid, Bu. Lagi... lagi muhasabah."
"Muhasabah apa berantem, Neng? Ibu tau. Ibu denger semalam kalian ribut soal USG ibu kamu," kata Bu Tati, duduk di sebelah Nayla. "Neng, Ibu mau cerita sesuatu."