ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

PERTUNANGAN DI BAWAH TEKANAN

PERTUNANGAN DI BAWAH TEKANAN

Hubungan mereka diuji keluarga

༺♡༻

Surat tentang harta karun emas peninggalan Belanda di bawah lesung besar itu ternyata bohong.

Fardhan dan Nayla yang panik berlari kembali ke madrasah baru jam dua pagi itu, dengan Laras dan dua warga yang menjaga Bu Tati di Puskesmas, menemukan Pak Kuwu sudah tergeletak pingsan di depan lesung besar di tengah madrasah. Linggisnya masih di tangannya, tapi lesung besar itu tidak tergali sama sekali. Hanya lecet sedikit.

Di samping Pak Kuwu ada botol minuman keras oplosan yang tumpah. Polisi yang datang kemudian bilang, Pak Kuwu mabuk. Ia halusinasi karena dendam dan minuman. Tidak ada emas. Tidak ada harta karun Belanda. Hanya ada lesung tua berisi debu dan kenangan.

"Maaf, Ndan... maaf... saya ngelindur... saya mimpi ada emas..." kata Pak Kuwu dengan suara mabuk sebelum dibawa lagi ke Polsek, kali ini untuk direhabilitasi, bukan hanya ditahan.

Malam itu, setelah Pak Kuwu dibawa pergi untuk kedua kalinya, Fardhan dan Nayla duduk berdua di dalam madrasah baru, di samping lesung besar yang menjadi pusat gosip emas itu. Lesung itu kini mereka jadikan meja. Di atasnya ada dua gelas teh yang sudah dingin dan buku nikah mereka yang baru berumur dua hari.

"Mas, ternyata nggak ada emasnya ya," kata Nayla pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Fardhan.

"Nggak ada, Nay. Emasnya cuma ada di cerita Pak Kuwu yang mabuk. Emas kita yang beneran itu ya ini, madrasah ini, ibu-ibu, emping," jawab Fardhan sambil mengelus rambut Nayla yang masih berantakan karena lari-lari tengah malam.

Mereka pikir setelah Pak Kuwu mabuk dan ditangkap lagi, masalah selesai. Ternyata masalah baru yang lebih berat justru datang bukan dari luar, tapi dari dalam keluarga mereka sendiri.

Pagi harinya, jam tujuh, saat mereka baru saja selesai shalat Subuh berjamaah di madrasah baru itu untuk pertama kalinya sebagai suami istri, dua mobil datang bersamaan dari dua arah.

Dari arah Linggarjati, mobil Kijang hitam H. Darsono dan Hj. Lilis yang sedang hamil 8 minggu. Dari arah Kuningan kota, mobil Avanza putih Pak Haji Sobari dan Hj. Maryam yang membawa rantang besar berisi nasi liwet.

Dua keluarga besar itu turun dengan wajah yang sama-sama tegang, bukan wajah bahagia habis menikahkan anak.

"Fardhan! Nayla! Sini! Bapak sama Ibu mau ngomong penting!" teriak H. Darsono dari halaman madrasah.

"Ndan! Neng! Bapak sama Ibu juga mau ngomong penting! Soal masa depan kalian!" teriak Pak Haji Sobari dari arah berlawanan.

Fardhan dan Nayla yang baru saja selesai berdoa, saling pandang. Pertunangan mereka yang kemarin sudah sah menjadi pernikahan jam empat pagi karena obor warga, kini akan diuji lagi, bukan oleh Pak Kuwu atau Raka, tapi oleh dua ayah dan dua ibu yang sangat mencintai mereka.

"Mas, kayaknya mau ada rapat keluarga besar ya," bisik Nayla.

"Kayaknya, Nay. Dan kayaknya kita yang jadi bahan rapatnya," bisik Fardhan balik.

Mereka berdua berjalan pelan ke tengah halaman, ke antara dua mobil yang parkir berhadapan, seperti dua kubu yang siap berunding.

Di tengahnya ada lesung besar yang semalam hampir digali Pak Kuwu karena halusinasi emas.

༺♡༻

Rapat keluarga itu diadakan di dalam madrasah baru yang masih beraroma semen basah. Tidak ada warga lain, hanya keluarga inti: Pak Haji Sobari, Hj. Maryam, H. Darsono, Hj. Lilis yang duduk di kursi roda, Fardhan, dan Nayla.

H. Darsono membuka pembicaraan.

"Gini, Nak. Bapak sama Ibu, sama Pak Sobari sama Bu Maryam, semalam sudah teleponan sampai jam dua pagi, setelah Pak Kuwu ditangkap lagi. Kita semua sepakat, pernikahan kalian kemarin jam empat pagi itu sah secara agama, tapi belum sah secara adat dan belum sah secara negara. Belum ada resepsi, belum ada catatan KUA. Penghulunya kemarin juga masih ngantuk, takutnya salah catat."

Pak Haji Sobari mengangguk.

"Betul, Ndan. Bapak juga mikir gitu. Masa nikah cuma pakai obor bambu sama pelaminan karung goni. Nggak pantas buat anak Bapak yang lulusan Turki dan anak Pak Darsono yang juara film. Harus ada resepsi besar. Biar warga Karangtawang dan Linggarjati tau, janji dua ayah itu sudah jadi kenyataan."

Fardhan dan Nayla saling pandang. Mereka baru saja melewati cemburu yang membakar, Pak Kuwu mabuk emas, Bu Tati ditabrak, dan sekarang disuruh resepsi besar.

"Bapak, Ibu, resepsi besar itu perlu uang banyak, Pak. Kami baru aja nolak lima ratus juta dari Jakarta. Uang kami cuma dari emping yang kemarin habis kebakar. Dari mana uang buat resepsi besar?" tanya Fardhan jujur.

H. Darsono langsung menjawab, "Soal uang jangan khawatir, Ndan. Bapak yang biayain semua. Bapak punya uang. Bapak mau bikin resepsi di gedung paling besar di Kuningan. Undang 500 orang. Ada organ tunggal, ada kambing guling."

"Justru itu, Pak," sela Nayla pelan. "Aku nggak mau resepsi besar di gedung, Pak. Aku maunya resepsi di sini, di madrasah ini, di antara tumpukan melinjo. Kayak akad kemarin. Sederhana. Pakai emping, bukan kambing guling."

Hj. Maryam, ibu Fardhan, yang dari tadi diam, ikut bicara.

"Neng, Ibu ngerti kamu mau sederhana. Tapi kamu itu sekarang bukan cuma Nayla, anak kos Bu Tati. Kamu sekarang menantu Pak Haji Sobari, istri Ustadz lulusan Turki. Kalau resepsinya cuma di madrasah pakai emping, nanti orang ngomongin Bapak. Dibilang Pak Haji Sobari nggak modal nikahin anaknya. Dibilang pelit."

Hj. Lilis, ibu Nayla, yang sedang hamil dan duduk di kursi roda, juga ikut bicara dengan suara lemah.

"Neng, Ibu juga maunya kamu resepsi besar, Nduk. Biar Ibu bisa pamer sama teman-teman arisan di Linggarjati, kalau anak Ibu nikah sama Ustadz dari Turki. Bukan nikah sama seniman gondrong kayak Raka itu."

Nama Raka disebut lagi, membuat Fardhan sedikit mengerutkan kening, meski Raka sudah berdamai kemarin.

"Jadi gini," kata Pak Haji Sobari, mencoba menengahi. "Kita bikin dua resepsi. Satu di Linggarjati, besar, di gedung, biayain Pak Darsono. Satu di Karangtawang, sederhana, di madrasah, biayain Bapak. Gimana?"

H. Darsono langsung protes.

"Nggak bisa, Bar! Masa resepsi dua kali? Boros! Mending satu aja yang besar di Linggarjati. Biar sekalian syukuran Ibu hamil juga. Dua syukuran jadi satu."

"Kalau di Linggarjati terus, Karangtawang gimana, Son? Warga Karangtawang yang sudah gotong royong bangun madrasah ini, yang sudah begadang pakai obor sambut Nayla pulang dari Jakarta, masa nggak diundang resepsi? Mereka yang punya Emping Madrasah juga," balas Pak Haji Sobari, suaranya mulai meninggi.

Fardhan dan Nayla melihat dua ayah mereka yang baru baikan setelah dua belas tahun musuhan, kini hampir berantem lagi, gara-gara resepsi pernikahan anak-anak mereka.

"Pak, Pak, sudah, jangan berantem lagi," kata Fardhan mencoba menengahi.

"Mas Fardhan bener, Pak. Jangan berantem gara-gara resepsi aku sama Mas Fardhan. Kami... kami sebenarnya belum siap resepsi besar, Pak. Kami baru nikah dua hari, masih banyak yang harus dibenerin. Madrasah baru setengah jadi, Bu Tati masih di Puskesmas, empingnya belum jalan lagi," kata Nayla.

H. Darsono menatap anaknya.

"Nduk, justru karena Bu Tati di Puskesmas, kita harus bikin resepsi besar, biar Bu Tati seneng. Biar dia lihat, anak kosnya yang dulu dia tampung di rumah reotnya, sekarang jadi pengantin besar."

"Pak, Bu Tati senengnya bukan lihat resepsi besar, Pak. Bu Tati senengnya lihat empingnya laku. Bukan lihat organ tunggal," jawab Nayla, suaranya mulai bergetar, antara sedih dan marah.

Hj. Maryam menatap menantunya itu dengan tatapan baru.

"Neng Nayla, Ibu tanya jujur. Kamu beneran mau nikah sama Fardhan? Atau kamu masih ragu karena Raka? Atau karena kamu masih pengen jadi seniman di Bandung, nggak mau jadi istri ustadz di Karangtawang?" tanya Hj. Maryam tiba-tiba, pertanyaannya menusuk.

Semua orang di madrasah itu terdiam. Pertanyaan yang selama ini hanya ada di bisik-bisik ibu-ibu pengajian, kini diucapkan langsung oleh ibu mertua.

Nayla membeku. Fardhan juga membeku.

"Bu..." kata Nayla pelan.

༺♡༻

Pertanyaan Hj. Maryam itu membuat suasana di madrasah baru yang tadinya hangat karena semen baru, menjadi dingin.

H. Darsono yang mendengar pertanyaan itu langsung berdiri membela anaknya.

"Bu Maryam, jangan gitu dong! Anak saya sudah jelas mau nikah sama Fardhan! Buktinya dia pulang dari Jakarta jam tiga pagi pakai obor! Kalau dia masih ragu sama Raka, ngapain dia pulang?!"

"Pak Darsono, saya tanya begini karena saya sayang sama anak saya, Fardhan," jawab Hj. Maryam, tidak mau kalah. "Fardhan itu baru pulang dari Turki, cita-citanya jadi ulama besar. Bukan jadi penjaga toko emping. Kalau Nayla masih pengen jadi seniman di Bandung, kasihan Fardhan. Nanti Fardhan ikut ke Bandung, madrasah ini siapa yang jaga? Bapaknya sudah tua."

Pak Haji Sobari mencoba menengahi istrinya.

"Bu, sudah, jangan ngomong gitu di depan anak-anak."

"Tidak, Pak! Ibu harus ngomong! Biar jelas! Daripada nanti cerai di tengah jalan gara-gara beda cita-cita! Mending ribut sekarang daripada cerai nanti!" kata Hj. Maryam dengan emosi.

Fardhan yang dari tadi diam, akhirnya bicara.

"Bu, Pak, sudah. Jangan berantem karena kami."

Ia berdiri dan menggenggam tangan Nayla yang dingin.

"Bu Maryam, Pak Darsono, Pak Haji Sobari, Bu Lilis, dengerin kami berdua. Kami nikah kemarin jam empat pagi bukan karena disuruh, bukan karena janji dua ayah, bukan karena emping. Kami nikah karena kami saling cinta. Cinta yang tidak direncanakan. Cinta yang tumbuh di antara tumpukan melinjo. Nayla mau jadi seniman, saya mau jadi ustadz. Itu bukan beda, Bu. Itu lengkap. Madrasah ini butuh dua-duanya. Butuh ngaji dan butuh gambar. Karangtawang butuh dua-duanya."

Nayla mengangguk sambil menangis.

"Iya, Bu, Pak. Aku mau jadi seniman, tapi aku juga mau jadi istri Mas Fardhan. Aku nggak mau pilih salah satu. Aku mau dua-duanya. Aku mau tinggal di Karangtawang, ngajar gambar di madrasah ini, sambil kuliah online dari Bandung buat selesaikan S1 ku. Boleh kan, Pak? Bu?" kata Nayla, menatap kedua ayah dan kedua ibunya bergantian.

Hj. Lilis yang hamil dan duduk di kursi roda, tersenyum lemah.

"Boleh, Nduk. Ibu setuju. Ibu dulu juga pengen jadi guru TK, tapi disuruh bapak Ibu jadi ibu rumah tangga. Ibu nggak mau kamu kayak Ibu. Kamu jadi apa aja yang kamu mau, Nduk. Asal jangan tinggalin Fardhan kayak kamu tinggalin Raka dulu."

Nama Raka disebut lagi oleh ibunya sendiri, membuat Nayla semakin terpojok.

Lihat selengkapnya