EMPING YANG TERANCAM HILANG
Usaha keluarga Nayla dilanda krisis
༺♡༻
Langit Linggarjati malam itu tidak hitam, tapi merah.
Api dari gudang PT. Emping Hj. Darsono Jaya membumbung tinggi, menjilati langit, terlihat sampai dari Karangtawang yang jaraknya tiga kilometer. Bau melinjo gosong yang biasanya harum kalau digoreng, malam itu menjadi bau gosong yang menyengat, bau kerugian, bau dendam.
Fardhan, Nayla, dan H. Darsono tiba di lokasi dengan mobil Kijang yang ngebut. Polisi sudah ada, pemadam sudah ada, tapi api terlalu besar. Gudang stok 2 ton emping mentah dan emping jadi yang siap kirim ke Jakarta besok, ludes. Karung-karung goni berjatuhan, plastik kemasan meleleh, lesung-lesung besi untuk menumbuk melinjo menghitam.
Hj. Lilis yang sedang hamil 8 minggu dan seharusnya bed rest, ikut datang dengan kursi roda, didorong Laras yang menyusul belakangan. Ia menangis melihat pabrik yang ia bangun bersama suaminya dari nol itu terbakar.
"Pak... pabrik kita... habis, Pak..." kata Hj. Lilis dengan suara lemah.
H. Darsono yang biasanya tegar sebagai juragan, malam itu terduduk di tanah, di depan gudangnya yang terbakar, memegang kepala.
"Habis, Mah... 2 ton... pesanan Jakarta... uang muka 100 juta sudah masuk... gimana gantinya, Mah..."
Nayla berdiri mematung di samping Fardhan, memegang tangan suaminya erat-erat. Piala juara satu film dokumenternya yang kemarin ia bawa pulang dengan bangga, kini terasa tidak ada artinya di depan api yang melahap warisan keluarganya.
"Mas, ini... ini gara-gara Pak Kuwu ya, Mas? Yang tulis surat mau bakar Linggarjati kalau Karangtawang nggak jadi miliknya?" tanya Nayla, suaranya bergetar.
Fardhan mengangguk, matanya menatap motor trail Pak Kuwu yang terparkir di bawah pohon waru dengan jerigen kosong dan linggis tertancap surat, yang sudah diamankan polisi sebagai barang bukti.
"Iya, Nay. Polisi bilang Pak Kuwu kabur lagi dari Polsek sore tadi. Nggak tau gimana caranya. Dia langsung kesini bawa bensin. Warga lihat dia siram-siram gudang jam sembilan malam."
Seorang polisi datang mendekati H. Darsono.
"Pak Haji, kami sudah tangkap Pak Kuwu di sawah belakang pabrik. Dia mabuk lagi. Ngomongnya ngelantur soal emas di bawah lesung. Kami bawa ke Polres Kuningan malam ini juga, biar nggak kabur lagi. Tapi untuk kerugian... kami nggak bisa ganti, Pak. Bapak harus klaim asuransi."
"Asuransi, Pak? Pabrik kami nggak ada asuransinya, Pak. Dari dulu nggak pernah diasuransikan. Katanya mubazir," jawab H. Darsono lemas.
Fardhan dan Nayla saling pandang. Krisis itu nyata. Bukan lagi krisis kepercayaan atau cemburu, tapi krisis ekonomi. Pabrik keluarga Nayla yang menjadi tulang punggung Karangtawang dan Linggarjati, terancam hilang semalam.
Di kejauhan, Bu Tati yang kakinya masih diperban karena ditabrak Pak Kuwu kemarin, datang dengan motor yang dibonceng anaknya, membawa rantang.
"Pak Haji! Neng Nayla! Ini emping sisa kemarin yang nggak kebakar di madrasah, masih ada sedikit. Biar nggak lapar nungguin pemadam," kata Bu Tati.
Emping sisa yang kemarin mereka goreng untuk resepsi sederhana, kini menjadi satu-satunya emping yang tersisa dari kerajaan emping H. Darsono yang semalam masih berjaya.
Malam itu, emping yang terancam hilang bukan hanya emping di gudang, tapi juga harapan ratusan pengrajin di Karangtawang yang setor ke pabrik itu.
༺♡༻
Pagi harinya, setelah api padam jam empat pagi, kerugian dihitung.
Bukan hanya 2 ton emping yang habis. Tapi juga 3 mesin tumbuk besar, 1 mesin vakum packaging, dan atap gudang yang roboh. Total kerugian ditaksir pengacara H. Darsono: 800 juta rupiah. Termasuk uang muka pesanan Jakarta 100 juta yang harus dikembalikan, plus denda keterlambatan 50 juta.
H. Darsono yang semalam masih tegar, pagi itu jatuh sakit. Tekanan darahnya naik, ia harus dirawat di Puskesmas yang sama tempat Bu Tati dirawat kemarin karena ditabrak Pak Kuwu. Kini juragan dan korban tabraknya dirawat bersebelahan.
Di ruang Puskesmas yang sempit, rapat darurat keluarga digelar. Ada H. Darsono yang terbaring dengan infus, Hj. Lilis yang hamil dengan kursi roda, Nayla, dan Fardhan.
"Nduk, Bapak bingung, Nduk. Uang Bapak habis buat bangun madrasah baru kemarin. Sisa uang cuma 50 juta. Buat ganti rugi Jakarta aja kurang. Apalagi buat bangun gudang lagi. Gimana, Nduk?" kata H. Darsono dengan suara lemah.
Hj. Lilis yang hamil ikut menangis.
"Nayla, maafin Ibu sama Bapak ya, Nduk. Gara-gara Ibu hamil lagi, Bapak jadi banyak pikiran, pabrik jadi nggak keurus, sampai kebakar begini."
Nayla yang baru menikah dua hari, yang seharusnya sedang bulan madu di rumah kayu kecil belakang madrasah, kini harus menjadi pemimpin rapat krisis keluarga.
"Bapak, Ibu, jangan nangis dulu. Kita cari solusi bareng-bareng," kata Nayla, mencoba tegar meski matanya juga berkaca-kaca.
Fardhan yang duduk di samping Nayla menggenggam tangan istrinya.
"Pak, Bu, saya ada ide. Gimana kalau kita pakai uang hadiah lomba film Nayla yang 50 juta itu buat ganti rugi uang muka Jakarta dulu? 50 juta kan lumayan, bisa buat balikin setengahnya. Sisanya kita cicil. Sambil kita jualan Emping Madrasah lagi, yang stoknya masih ada sedikit di madrasah. Kan kemarin kita tolak tawaran 500 juta dari Jakarta, tapi kita masih punya brandnya. Kita bisa jual lagi lewat Instagram, biar dapat uang cepat."
H. Darsono menatap Fardhan.
"Fardhan, uang lomba itu kan hak Nayla. Buat bukti dia bisa jadi seniman. Masa dipakai buat ganti rugi pabrik Bapak? Bapak malu, Ndan."
"Bapak, sekarang kita sudah keluarga, Pak. Harta Nayla harta saya juga, harta Bapak juga. Dulu Bapak pernah pinjam sertifikat madrasah Bapak saya buat bangun pabrik ini. Sekarang saya pinjam uang hadiah istri saya buat selamatkan pabrik Bapak. Sama-sama pinjam. Sama-sama janji dua ayah," jawab Fardhan.
Nayla mengangguk.
"Iya, Pak. Aku setuju uang lombanya dipakai buat pabrik. Toh pialanya sudah ada, filmnya sudah diputar di mana-mana. Uangnya buat keluarga aja."
H. Darsono menangis lagi, kali ini tangis haru.
"Nduk, Ndan, makasih ya..."
Tapi masalah tidak selesai dengan 50 juta. Masih ada 100 juta denda dan biaya bangun gudang.
Saat itu, Laras masuk ke Puskesmas dengan membawa map dan laptop, bersama Raka yang ternyata belum pulang ke Bandung, masih di Karangtawang karena khawatir soal laporan plagiat kemarin.
"Pak Haji, Bu Haji, Fardhan, Nayla, maaf ganggu. Ada kabar dari Jakarta," kata Laras.
"Pak Hendra yang kemarin mau beli brand Emping Madrasah 500 juta itu telepon lagi tadi pagi. Katanya dia dengar pabrik PT. Darsono kebakaran dari Instagram. Dia bilang dia mau bantu. Bukan beli brand, tapi investasi. Dia mau pinjamkan 500 juta tanpa bunga, buat bangun gudang lagi. Syaratnya, Emping Madrasah harus jadi supplier tetap emping organik buat startupnya selama 3 tahun, dengan harga 40 ribu per kilo. Gimana?" jelas Laras.
Ruangan Puskesmas itu hening. Tawaran 500 juta yang kemarin mereka tolak karena takut cerita hilang, kini datang lagi, tapi sebagai pinjaman tanpa bunga, bukan sebagai pembelian brand.
H. Darsono menatap Fardhan dan Nayla.
"Gimana, Nduk, Ndan? Kalian yang punya brand. Bapak serahkan ke kalian."
Fardhan menatap Nayla. Nayla menatap piala juara satunya yang ia bawa ke Puskesmas.
"Mas, kalau kita terima pinjaman 500 juta itu, kita bisa selamatkan pabrik Bapak. Tapi kita jadi punya hutang besar sama orang Jakarta. Dan kita harus setor emping 40 ribu selama 3 tahun. Padahal harga emping bisa naik. Gimana, Mas?" tanya Nayla.
Fardhan menghela napas.
"Nay, hutang itu nggak apa-apa kalau buat bangun, bukan buat foya-foya. Dulu Bapak pinjam sertifikat madrasah kakek buat bangun pabrik ini, dan pabrik ini jadi besar. Sekarang kita pinjam uang orang Jakarta buat bangun lagi pabrik ini, biar bisa lebih besar lagi. Bedanya, dulu Bapak pinjam diam-diam dan hampir bikin madrasah disita. Sekarang kita pinjam terang-terangan, dengan akad yang jelas, di depan ibu-ibu dan di depan Allah. Aku setuju, Nay."
Nayla mengangguk.
"Aku juga setuju, Mas. Asal satu syarat, Pak Hendra nggak boleh atur-atur resep dan cerita Emping Madrasah. Cerita tetap punya Karangtawang."
Raka yang dari tadi diam, ikut bicara.
"Nay, Ustadz, kalau boleh, gue mau bantu desain packaging baru yang tahan api. Eh, maksudnya yang lebih aman. Dan gue mau bantu bikin video dokumenter baru, tentang pabrik yang kebakaran dan bangkit lagi. Judulnya: BANGKIT DARI ABU. Biar orang Jakarta tau, emping Karangtawang itu nggak gampang hilang. Dibakar aja masih bangkit."
Semua orang di Puskesmas itu menatap Raka yang kini tulus ingin membantu.
H. Darsono yang terbaring dengan infus, tersenyum untuk pertama kalinya sejak pabriknya kebakaran.
"Alhamdulillah... ternyata dari kebakaran ini, kita dapat keluarga baru. Dapat menantu Ustadz, dapat desainer packaging gratis, dapat investor dari Jakarta yang baik. Allah itu memang... kalau ngambil satu gudang, digantinya dengan satu kampung yang kompak."
Tapi di luar Puskesmas, seorang wartawan dari Kuningan Info datang dengan kamera besar, siap meliput kebakaran pabrik juragan emping terbesar di Kuningan. Dan di belakang wartawan itu, ada Pak Kuwu yang sudah diborgol lagi, tapi kali ini ia tidak mabuk, ia sadar, dan ia berteriak,
"Wartawan! Wartawan! Tulis! Tulis kalau pabrik itu sengaja dibakar sama anaknya sendiri, Nayla, biar dapat uang asuransi! Saya lihat sendiri! Saya lihat Nayla siram bensin!"
Fitnah baru itu langsung membuat semua orang di Puskesmas menoleh ke arah Pak Kuwu yang berteriak-teriak di luar jendela.
༺♡༻
Fitnah Pak Kuwu yang berteriak di depan Puskesmas itu langsung menyebar lebih cepat daripada api yang membakar gudang semalam.
Wartawan Kuningan Info yang memang mencari berita sensasional, langsung merekam teriakan Pak Kuwu itu dan mengunggahnya ke Facebook dengan judul: "BREAKING NEWS: Pabrik Emping Terbesar di Kuningan Terbakar! Diduga Dibakar Anak Kandung Demi Asuransi! Kuwu Jadi Saksi!"
Dalam satu jam, postingan itu mendapat 5 ribu komentar. Warga Karangtawang dan Linggarjati yang semalam masih bersimpati pada H. Darsono, kini mulai curiga.
"Katanya anaknya juara film, ternyata tukang bakar pabrik bapaknya sendiri!"
"Pantesan nikahnya buru-buru jam empat pagi, biar dapat warisan!"
"Nayla itu kan anak juragan yang kabur, mungkin dendam sama bapaknya!"
Nayla yang membaca komentar-komentar itu di ponselnya di Puskesmas, langsung lemas dan hampir pingsan.
"Mas... Mas... orang-orang ngomongin aku... katanya aku yang bakar pabrik Bapak..." kata Nayla sambil menunjukkan ponselnya pada Fardhan dengan tangan gemetar.
Fardhan mengambil ponsel itu dan membaca komentar-komentar jahat itu. Darahnya mendidih.
"Fitnah! Ini fitnah! Pak Kuwu yang bakar, bukan Nayla! Ada CCTV! Ada bukti!" teriak Fardhan.
H. Darsono yang terbaring dengan infus langsung mencoba duduk.
"Siapa yang bilang anak saya yang bakar?! Mana wartawannya?! Bapak mau jelasin!"