ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

UTANG DI BALIK SENYUM AYAH

UTANG DI BALIK SENYUM AYAH

Masalah keuangan disembunyikan

༺♡༻

Pemakaman dua janin kembar itu dilakukan diam-diam, tanpa tahlil besar, tanpa pengeras suara.

Hanya ada H. Darsono, Hj. Lilis yang masih pucat dan duduk di kursi roda, Nayla, dan Fardhan di pemakaman keluarga di belakang pabrik yang hangus. Dua gundukan tanah kecil seukuran kepalan tangan, diberi batu nisan tanpa nama, hanya tulisan: "Amanah Allah - 8 Minggu - Kembar".

Tidak ada warga yang diundang. H. Darsono malu. Malu karena istrinya hamil di umur 42 dan keguguran, malu karena pabriknya kebakaran, malu karena 800 juta kerugiannya belum lunas.

Setelah pemakaman, Hj. Lilis dibawa pulang dan harus bed rest total. Dokter bilang, rahimnya lemah, tidak boleh stres, tidak boleh banyak pikiran.

H. Darsono yang seharusnya menemani istrinya, justru menghilang seharian. Katanya ada urusan ke bank, ke notaris, ke Kuningan kota.

Nayla dan Fardhan yang kini tinggal di rumah kayu kecil belakang madrasah baru, mulai curiga. Karena setiap malam, H. Darsono pulang dengan wajah yang dipaksakan tersenyum, tapi matanya merah seperti habis menangis.

"Bapak kenapa, Mas? Tiap malam pulang senyum, tapi matanya merah," bisik Nayla pada Fardhan malam ketiga setelah pemakaman, saat mereka menjenguk H. Darsono di rumah besar Linggarjati yang kini sepi karena pabriknya tidak beroperasi.

Fardhan juga curiga.

"Aku juga lihat, Nay. Bapak kalau ditanya soal utang 200 juta ke Bank Syariah yang kemarin nagih di madrasah, jawabnya selalu, 'Sudah beres, Ndan. Jangan dipikirin'. Padahal minggu lalu bank itu bilang mau sita mesin kalau minggu ini nggak dibayar. Sekarang sudah lewat seminggu, tapi mesinnya nggak disita. Aneh."

Malam itu, setelah Hj. Lilis tertidur karena obat, H. Darsono mengajak Fardhan dan Nayla ngobrol di teras rumah besarnya, dengan teh hangat yang ia buat sendiri, bukan dibuat pembantu, karena pembantunya sudah ia berhentikan minggu lalu dengan alasan mau hemat.

"Nduk, Ndan, Bapak mau jujur. Tapi janji jangan bilang ke Ibu dulu ya. Ibu masih bed rest, nggak boleh stres," kata H. Darsono membuka, suaranya pelan.

Nayla dan Fardhan saling pandang. Inilah yang mereka tunggu: kejujuran di balik senyum ayah yang dipaksakan seminggu ini.

"Bapak... Bapak punya utang lagi. Bukan cuma 200 juta ke Bank Syariah. Ada utang lain yang Bapak sembunyiin dari kalian, dari Ibu, dari warga," kata H. Darsono, menatap tehnya yang mengepul, tidak berani menatap anak dan menantunya.

"Utang apa lagi, Pak?" tanya Nayla, jantungnya berdegup kencang.

H. Darsono menarik napas panjang.

"Utang 1,2 Miliar ke rentenir Jakarta."

Angka itu membuat teh di tangan Nayla hampir tumpah. 1,2 Miliar. Lebih besar dari 800 juta kerugian kebakaran, lebih besar dari 500 juta hibah kementerian yang belum cair.

"1,2 Miliar, Pak? Buat apa, Pak? Pabrik kan sudah besar, nggak perlu pinjam rentenir!" tanya Fardhan kaget.

H. Darsono menunduk dalam-dalam.

"Buat nutupin kerugian pabrik yang kebakaran kemarin, Ndan. Dan buat nutupin utang Bapak yang lama ke Bank Syariah itu. Bapak pinjam rentenir minggu lalu, setelah pabrik kebakaran, karena bank nggak mau kasih pinjaman lagi. Bapak takut pabrik disita, takut warga nggak dapat kerjaan, takut Ibu tau dan keguguran lagi... eh, Ibu sudah keguguran... Bapak bingung, Ndan."

Nayla membeku. Ayahnya yang selama ini ia lihat sebagai juragan emping yang hebat, yang punya truk-truk besar, yang bisa bangun madrasah baru, ternyata di balik senyumnya yang dipaksakan seminggu ini, menyimpan utang 1,2 Miliar ke rentenir Jakarta dengan bunga 20% per bulan.

"Pak, bunga 20% per bulan itu... itu 240 juta sebulan bunganya aja, Pak! Gimana bayarnya, Pak?!" tanya Nayla panik.

H. Darsono mengangguk, air matanya jatuh ke teh hangatnya.

"Iya, Nduk. Bapak tau. Makanya Bapak senyum terus depan Ibu, biar Ibu nggak tau. Bapak takut Ibu stres lagi. Tapi Bapak nggak tau lagi harus gimana. Rentenirnya sudah telepon Bapak tadi sore, nagih. Katanya kalau minggu depan nggak bayar 240 juta bunganya, dia akan sita rumah ini. Rumah kita, Nduk. Rumah tempat kamu lahir."

Fardhan dan Nayla saling pandang. Rumah besar di Linggarjati yang menjadi simbol kejayaan keluarga Darsono, terancam disita rentenir karena utang yang disembunyikan di balik senyum ayah.

༺♡༻

Keesokan paginya, Nayla tidak masuk ke madrasah untuk mengajar gambar. Ia mengurung diri di rumah kayu kecilnya bersama Fardhan, menatap piala juara satu film dokumenternya yang kini terasa tidak ada artinya di depan utang 1,2 Miliar.

"Mas, gimana, Mas? 1,2 Miliar. Bunga 240 juta sebulan. Kita dari mana dapat uang sebanyak itu? Hibah kementerian 500 juta aja belum cair, masih nunggu BWI, masih nunggu nazir wakaf. Koperasi baru kumpul 20 juta dari iuran warga. Nggak cukup, Mas," kata Nayla sambil menangis.

Fardhan juga pusing. Ia baru menikah seminggu, baru jadi ketua koperasi wakaf produktif, baru jadi suami, langsung dapat ujian utang mertua 1,2 Miliar.

"Nay, kita harus jujur ke warga. Kita harus bilang kalau pabrik Bapak punya utang rentenir. Biar warga tau, emping kita bukan cuma terancam hilang karena kebakaran, tapi terancam hilang karena utang," kata Fardhan.

"Jangan, Mas! Jangan bilang ke warga! Bapak sudah bilang jangan bilang ke Ibu, apalagi ke warga! Nanti warga panik, nggak mau iuran koperasi lagi! Nanti malah kabur semua, Mas!" tolak Nayla.

"Terus kita mau gimana, Nay? Sembunyiin kayak Bapak sembunyiin utang di balik senyumnya? Nanti jadi kayak Pak Kuwu, yang sembunyiin uang tengkulak di balik senyum Kuwunya, terus bakar madrasah? Kita nggak boleh ulangin kesalahan Bapak, Nay. Kita harus jujur, meski pahit," kata Fardhan.

Nayla terdiam. Kata-kata Fardhan ada benarnya. Selama ini keluarganya hancur karena kebohongan yang disembunyikan di balik senyum. Bapaknya bohong soal sertifikat madrasah dulu, bohong soal USG ibunya, bohong soal utang rentenir. Semua disembunyikan di balik senyum juragan.

"Mas, kalau kita jujur ke warga, warga pasti marah sama Bapak. Bapak kan juragan, masa pinjam rentenir. Malu, Mas," kata Nayla.

"Lebih malu kalau rumah Bapak disita rentenir, Nay. Lebih malu kalau pabrik dijual diam-diam tanpa warga tau. Mending malu sekarang, tapi selamat bareng-bareng, daripada malu nanti pas sudah disita," jawab Fardhan.

Siang itu, tanpa sepengetahuan H. Darsono, Fardhan dan Nayla mengumpulkan warga di madrasah baru. Bukan untuk gotong royong bangun atap, tapi untuk rapat darurat koperasi.

Warga datang dengan wajah bingung, karena biasanya rapat koperasi dipimpin H. Darsono, bukan Fardhan dan Nayla.

"Warga, maaf, Bapak H. Darsono nggak bisa datang karena jaga Ibu di rumah. Jadi kami berdua yang mewakili," kata Fardhan membuka rapat.

Bu Tati yang kakinya masih diperban bertanya,

"Ada apa, Ndan? Kok mukanya tegang? Hibah kementerian 500 juta sudah cair ya?"

Fardhan dan Nayla saling pandang. Inilah saatnya jujur.

"Warga, hibah 500 juta belum cair. Masih proses BWI. Tapi ada masalah yang lebih besar dari hibah. Pabrik Pak Haji Darsono punya utang. Utang 1,2 Miliar ke rentenir Jakarta. Bunganya 240 juta sebulan. Kalau minggu depan nggak dibayar, rumah Pak Haji dan pabrik akan disita," kata Fardhan dengan suara lantang, tanpa basa-basi.

Ruangan madrasah yang baru setengah jadi itu langsung heboh.

"1,2 Miliar?!"

"Rentenir?! Pak Haji pinjam rentenir?!"

"Ya Allah, gimana ini?!"

Bu Tati yang paling kaget, sampai tongkatnya jatuh.

"Neng Nayla, bener Bapak pinjam rentenir, Neng? Katanya juragan, kok pinjam rentenir?"

Nayla menangis dan mengangguk.

"Iya, Bu. Bapak pinjam rentenir minggu lalu, setelah pabrik kebakaran. Bapak takut pabrik disita bank, takut warga nggak dapat kerjaan, jadi Bapak pinjam rentenir diam-diam. Bapak sembunyiin dari kami, dari Ibu, dari warga. Di balik senyumnya, Bapak nangis tiap malam, Bu."

Warga terdiam. Tidak ada yang marah, tidak ada yang menghujat. Yang ada hanya rasa kasihan. Karena mereka tau, H. Darsono pinjam rentenir bukan buat foya-foya, tapi buat selamatkan pabrik mereka, buat selamatkan lapangan kerja mereka.

Laras yang duduk di pojok, berdiri.

"Warga, kalau gitu kita harus bantu Pak Haji. Gimana caranya? Iuran kita baru 20 juta. Masih kurang 220 juta buat bayar bunga minggu depan."

Fardhan yang sudah menyiapkan ide sejak pagi, mengeluarkan map.

"Warga, saya ada ide. Kita jual empingnya bukan 40 ribu per kilo lagi. Kita jual 100 ribu per kilo. Edisi terbatas. Edisi Selamatkan Pabrik Juragan. Ceritanya, emping ini dibuat dengan air mata juragan yang mau kehilangan rumahnya. Biar orang Jakarta yang kemarin batal pesan 100 bungkus karena fitnah, jadi kasihan dan beli lagi dengan harga mahal. Gimana?"

Warga saling pandang. Jual emping 100 ribu per kilo? Mahal sekali. Tapi kalau ceritanya kuat, mungkin orang Jakarta mau beli.

Bu Tati yang pertama angkat tangan.

"Saya setuju, Ndan! Emping saya yang sisa kemarin, saya jual 100 ribu! Asal pabrik Pak Haji selamat!"

Satu per satu warga angkat tangan setuju.

Nayla yang melihat warga setuju, menangis lagi, tapi kali ini tangis haru.

"Mas, makasih ya sudah jujur ke warga. Ternyata warga nggak marah. Malah mau bantu," bisik Nayla pada Fardhan.

Fardhan mengangguk.

"Nay, itu pelajaran dari Turki. Di Turki, guru saya bilang, utang yang disembunyiin di balik senyum itu akan jadi bom. Tapi utang yang diceritain di depan warga, akan jadi gotong royong."

Tapi di luar madrasah, sebuah mobil Alphard hitam berhenti. Bukan mobil H. Darsono, bukan mobil Pak Hendra dari Jakarta. Mobil rentenir Jakarta yang nagih utang 1,2 Miliar. Dua orang berbadan besar dengan kacamata hitam turun, membawa map dan surat sita.

"Permisi, ini Koperasi Emping Madrasah Al-Huda? Kami cari H. Darsono. Ada tagihan 1,2 Miliar yang jatuh tempo minggu depan. Kami mau sita jaminan dulu, rumah di Linggarjati. Ada yang tau rumahnya di mana?" tanya salah satu penagih dengan suara berat.

Warga yang baru saja setuju jual emping 100 ribu per kilo untuk selamatkan pabrik, langsung terdiam dan menatap Fardhan dan Nayla dengan tatapan takut.

Penagih rentenir itu datang lebih cepat dari jadwal. Bukan minggu depan, tapi hari ini.

༺♡༻

Fardhan maju ke depan, mencoba tetap tenang di depan dua penagih berbadan besar itu.

"Pak, maaf, Pak Haji Darsono lagi di rumah, jaga istrinya yang baru keguguran. Ada apa ya, Pak?"

Penagih yang satu membuka map dan menunjukkan surat perjanjian utang dengan materai 10 ribu, dengan tanda tangan H. Darsono dan cap jempol.

"Pak Haji Darsono pinjam 1,2 Miliar tanggal 15 September kemarin, dengan jaminan rumah dan pabrik di Linggarjati. Bunga 20% per bulan, jatuh tempo bunga pertama tanggal 22 September, minggu depan. Tapi karena kami dengar pabriknya kebakaran dan ada isu mau dijual diam-diam, kami datang lebih cepat buat cek jaminan. Boleh kami sita dulu sertifikat rumahnya, Pak?" kata penagih itu.

Nayla yang melihat surat itu langsung maju.

"Pak, jangan sita rumah Bapak saya, Pak! Bapak saya lagi sakit! Ibu saya baru keguguran! Kasihan, Pak!"

"Maaf, Neng, ini bisnis. Bukan kasihan-kasihan. Kalau nggak ada jaminan, kami nggak bisa kasih pinjaman. Sekarang pinjaman sudah cair, jaminan harus kami pegang. Mana sertifikat rumahnya?" tanya penagih itu lagi, tidak peduli dengan tangisan Nayla.

Bu Tati yang tidak tahan melihat Nayla dibentak, maju dengan tongkatnya.

"Pak, jangan bentak-bentak anak juragan! Anaknya baru nikah seminggu! Kasihan!"

Penagih itu menatap Bu Tati dari atas ke bawah.

"Ibu siapa? Ikut campur urusan utang?"

"Saya Bu Tati! Warga Karangtawang! Yang empingnya selama ini disetor ke pabrik Pak Haji! Kalau rumah Pak Haji disita, kami mau setor kemana, Pak?!" jawab Bu Tati dengan berani, meski kakinya masih diperban.

Lihat selengkapnya