HARGA SEBUAH PENGORBANAN
Fardhan memilih bertahan
༺♡༻
Api korek Pak Kuwu malam itu tidak jadi membakar apa pun.
Karena sebelum koreknya sempat menyentuh jerigen bensin barunya, warga yang ronda malam, yang dipimpin Laras dan karang taruna, sudah membekuknya lagi di pematang sawah belakang madrasah baru. Pak Kuwu yang mabuk dan halusinasi emas kedua kalinya, terjatuh ke sawah, jerigennya tumpah ke sawah, bukan ke madrasah.
"Pak Kuwu lagi! Bawa bensin lagi! Mau bakar lagi!" teriak Laras sambil menyalakan senter HP ke wajah Pak Kuwu yang penuh lumpur sawah.
Polisi yang memang sudah siaga di Karangtawang sejak kebakaran gudang pabrik kemarin, langsung datang dan membawa Pak Kuwu kembali ke Polres, kali ini dengan borgol kaki juga, bukan hanya tangan, dan dengan surat rujukan ke rumah sakit jiwa di Cirebon, bukan hanya sel tahanan.
"Pak Kuwu ini sudah gangguan jiwa, Pak. Halusinasi emas terus. Harus direhab, bukan cuma ditahan," kata polisi pada Fardhan dan H. Darsono yang datang dengan masih memakai baju tidur jam dua pagi.
Setelah Pak Kuwu dibawa pergi untuk ketiga kalinya, malam itu Karangtawang akhirnya benar-benar tenang. Tidak ada lagi motor trail, tidak ada lagi jerigen bensin, tidak ada lagi surat ancaman harta karun emas Belanda di bawah lesung.
Pagi jam delapan, seperti janji Pak Hendra di telepon jam dua pagi tadi, investor dari Dubai itu datang. Bukan naik Alphard hitam seperti rentenir, tapi naik mobil Toyota Innova putih sederhana, dengan sopir orang Indonesia. Namanya Sheikh Ahmed Al-Falasi, tapi ia minta dipanggil Pak Ahmed saja, karena ia sudah 10 tahun tinggal di Jakarta dan fasih bahasa Indonesia.
Pak Ahmed adalah laki-laki paruh baya dengan jenggot putih tipis, memakai baju koko putih dan peci hitam, bukan jubah Arab. Ia terlihat seperti kyai, bukan seperti sheikh.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji Sobari, Pak Haji Darsono, Mas Fardhan, Mbak Nayla," sapa Pak Ahmed dengan bahasa Indonesia yang fasih, tanpa logat Arab sama sekali, sambil mencium tangan Pak Haji Sobari dan H. Darsono yang lebih tua darinya.
Warga Karangtawang yang berkumpul di madrasah baru dengan harapan akan melihat orang Arab dengan jubah emas dan mobil mewah, agak kecewa melihat Pak Ahmed yang sederhana, tapi langsung hormat karena ia mencium tangan kyai kampung.
"Wa'alaikumsalam, Pak Ahmed. Silakan duduk. Maaf madrasah kami masih setengah jadi, atapnya belum selesai," kata Fardhan, mempersilakan Pak Ahmed duduk di atas lesung besar yang menjadi meja teh.
Pak Ahmed duduk di atas lesung itu dan mengelus-elus lesung tua itu.
"Ini lesung wakaf yang viral itu ya? Yang dilelang 150 juta dan dapat talangan 90 juta dari kementerian? Masya Allah, masih bagus. Di kampung saya di Dubai dulu juga ada lesung seperti ini, buat numpuk kurma. Sekarang sudah tidak ada, sudah jadi mall," kata Pak Ahmed sambil tersenyum.
Nayla yang duduk di samping Fardhan dengan piala juara satu film dokumenternya, menyodorkan teh hangat.
"Pak Ahmed, katanya mau investasi 5 Miliar buat desa wisata emping Karangtawang? Beneran, Pak?" tanya Nayla langsung, tidak sabar, karena utang 1,7 Miliar ayahnya masih ada di depan mata.
Pak Ahmed menyeruput tehnya pelan, lalu mengangguk.
"Beneran, Mbak Nayla. Saya lihat video klarifikasi Mbak Nayla di Puskesmas, yang nangis soal pabrik kebakaran dan difitnah bakar pabrik bapak sendiri. Saya terharu. Cerita Mbak mirip cerita ibu saya dulu di Dubai. Ibu saya juga difitnah bakar toko kurma bapak saya demi asuransi. Padahal yang bakar tetangga yang iri. Makanya saya mau bantu. 5 Miliar, bukan pinjaman, tapi wakaf produktif. Saya wakafkan 5 Miliar untuk Koperasi Wakaf Produktif Emping Madrasah Al-Huda. Hasilnya buat bayar utang rentenir 1,2 Miliar, utang Bank Syariah 500 juta, dan sisanya 3,3 Miliar buat bangun desa wisata emping: homestay rumah Pak Haji Darsono, jalan desa dicor, madrasah diselesaikan, dan bikin pabrik baru yang tahan api."
Angka 5 Miliar wakaf produktif, bukan pinjaman, membuat semua warga yang ada di madrasah itu terdiam, lalu bersorak.
"Allahu Akbar!"
"5 Miliar wakaf!"
"Alhamdulillah!"
H. Darsono yang duduk di kursi roda karena masih lemas setelah semalam begadang di Puskesmas dan di kantor rentenir, menangis lagi.
"Pak Ahmed... 5 Miliar wakaf... bukan pinjaman... jadi nggak perlu balikin 240 juta bunga tiap bulan... Alhamdulillah..."
Tapi Fardhan yang seharusnya paling bahagia karena utang mertuanya lunas dan madrasahnya akan selesai, justru diam. Ia menatap Pak Ahmed dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pak Ahmed, ada syaratnya?" tanya Fardhan pelan.
Pak Ahmed tersenyum, senyum yang tulus, tapi ada syarat di balik senyum itu.
"Ada, Mas Fardhan. Satu syarat. Syaratnya..."
Semua warga menahan napas, menunggu syarat dari sheikh Dubai yang akan kasih 5 Miliar wakaf.
༺♡༻
"Syaratnya, Mas Fardhan harus ikut saya ke Dubai," kata Pak Ahmed pelan, tapi jelas terdengar di madrasah baru yang hening itu.
Fardhan membeku.
"Saya ikut ke Dubai, Pak? Buat apa, Pak?" tanya Fardhan.
"Buat jadi pengajar di pesantren saya di Dubai. Pesantren untuk TKI Indonesia di Dubai. Saya butuh ustadz muda yang lulusan Turki, yang bisa bahasa Arab, yang bisa ngajar kitab, tapi juga bisa ngupas melinjo dan bikin emping. Saya lihat di video, Mas Fardhan itu unik. Ustadz tapi mau kotor-kotoran ngupas melinjo. Di Dubai, TKI kita banyak yang kangen kampung, kangen emping, kangen madrasah. Mas Fardhan cocok buat ngajar mereka. Gaji besar, Mas. 50 juta sebulan. Plus rumah. Plus tiket haji tiap tahun. Kontrak 5 tahun. Gimana?" jelas Pak Ahmed.
Tawaran itu membuat madrasah baru yang tadi bersorak karena 5 Miliar wakaf, kini hening lagi. 50 juta sebulan, rumah, tiket haji tiap tahun, kontrak 5 tahun di Dubai. Untuk ukuran Karangtawang, itu adalah surga dunia.
Nayla yang duduk di samping Fardhan langsung menggenggam tangan suaminya erat-erat, dengan tatapan panik.
"Mas Fardhan nggak bisa ke Dubai, Pak! Mas Fardhan kan ketua koperasi! Ketua wakaf produktif! Madarasah baru belum selesai! Empingnya belum jalan lagi! Warga butuh Mas Fardhan di sini, Pak!" kata Nayla, suaranya hampir menangis.
H. Darsono juga ikut protes,
"Pak Ahmed, Fardhan itu menantu saya, Pak. Baru nikah seminggu. Masa langsung dibawa ke Dubai 5 tahun? Kasihan anak saya, Pak."
Pak Haji Sobari, bapaknya Fardhan, yang dari tadi diam, justru menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca bangga.
"Fardhan, tawaran 50 juta sebulan di Dubai itu besar, Ndan. Bapak dulu kirim kamu ke Turki biar kamu jadi ulama besar. Kalau di Dubai kamu jadi pengajar TKI, itu juga ulama besar, Ndan. Bapak bangga. Tapi keputusan di tangan kamu, Ndan. Bapak nggak akan maksa. Kayak dulu Bapak nggak maksa kamu jadi apa, sekarang Bapak juga nggak maksa."
Hj. Maryam, ibunya Fardhan, juga ikut bicara dengan suara bergetar.
"Ndan, kalau kamu ke Dubai 5 tahun, Ibu kangen, Ndan. Tapi kalau itu cita-cita kamu sejak dari Turki, Ibu ikhlas. Ibu sudah ikhlas kamu nikah sama Nayla di pelaminan karung goni, Ibu juga ikhlas kamu ke Dubai."
Warga yang mendengar tawaran 50 juta sebulan itu mulai berbisik-bisik.
"50 juta sebulan, Ndan! Di Karangtawang 50 juta setahun aja susah!"
"Kalau Fardhan ke Dubai, siapa yang ngajar ngaji di madrasah baru?"
"Kalau Fardhan ke Dubai, Nayla gimana? Baru nikah seminggu ditinggal 5 tahun?"
Fardhan menatap satu per satu wajah di madrasah itu: bapaknya yang bangga tapi sedih, ibunya yang ikhlas tapi kangen, mertuanya yang baru saja lunas utang 1,2 Miliar rentenir karena akan dapat wakaf 5 Miliar tapi sekarang harus kehilangan menantu, istrinya Nayla yang baru seminggu jadi istrinya dan masih memakai mahkota melinjo layu dari resepsi kemarin, dan Pak Ahmed dari Dubai yang menatapnya dengan harapan besar.
"Pak Ahmed, boleh saya pikir dulu sehari ya, Pak? Saya harus musyawarah sama istri saya dulu," kata Fardhan akhirnya.
Pak Ahmed mengangguk.
"Boleh, Mas. Saya tunggu di hotel Kuningan sampai besok jam 12 siang. Kalau Mas setuju, kita berangkat ke Jakarta besok sore, urus visa, minggu depan terbang ke Dubai. 5 Miliar wakafnya cair hari ini juga kalau Mas setuju. Kalau Mas nggak setuju, wakafnya tetap cair 2 Miliar aja, buat bayar utang rentenir dan bank. Sisanya 3 Miliar saya tahan dulu, sampai ada ustadz lain yang mau ke Dubai. Gimana?"
Ancaman halus itu membuat semua warga menahan napas lagi. 5 Miliar jadi 2 Miliar kalau Fardhan tidak mau ke Dubai. Selisih 3 Miliar itu adalah selisih antara desa wisata emping Karangtawang yang megah dengan jalan cor dan homestay, dengan desa Karangtawang yang tetap jalan tanah berlubang dan madrasah setengah jadi.
Fardhan menatap Nayla. Nayla menatap Fardhan dengan air mata yang sudah mengalir.
"Mas... jangan ke Dubai, Mas..." bisik Nayla pelan, hanya cukup didengar Fardhan.
"Pak Ahmed, saya pikir dulu ya, Pak. Sampai besok jam 12 siang," kata Fardhan lagi, kali ini dengan suara yang lebih tegas.
Pak Ahmed berdiri dan menyalami semua orang.
"Oke, Mas. Saya tunggu jawaban besok jam 12 siang. Semoga Allah kasih jalan terbaik buat Karangtawang."
Setelah Pak Ahmed pergi dengan Innova putihnya, madrasah baru itu kembali heboh, tapi hebohnya berbeda. Bukan heboh bahagia karena 5 Miliar wakaf, tapi heboh karena ketua koperasinya mau dibawa ke Dubai 5 tahun dengan gaji 50 juta sebulan.
Bu Tati yang kakinya masih diperban, mendekati Fardhan.
"Ndan, jangan ke Dubai, Ndan. Ibu baru aja sembuh ditabrak Pak Kuwu, masa kamu mau tinggalin Ibu lagi? Siapa yang mau ngajarin Ibu ngaji kalau kamu ke Dubai?"
Bu Siti juga ikut.
"Iya, Ndan, jangan ke Dubai. Emping kita siapa yang doain biar gurih kalau kamu ke Dubai?"
Laras yang dari tadi diam di pojok, dengan mata berkaca-kaca, berkata pelan,
"Ndan, kalau kamu ke Dubai, aku... aku bakal kangen. Sahabat aku cuma kamu, Ndan. Dari kecil."
Fardhan menatap semua warga yang memintanya bertahan, lalu menatap Nayla yang masih menggenggam tangannya erat-erat dan menangis diam-diam.