CINTA YANG HAMPIR BERAKHIR
Kesalahpahaman memisahkan mereka
༺♡༻
Biaya amputasi Bu Tati 50 juta itu akhirnya lunas jam tujuh pagi, satu jam sebelum operasi jam delapan.
Bukan dari wakaf 7 Miliar Pak Ahmed yang belum cair karena masih proses BWI, bukan dari uang koperasi yang baru 20 juta, tapi dari hasil lelang sandal swallow Fardhan yang putus dan diikat kawat itu.
Fardhan melelang sandal swallow-nya yang viral karena disebut Pak Ahmed di depan warga: "Jangan lupa beli sandal baru buat Mas Fardhan, sandal swallow-nya sudah putus" - menjadi lelang amal di Instagram @EmpingMadrasah jam lima pagi.
Captionnya: "LELANG SANDAL SWALLOW USTADZ EMPING YANG MEMILIH BERTAHAN DI KARANGTAWANG, BUKAN KE DUBAI 50 JUTA SEBULAN - HASIL BUAT BIAYA AMPUTASI BU TATI - MULAI 0 RUPIAH".
Dalam dua jam, sandal swallow putus itu laku 55 juta. Dibeli oleh Raffi Ahmad lagi, yang kemarin sudah wakaf 100 juta buat lesung. Raffi Ahmad komen: "Sandalnya buat museum, Ustadz. Biar jadi bukti, pernah ada Ustadz yang tolak 50 juta sebulan di Dubai demi bertahan di desa. Keren!"
Uang 55 juta itu langsung dibawa Fardhan dan Nayla ke RSUD Kuningan jam tujuh pagi, untuk biaya amputasi Bu Tati jam delapan.
Operasi amputasi kaki kanan Bu Tati di bawah lutut berjalan lancar. Dokter bilang, infeksi sudah naik, kalau telat satu hari lagi, bisa naik ke jantung dan meninggal. Bu Tati selamat, tapi harus pakai kaki palsu seumur hidup.
Siang itu, setelah operasi, Bu Tati terbaring di ruang rawat RSUD Kuningan dengan kaki kanan yang sudah tidak ada, diperban tebal. Laras menangis di sampingnya.
"Bu... kaki Ibu..." kata Laras.
Bu Tati yang masih pengaruh obat bius, tersenyum lemah.
"Nggak apa-apa, Neng... kaki Ibu hilang satu, tapi emping Ibu masih ada dua ton di gudang baru... nanti Ibu bikin emping pakai satu kaki... masih bisa..."
Fardhan dan Nayla yang melihat Bu Tati masih bisa bercanda meski kaki kanannya diamputasi, menangis.
"Bu Tati, maafin kami ya, Bu. Gara-gara kami, gara-gara Pak Kuwu mau bakar madrasah kami, Ibu yang jadi korban ditabrak, sekarang diamputasi," kata Fardhan sambil menggenggam tangan Bu Tati yang dingin.
"Ndan, jangan ngomong gitu, Ndan. Ibu ikhlas. Ibu nabrak Pak Kuwu bukan karena kamu, Ndan. Ibu nabrak karena Ibu sayang sama madrasah. Madrasah itu rumah Ibu juga. Rumah kita semua," jawab Bu Tati.
Nayla memeluk Bu Tati yang terbaring.
"Bu Tati, nanti kalau Ibu sudah sembuh, Ibu ngajarin aku bikin emping pakai satu kaki ya, Bu. Aku mau belajar."
"Boleh, Neng. Nanti Ibu ajarin. Pakai kaki palsu yang bagus, dari uang wakaf 7 Miliar Pak Ahmed. Biar Ibu bisa jalan lagi ke madrasah," kata Bu Tati.
Semua orang di ruang rawat itu tertawa kecil di antara air mata.
Tapi kebahagiaan karena Bu Tati selamat dari infeksi dan kaki palsunya akan dibelikan dari uang wakaf, hanya bertahan sampai sore.
Sore jam empat, saat Fardhan dan Nayla baru pulang dari RSUD Kuningan ke rumah kayu kecil mereka di belakang madrasah baru, dengan sandal jepit pinjaman karena sandal swallow Fardhan sudah dilelang 55 juta, mereka menemukan surat di atas meja rumah kayu mereka.
Surat itu bukan dari Pak Kuwu, bukan dari Robert Van Der Berg keturunan Belanda, bukan dari rentenir Jakarta, tapi dari KUA Karangtawang.
Isinya: "Panggilan Sidang: Gugatan Cerai dari Nayla Adinda binti Darsono terhadap Fardhan bin Sobari, karena alasan perselisihan terus menerus dan tidak ada kecocokan. Sidang pertama: Besok jam 9 pagi di KUA Karangtawang."
Fardhan dan Nayla membeku. Gugatan cerai? Padahal mereka baru sah secara negara kemarin pagi jam sembilan, baru dua hari jadi suami istri sah negara.
"Mas, ini apa, Mas? Gugatan cerai? Siapa yang gugat? Aku nggak pernah gugat cerai, Mas!" kata Nayla panik, menunjukkan surat itu pada Fardhan dengan tangan gemetar.
Fardhan mengambil surat itu dan membacanya dengan teliti. Nama penggugat: Nayla Adinda binti Darsono. Nama tergugat: Fardhan bin Sobari. Alasan: perselisihan terus menerus dan tidak ada kecocokan. Tanda tangan penggugat: mirip tanda tangan Nayla, tapi agak berantakan.
"Nay, ini tanda tangan kamu?"
"Bukan, Mas! Bukan tanda tangan aku! Tanda tangan aku kan bagus, ini jelek! Ini palsu, Mas! Siapa yang palsuin tanda tangan aku buat gugat cerai?!" teriak Nayla.
Fardhan menatap surat panggilan sidang besok jam 9 pagi itu. Gugatan cerai palsu sehari setelah pernikahan sah negara, sehari setelah Bu Tati diamputasi, sehari setelah wakaf 6 Miliar cair dan 1 Miliar tambahan buat rehab Pak Kuwu.
Cinta yang hampir berakhir, bukan karena api, bukan karena utang 1,7 Miliar, bukan karena Belanda, tapi karena surat gugatan cerai palsu yang tiba-tiba ada di meja rumah kayu kecil mereka.
"Siapa yang tega bikin gugatan cerai palsu, Nay? Siapa yang mau misahin kita?" tanya Fardhan dengan suara bergetar.
Nayla yang melihat tanda tangan palsu itu, langsung teringat satu orang: Raka.
Raka yang masih di Karangtawang, yang kemarin kasih packaging baru gratis sebagai kado pernikahan, yang bilang sudah ikhlas, tapi tadi pagi terlihat duduk sendirian di bale bambu belakang warung Bu Tati dengan kamera di pangkuannya, menatap madrasah baru yang lampunya masih menyala, dengan wajah yang sulit diartikan: antara cemburu, rindu, atau rencana baru untuk merebut Nayla kembali, mumpung pernikahannya baru sah dua hari.
"Mas... jangan-jangan Raka, Mas..." bisik Nayla pelan.
༺♡༻
Malam itu juga, Fardhan dan Nayla langsung ke rumah Bu Tati yang kosong karena Bu Tati masih di RSUD Kuningan, tempat Raka menginap seminggu terakhir dengan alasan mau bantu desain packaging dan bikin video dokumenter.
Raka tidak ada di rumah Bu Tati. Tas ransel kameranya tidak ada, laptopnya tidak ada. Hanya ada secarik kertas di atas bale bambu tempat biasanya Nayla dan Fardhan ngupas melinjo.
Kertas itu bertuliskan tangan Raka yang berantakan: "Nay, Ustadz, maaf, gue pulang dulu ke Bandung. Gue nggak kuat lihat kalian bahagia di madrasah baru, sementara gue masih sendirian. Gue ikhlas kalian nikah, tapi gue nggak ikhlas lihat sandal swallow Ustadz laku 55 juta buat biaya amputasi Bu Tati, sementara karya gue cuma dihargai gratis. Gue mau cari tempat yang menghargai karya gue. Jangan cari gue. - Raka"
Surat itu membuat Fardhan dan Nayla bingung. Raka pulang ke Bandung karena tidak kuat lihat mereka bahagia? Atau karena ada alasan lain?
Laras yang datang menyusul ke rumah Bu Tati dengan membawa rantang berisi gulai kambing sisa syukuran kemarin, melihat surat Raka itu.
"Ndan, Nay, Raka sudah pulang tadi sore jam tiga, naik travel ke Bandung. Gue yang anterin ke terminal. Dia bilang mau pulang, nggak kuat di Karangtawang. Dia bilang dia mau bikin film dokumenter baru di Bandung, tentang Ustadz yang tolak 50 juta sebulan di Dubai. Katanya mau ikut lomba film lagi, saingan sama film Nayla," kata Laras.
"Terus gugatan cerai palsu ini siapa yang bikin, Ras? Kalau bukan Raka?" tanya Fardhan sambil menunjukkan surat panggilan sidang besok jam 9 pagi.
Laras membaca surat itu dan mengerutkan kening.
"Ini tanda tangan palsu, Ndan. Tanda tangan Nayla kan bagus, ini jelek. Kayak tanda tangan... kayak tanda tangan Pak Kuwu! Pak Kuwu kan tanda tangannya melengkung kayak cacing kepanasan, kata Pak Kyai Mukhlis kemarin waktu nikahin kalian ulang!"
Nama Pak Kuwu disebut lagi. Pak Kuwu yang seharusnya masih di rumah sakit jiwa Cirebon direhab dengan biaya 1 Miliar wakaf dari Pak Ahmed, tapi ternyata kabur lagi untuk keempat kalinya dan bisa bikin gugatan cerai palsu?
Fardhan langsung menelepon polisi yang menangani kasus Pak Kuwu.
"Halo, Pak Polisi, Pak Kuwu masih di rumah sakit jiwa Cirebon nggak, Pak? Soalnya ada surat gugatan cerai palsu atas nama istri saya, Nayla, tanda tangannya mirip tanda tangan Pak Kuwu!"
Polisi di seberang menjawab,
"Pak Kuwu masih di rumah sakit jiwa Cirebon, Mas. Tidak kabur. Kami jaga ketat. Tidak mungkin bikin gugatan cerai palsu. Mungkin orang lain yang palsuin tanda tangan mirip Pak Kuwu."
Fardhan menutup telepon dengan bingung.
"Bukan Pak Kuwu, Nay. Pak Kuwu masih di rumah sakit jiwa. Terus siapa?"
Nayla yang dari tadi diam dan memegang surat gugatan cerai palsu itu, tiba-tiba menangis.
"Mas, jangan-jangan... jangan-jangan aku yang bikin gugatan cerai ini pas tidur? Aku kan kadang ngelindur, Mas. Waktu kecil aku pernah ngelindur jalan sampai warung Bu Tati. Jangan-jangan aku ngelindur bikin gugatan cerai karena aku takut nikah sama Mas? Takut jadi istri Ustadz Emping?"
Fardhan memeluk Nayla yang menangis karena takut ngelindur.
"Nay, nggak mungkin kamu ngelindur bikin gugatan cerai ke KUA. KUA kan tutup malam. Nggak mungkin."
Laras yang melihat Fardhan dan Nayla berpelukan di bale bambu, dengan surat gugatan cerai palsu di tengah mereka, berkata pelan,
"Ndan, Nay, coba cek CCTV warung Bu Tati. CCTV yang kemarin rekam Pak Kuwu bakar madrasah jam tiga pagi. Siapa tau CCTV itu rekam siapa yang taruh surat gugatan cerai palsu di meja rumah kayu kalian."
Fardhan dan Nayla langsung berlari ke warung Bu Tati yang ada CCTV-nya, yang dipasang Nayla minggu lalu pakai uang hasil jualan emping.
Rekaman CCTV jam 2 siang tadi, jam dimana Fardhan dan Nayla masih di RSUD Kuningan jenguk Bu Tati yang baru diamputasi, menunjukkan seorang perempuan dengan kerudung hitam dan masker, masuk ke halaman madrasah baru, masuk ke rumah kayu kecil Fardhan dan Nayla yang pintunya tidak dikunci, menaruh amplop coklat di atas meja, lalu pergi dengan cepat naik motor matic.
Perempuan itu bukan Raka yang gondrong, bukan Pak Kuwu yang sudah di rumah sakit jiwa, tapi perempuan.
"Siapa perempuan itu, Nay? Pakai kerudung hitam, masker, naik motor matic?" tanya Fardhan sambil memutar ulang rekaman CCTV yang buram.
Nayla memperbesar rekaman itu di layar HP Laras. Motor maticnya pink. Helmnya putih. Kerudung hitamnya ada bordir bunga.
"Motor pink, helm putih, kerudung hitam bordir bunga... itu... itu motornya... motornya Mba Pevita! Yang punya Dapur Mba Pevita yang kemarin viralin Emping Madrasah!" teriak Nayla.
Mba Pevita, food vlogger dari Kuningan yang memviralkan Emping Madrasah lewat Instagram dan membuat brand itu ditawar 500 juta, yang kemarin pesan 100 bungkus emping lalu batal karena fitnah Pak Kuwu, yang sekarang pesan lagi 200 bungkus karena video klarifikasi viral.
Kenapa Mba Pevita yang memviralkan Emping Madrasah, sekarang bikin gugatan cerai palsu atas nama Nayla untuk memisahkan Fardhan dan Nayla?
Fardhan dan Nayla saling pandang. Cinta yang hampir berakhir karena kesalahpahaman, ternyata bukan karena Raka yang cemburu, bukan karena Pak Kuwu yang dendam, tapi karena Mba Pevita, food vlogger yang memviralkan mereka?
"Mas, kenapa Mba Pevita mau misahin kita, Mas? Padahal dia yang bikin kita viral? Dia yang bikin kita dapat tawaran 500 juta? Kenapa sekarang dia bikin gugatan cerai palsu?" tanya Nayla dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Fardhan tidak menjawab. Ia hanya mengambil ponselnya dan menelepon Mba Pevita yang nomornya ada di Instagram.
"Halo, Mba Pevita? Ini Fardhan, Ustadz Emping Karangtawang. Mba dimana? Bisa ketemu sekarang di madrasah? Ada yang mau kami tanyakan soal surat gugatan cerai palsu atas nama istri saya."