ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

KEMBALI KE KARANGTAWANG

KEMBALI KE KARANGTAWANG

Fardhan pulang membawa keputusan

༺♡༻

Kotak besi berisi emas 10 kilo peninggalan kakeknya Pak Kuwu, mandor Belanda, yang ditemukan di bawah meja kantor Pak Dadan di Kuningan malam itu, tidak dibawa ke Karangtawang.

Polisi menyita kotak itu sebagai barang bukti kasus penggelapan tanah zaman Belanda dan kasus gugatan cerai palsu yang dibuat Pak Dadan. Polisi bilang, emas 10 kilo itu akan dilelang negara, hasilnya buat ganti rugi warga Karangtawang yang tanahnya pernah disita mandor Belanda tahun 1942.

Pak Dadan sendiri tidak meninggal. Ia berhasil diselamatkan di RSUD Kuningan karena minum racunnya tidak banyak dan cepat dibawa ke UGD oleh Robert Van Der Berg yang menelepon Fardhan tadi malam. Ia kini dirawat di ruang ICU dengan selang di mana-mana, dengan status tahanan polisi, menunggu sidang etik PERADI dan sidang pidana pemalsuan surat dan pengancaman.

Mba Pevita yang menunggu di depan madrasah baru jam dua belas malam dengan motor pink dan dua anak kecilnya yang tertidur di boncengan, bukan mau kasih tau rahasia Dapur Mba Pevita pakai emping Karangtawang tapi ngakunya emping Linggarjati. Ia mau kasih tau, warungnya tutup besok karena dilaporin Pak Dadan ke BPOM sebelum Pak Dadan minum racun, dan ia butuh modal 20 juta buat buka warung lagi, pinjam ke koperasi.

Fardhan dan Nayla yang baru saja dapat kabar Pak Dadan bunuh diri gagal dan emas 10 kilo disita polisi, langsung memeluk Mba Pevita di depan madrasah baru jam dua belas malam itu.

"Mba Pevita, jangan nangis, Mba. Warung Mba tutup nggak apa-apa. Nanti buka lagi pakai modal koperasi. 20 juta kami pinjamkan. Bukan pinjaman, tapi wakaf produktif. Hasil warung Mba 40% buat modal koperasi lagi. Gimana?" kata Fardhan.

Mba Pevita yang tadinya menangis karena warungnya tutup dan takut anaknya nggak bisa sekolah, langsung sujud syukur di atas tanah berlubang yang baru setengah dicor.

"Makasih, Mas Fardhan, Neng Nayla... makasih... kalian baik banget... padahal saya yang bikin gugatan cerai palsu kalian... kalian masih mau bantu saya..."

Nayla mengangkat Mba Pevita dan memeluknya.

"Mba, sudah, jangan sujud. Kami sudah maafin Mba. Mba juga korban, Mba. Korban ancaman Pak Dadan. Sekarang Pak Dadan sudah di ICU, mau diadili. Mba jangan takut lagi. Warung Mba buka lagi besok, pakai modal koperasi. Jualan emping Madrasah, jangan emping Linggarjati lagi. Jualan yang jujur, Mba."

Malam itu, setelah Mba Pevita pulang dengan janji modal 20 juta wakaf produktif buat buka warung lagi, Fardhan dan Nayla tidak tidur. Mereka menunggu telepon dari Pak Ahmed Dubai soal wakaf 7 Miliar yang dibekukan bank Dubai karena laporan Robert dan Pak Dadan.

Jam tiga pagi, telepon itu datang. Bukan dari Pak Ahmed, tapi dari Sheikh Ahmed Al-Falasi langsung, bosnya Pak Ahmed, dari Dubai, dengan bahasa Arab yang diterjemahkan Pak Ahmed.

"Mas Fardhan, Mbak Nayla, ini Sheikh Ahmed. Saya dengar wakaf 7 Miliar dibekukan bank Dubai karena laporan Robert dan Pak Dadan soal tanah sengketa dan gugatan cerai palsu. Saya sudah cek. Laporan itu palsu. Tanah lesung sudah lepas klaim dari Robert, sudah tanda tangan. Gugatan cerai palsu sudah batal di KUA. Jadi bank Dubai sudah buka blokirnya. 7 Miliar cair hari ini jam 9 pagi waktu Dubai, jam 12 siang waktu Karangtawang. Silakan dipakai buat bangun desa wisata, buat kaki palsu Bu Tati, buat rehab Pak Kuwu di rumah sakit jiwa Bandung yang bagus, buat modal warung Mba Pevita, dan buat... buat beli sandal baru buat Mas Fardhan. Sandal swallow-nya yang laku 55 juta kemarin kan sudah nggak ada. Beli yang baru, Mas. Jangan pakai sandal jepit pinjaman terus."

Fardhan dan Nayla yang mendengar 7 Miliar cair lagi hari ini jam 12 siang, langsung sujud syukur di atas lesung besar di tengah madrasah baru, jam tiga pagi.

"Alhamdulillah! 7 Miliar cair lagi!"

"Alhamdulillah! Bisa bangun jalan desa sampai selesai!"

"Alhamdulillah! Bisa beli kaki palsu Bu Tati!"

"Alhamdulillah! Bisa beli sandal baru!"

Setelah sujud syukur, Fardhan menatap Nayla dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang sudah bulat dengan keputusan.

"Nay, aku mau pulang ke Karangtawang. Beneran pulang. Bukan cuma pulang dari Jakarta, bukan cuma pulang dari KUA, tapi pulang bawa keputusan."

"Keputusan apa, Mas?" tanya Nayla.

"Keputusan untuk tidak pernah lagi pergi dari Karangtawang. Tidak ke Turki lagi, tidak ke Dubai 50 juta sebulan, tidak ke Jakarta 500 juta. Tetap di sini. Di Karangtawang. Di atas lesung ini. Sama kamu. Sama ibu-ibu. Sama emping. Keputusan itu yang aku bawa pulang malam ini, Nay. Keputusan kembali ke Karangtawang, selamanya."

Nayla menangis dan memeluk Fardhan erat-erat di atas lesung besar jam tiga pagi itu.

"Mas, aku juga pulang, Mas. Pulang ke Karangtawang. Bukan pulang dari Bandung, bukan pulang dari Jakarta, tapi pulang bawa keputusan sama kayak Mas. Keputusan untuk tidak pernah lagi kabur dari Karangtawang. Tidak kabur karena takut jadi anak juragan, tidak kabur karena takut jadi istri Ustadz, tidak kabur karena takut hamil Ibu, tidak kabur karena takut gugatan cerai palsu. Tetap di sini. Di Karangtawang. Sama Mas. Sama emping. Selamanya."

Mereka berdua berpelukan di atas lesung besar, lesung wakaf produktif pertama di Karangtawang, lesung yang di bawahnya ada kotak perjanjian 1942 yang hampir membuat tanah disita Belanda, lesung yang hampir dilelang 150 juta buat bayar bunga rentenir 240 juta, lesung yang menjadi saksi janji dua ayah, cinta dua anak, utang di balik senyum ayah, pengkhianatan keluarga Kuwu sebagai antek Belanda, dan cinta yang hampir berakhir karena gugatan cerai palsu.

Kembali ke Karangtawang bukan sekadar pulang kampung, tapi pulang membawa keputusan untuk bertahan.

༺♡༻

Pagi jam 12 siang, seperti janji Sheikh Ahmed dari Dubai, uang wakaf 7 Miliar cair ke rekening Koperasi Wakaf Produktif Emping Madrasah Al-Huda.

Rekening koperasi yang kemarin isinya 20 juta dari iuran warga, ditambah 55 juta dari lelang sandal swallow Fardhan, kini isinya 7 Miliar 75 juta.

Warga yang sudah berkumpul di madrasah baru sejak jam 8 pagi untuk menunggu kepastian wakaf cair atau tidak, langsung bersorak begitu Fardhan menunjukkan bukti transfer 7 Miliar di layar HP-nya.

"Cair! 7 Miliar cair!"

"Hidup Pak Ahmed Dubai!"

"Hidup Sheikh Ahmed!"

"Hidup Ustadz Emping yang memilih bertahan!"

H. Darsono yang datang dengan kursi roda, didorong Hj. Lilis yang sudah agak baikan setelah keguguran kembar dan pendarahan, menangis lagi, untuk kesekian kalinya seminggu ini.

"Alhamdulillah... 7 Miliar cair... utang 1,7 Miliar lunas... pabrik bisa bangun lagi... jalan desa bisa dicor sampai Linggarjati... kaki palsu Bu Tati bisa kebeli... rehab Pak Kuwu 1 Miliar bisa jalan... warung Mba Pevita modal 20 juta bisa buka lagi..."

Pak Haji Sobari yang juga datang dengan Hj. Maryam, mengangkat tangan dan memimpin doa.

"Warga, Alhamdulillah, wakaf 7 Miliar cair. Ini bukan uang kita, ini uang Allah yang dititipkan lewat Pak Ahmed Dubai. Kita harus jaga. Jangan dipakai foya-foya. Pakai buat yang sudah kita janjikan: 1,2 Miliar lunasi rentenir, 500 juta lunasi Bank Syariah, 1 Miliar bangun jalan desa cor, 1 Miliar bangun pabrik baru tahan api, 1 Miliar selesaikan madrasah baru, 1 Miliar modal koperasi beli melinjo 40 ribu tanpa potongan tengkulak, 300 juta beasiswa anak-anak Karangtawang kuliah, 50 juta kaki palsu Bu Tati, 20 juta modal warung Mba Pevita, 1 Miliar rehab Pak Kuwu di rumah sakit jiwa Bandung yang bagus, sisa 930 juta buat cadangan koperasi. Setuju?"

Warga bersorak.

"Setuju!"

"Setuju! Hidup wakaf produktif!"

"Setuju! Hidup Karangtawang!"

Setelah doa, Fardhan berdiri di atas lesung besar dengan sandal jepit pinjaman karena sandal swallow-nya sudah laku 55 juta, dengan buku nikah baru yang sudah sah negara, dengan surat keterangan KUA bahwa gugatan cerai palsu batal.

"Warga, saya Fardhan, ketua koperasi wakaf produktif, mau umumkan keputusan saya. Keputusan saya pulang ke Karangtawang."

Warga terdiam, menunggu keputusan apa lagi, karena Fardhan sudah pulang ke Karangtawang seminggu lalu dari Turki.

"Keputusan saya, saya tidak akan pernah lagi pergi dari Karangtawang. Tidak ke Turki lagi buat jadi ulama besar di Masjid Biru, tidak ke Dubai 50 juta sebulan jadi pengajar TKI, tidak ke Jakarta 500 juta jual brand. Saya akan tetap di sini, di Karangtawang, di atas lesung ini, sama istri saya Nayla, sama ibu-ibu, sama emping, sampai mati. Saya memilih bertahan di Karangtawang, bukan karena Karangtawang kaya, tapi karena Karangtawang itu rumah saya. Rumah yang mengajarkan saya tafsir kehidupan, bukan cuma tafsir Jalalain. Itu keputusan saya. Kembali ke Karangtawang, selamanya."

Warga terdiam sejenak, lalu bersorak paling keras sepanjang sejarah Karangtawang.

"Hidup Fardhan! Hidup Ustadz Emping yang memilih bertahan!"

"Hidup Karangtawang!"

Nayla yang duduk di samping lesung besar dengan piala juara satu film dokumenternya dan buku nikah barunya, menangis dan berdiri juga.

"Warga, saya Nayla, wakil ketua koperasi, istri Ustadz Emping, juga mau umumkan keputusan saya. Keputusan saya juga kembali ke Karangtawang. Tidak akan pernah lagi kabur dari Karangtawang. Tidak kabur ke Bandung karena takut jadi anak juragan, tidak kabur ke Jakarta karena takut jadi istri Ustadz, tidak kabur karena takut Ibu hamil 8 minggu, tidak kabur karena takut gugatan cerai palsu. Saya akan tetap di sini, di Karangtawang, di atas lesung ini, sama suami saya Fardhan, sama ibu-ibu, sama emping, sampai mati. Saya memilih bertahan di Karangtawang, bukan karena Karangtawang bagus jalannya, tapi karena Karangtawang itu tempat saya bisa jadi seniman dan jadi istri, dua-duanya, tanpa harus pilih salah satu. Itu keputusan saya. Kembali ke Karangtawang, selamanya."

Warga bersorak lagi, lebih keras, dengan air mata.

Bu Tati yang datang dengan kursi roda dan kaki kanan yang sudah diamputasi, berteriak paling keras,

"Hidup pengantin baru yang memilih bertahan! Hidup Karangtawang!"

Laras yang berdiri di pojok dengan mata berkaca-kaca, berbisik pada dirinya sendiri,

"Ndan, Nay, akhirnya kalian pulang beneran. Pulang bawa keputusan. Bukan pulang karena disuruh, tapi pulang karena mau."

Pak Ahmed Dubai yang ikut hadir di madrasah baru dengan baju koko putih dan peci hitam, menatap Fardhan dan Nayla yang berpegangan tangan di atas lesung besar, dengan senyum haru.

"Mas Fardhan, Mbak Nayla, kalian sudah pulang ke Karangtawang dengan keputusan yang benar. Keputusan bertahan. Di Dubai, banyak orang pulang kampung karena gagal. Tapi kalian pulang kampung karena berhasil. Berhasil tolak 50 juta sebulan, berhasil tolak 500 juta, berhasil lawan Belanda, berhasil lawan rentenir, berhasil lawan gugatan cerai palsu. Kalian berhasil, makanya pulang. Selamat datang kembali di Karangtawang."

Fardhan dan Nayla turun dari lesung besar dan menyalami Pak Ahmed.

"Makasih, Pak Ahmed. Makasih sudah kasih kami 7 Miliar wakaf dan 1 Miliar rehab Pak Kuwu. Makasih sudah ajarkan kami arti bertahan."

Pak Ahmed memeluk mereka berdua.

"Sama-sama, Mas, Mbak. Saya yang harusnya makasih, karena kalian sudah ajarkan saya, di Dubai banyak uang, tapi di Karangtawang banyak cerita. Dan cerita lebih mahal dari uang."

Keputusan kembali ke Karangtawang dengan bertahan selamanya itu akhirnya diumumkan di depan warga, di atas lesung besar, di bawah atap madrasah baru yang hampir selesai, dengan uang 7 Miliar wakaf yang sudah cair.

Tapi di luar madrasah baru, di bawah pohon waru yang menjadi saksi bisu janji dua ayah, cinta dua anak, dan pengkhianatan keluarga Kuwu, terlihat bayangan Raka yang seharusnya sudah pulang ke Bandung tadi sore dengan travel, kini balik lagi ke Karangtawang dengan motor rental, dengan kamera di pundaknya dan dengan map berisi surat.

Surat apa lagi yang dibawa Raka kali ini? Apakah surat cinta terakhir untuk Nayla? Atau surat gugatan baru?

Fardhan yang melihat bayangan Raka dari jauh, menggenggam tangan Nayla lebih erat.

"Nay, Raka balik lagi, Nay."

༺♡༻

Raka masuk ke halaman madrasah baru dengan motor rental yang berdebu, dengan kamera di pundaknya dan map coklat di tangannya. Wajahnya lelah karena naik motor dari Bandung ke Karangtawang 4 jam, tapi matanya berbinar.

"Fardhan! Nayla! Warga! Maaf ganggu lagi. Saya balik lagi bukan mau bikin masalah. Saya balik lagi mau kasih keputusan saya juga. Keputusan kembali ke Karangtawang," kata Raka dengan suara lantang, didengar semua warga yang masih berkumpul karena baru saja dengar keputusan Fardhan dan Nayla kembali ke Karangtawang selamanya.

Fardhan maju ke depan, mencoba tetap tenang meski ada rasa cemburu yang sedikit muncul lagi melihat mantan pacar istrinya balik lagi.

"Mas Raka, keputusan apa lagi, Mas? Bukannya Mas sudah pulang ke Bandung kemarin sore mau bikin film dokumenter baru tentang Ustadz yang tolak 50 juta sebulan di Dubai?"

Raka mengangguk dan membuka map coklatnya.

"Iya, Ustadz. Saya sudah pulang ke Bandung kemarin sore. Tapi di jalan, di travel, saya nonton video Fardhan dan Nayla yang umumkan keputusan kembali ke Karangtawang selamanya, yang di-upload Laras ke Instagram @EmpingMadrasah. Saya nangis di travel, Ustadz. Saya sadar, saya juga harus kembali ke Karangtawang. Bukan sebagai mantan pacar Nayla, tapi sebagai warga Karangtawang. Saya mau jadi warga Karangtawang."

Warga terdiam, bingung. Raka mau jadi warga Karangtawang?

"Gimana caranya, Ka? Kan kamu orang Bandung, bukan orang Karangtawang?" tanya Nayla, bingung juga.

Lihat selengkapnya