ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

MEREK BARU, HARAPAN BARU

MEREK BARU, HARAPAN BARU

Perjuangan menyelamatkan emping

༺♡༻

Sertifikat asli madrasah lama Al-Huda Karangtawang tahun 1950 atas nama Wakaf Kyai Haji Marzuki itu akhirnya tidak membuat wakaf 7 Miliar dari Dubai batal.

Pak Ahmed dan Sheikh Ahmed dari Dubai setelah rapat dengan BWI, Badan Wakaf Indonesia, dan BPN Jakarta lewat video call jam empat sore di madrasah baru, memutuskan: sertifikat lama 1950 dan sertifikat baru 2024 yang baru dibuat untuk madrasah baru, digabung jadi satu wakaf produktif. Namanya: Wakaf Produktif Gabungan Al-Huda Karangtawang 1950-2024. Luasnya jadi dua kali lipat. Jadi tidak sengketa lagi, malah jadi lebih besar.

Uang wakaf 7 Miliar tetap cair dan sah. Bahkan Sheikh Ahmed tambah lagi 1 Miliar, jadi total 8 Miliar, karena senang ada sertifikat lama 1950 yang ditemukan di brankas anak Kuwu, bukti bahwa Karangtawang memang desa wakaf sejak 1950, bukan desa sengketa.

"Alhamdulillah, 8 Miliar!" teriak warga yang masih ngecor jalan desa jam lima sore, begitu Fardhan umumkan tambahan 1 Miliar lagi karena sertifikat lama ketemu.

H. Darsono yang sudah tinggal di rumah kayu kecil Fardhan dan Nayla di belakang madrasah bersama Hj. Lilis yang sudah agak baikan setelah pingsan di mobil mogok, langsung sujud syukur di atas jalan cor yang baru setengah jadi.

"8 Miliar! Jalan desa bisa dicor sampai Linggarjati! Pabrik baru bisa dua lantai! Madrasah lama bisa dibangun lagi!"

Tapi masalah baru muncul bukan soal sertifikat, bukan soal wakaf, tapi soal empingnya sendiri.

Gudang baru yang mau dibangun pakai uang wakaf 1 Miliar tahan api, belum jadi. Pabrik lama di Linggarjati yang kebakaran 2 ton masih puing. Mesin tumbuk besar masih hitam. Stok melinjo terakhir yang ada di madrasah baru tinggal 50 kilo, sisa dari Bu Tati yang kakinya diamputasi kemarin.

Padahal pesanan Emping Madrasah yang masuk lewat Instagram @EmpingMadrasah setelah video klarifikasi viral, lelang lesung wakaf 150 juta, lelang sandal swallow 55 juta, dan keputusan Fardhan memilih bertahan di Karangtawang menolak 50 juta sebulan di Dubai, kini membludak: 1 ton pesanan dari Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan dari Dubai, dari TKI yang kangen emping Karangtawang setelah lihat video Pak Ahmed.

1 ton pesanan, tapi stok melinjo cuma 50 kilo. Mesin tumbuk hitam. Gudang belum jadi. Pabrik masih puing.

Emping yang terancam hilang karena kebakaran, fitnah, utang rentenir 1,7 Miliar di balik senyum ayah, dan tanah mau disita Belanda, kini terancam hilang lagi karena tidak ada melinjo dan tidak ada pabrik, padahal pesanan membludak 1 ton.

Fardhan dan Nayla yang baru saja menemukan sertifikat lama 1950 di brankas Pak Dadan dan dapat tambahan 1 Miliar wakaf jadi total 8 Miliar, kini harus berjuang lagi menyelamatkan empingnya, bukan dari api dan Belanda, tapi dari kehabisan bahan baku.

"Mas, gimana, Mas? Pesanan 1 ton, stok melinjo cuma 50 kilo. Dari mana cari 950 kilo melinjo lagi dalam seminggu? Pohon melinjo di Karangtawang kan sudah dipanen semua bulan lalu," kata Nayla sambil menunjukkan DM Instagram yang masuk bertubi-tubi: "Kak, pesan 100 kilo emping Madrasah buat oleh-oleh haji!", "Kak, pesan 200 kilo buat supermarket di Dubai!", "Kak, pesan 50 kilo buat arisan!"

Fardhan menatap tumpukan melinjo 50 kilo di sudut madrasah baru, lalu menatap lesung besar wakaf produktif di tengah madrasah.

"Nay, kita harus cari melinjo. Bukan di Karangtawang, tapi di desa-desa lain. Di Kuningan, di Cirebon, di Linggarjati. Kita keliling, Nay. Pakai mobil Kijang Pak Haji yang mogok kemarin sudah diperbaiki pakai uang wakaf 50 juta. Kita keliling cari melinjo 950 kilo dalam seminggu. Bisa?"

Nayla mengangguk, meski lelah karena seminggu ini tidak tidur nyenyak: urus Bu Tati amputasi, urus Pak Kuwu rehab, urus gugatan cerai palsu, urus sertifikat lama.

"Bisa, Mas. Kita keliling. Sama Laras, sama Raka yang baru jadi warga Karangtawang. Kita berempat keliling cari melinjo. Perjuangan menyelamatkan emping."

Malam itu, jam delapan malam, mobil Kijang H. Darsono yang sudah diperbaiki dengan oli baru dan mesin baru pakai uang wakaf, berangkat dari madrasah baru Karangtawang dengan 4 orang di dalamnya: Fardhan, Nayla, Laras, dan Raka yang rambutnya sudah dipotong pendek kayak Ustadz Emping.

Tujuan: keliling desa-desa di Kuningan, Cirebon, Linggarjati, cari melinjo 950 kilo dalam seminggu, untuk selamatkan pesanan 1 ton Emping Madrasah yang membludak.

Merek baru, harapan baru, perjuangan baru: menyelamatkan emping dari kehabisan melinjo.

༺♡༻

Perjalanan keliling cari melinjo itu tidak mudah.

Desa pertama, Desa Cikadu, 10 kilometer dari Karangtawang, pohon melinjonya sudah dipanen semua bulan lalu, sama seperti Karangtawang. Warga Cikadu bilang, melinjonya sudah dijual ke tengkulak Jakarta, harga 20 ribu per kilo.

Desa kedua, Desa Ciawigebang, 20 kilometer, sama, sudah dipanen, sudah dijual ke tengkulak.

Desa ketiga, Desa Luragung, 30 kilometer, sama.

Sampai jam dua belas malam, mereka sudah keliling 5 desa, hasilnya nol kilo. Semua melinjo sudah dipanen dan dijual ke tengkulak Jakarta bulan lalu.

Di dalam mobil Kijang yang berdebu, Laras yang menyetir sambil menguap, mengeluh,

"Ndan, Nay, gimana ini? 5 desa kosong semua. Melinjo sudah habis dipanen. Tengkulak Jakarta borong semua. Kita dari mana cari 950 kilo?"

Raka yang duduk di belakang dengan kamera di pangkuannya, merekam perjalanan, ikut mengeluh,

"Gue juga capek, Ndan. Dari Bandung ke Karangtawang 4 jam naik motor, sekarang keliling desa 5 desa nol kilo. Kapan dapat melinjonya?"

Fardhan yang duduk di depan dengan map berisi daftar desa, mencoba tetap semangat.

"Jangan menyerah, Ras, Ka. Masih banyak desa lain. Kita ke Cirebon besok pagi. Di Cirebon kan sentra melinjo juga. Pasti masih ada."

Nayla yang duduk di samping Fardhan, memegang tangan suaminya, tiba-tiba berkata pelan,

"Mas, aku punya ide. Gimana kalau kita tidak cari melinjo mentah, tapi cari emping mentah yang sudah jadi? Emping mentah yang belum digoreng, yang masih putih, yang dibuat pengrajin desa lain, tapi belum dijual ke tengkulak? Kita beli emping mentahnya, terus kita goreng di Karangtawang, terus kita kemas pakai merek baru kita, Emping Madrasah? Jadi kita tidak perlu tumbuk melinjo lagi, tinggal goreng. Lebih cepat. Pesanan 1 ton bisa selesai dalam seminggu kalau emping mentahnya ada."

Ide Nayla itu membuat semua orang di mobil terdiam, lalu bertepuk tangan.

"Bagus, Nay! Ide bagus! Beli emping mentah, bukan melinjo mentah! Lebih cepat! Tinggal goreng!" kata Laras.

Raka juga mengangguk.

"Gue setuju, Nay. Beli emping mentah. Gue tau di Desa Babakan, Cirebon, banyak pengrajin emping mentah yang belum punya merek, jualnya masih kiloan ke tengkulak harga murah 30 ribu. Kita bisa beli 40 ribu, lebih mahal 10 ribu dari tengkulak, biar pengrajinnya senang. Terus kita goreng di Karangtawang, kemas pakai merek baru kita, jual 100 ribu per kilo, edisi selamatkan pabrik. Untung 60 ribu per kilo. 1 ton untung 60 juta. Bisa buat modal koperasi lagi."

Fardhan mengangguk.

"Ide bagus, Nay, Ka. Beli emping mentah, bukan melinjo mentah. Kita jadi reseller, tapi reseller yang jujur, beli mahal dari pengrajin, jual mahal ke Jakarta, untungnya buat koperasi. Bukan kayak tengkulak yang beli murah 20 ribu, jual mahal 40 ribu, untungnya buat tengkulak. Kita beli 40 ribu, jual 100 ribu, untungnya buat warga. Beda."

Malam itu juga, jam satu pagi, mereka mengubah rute. Tidak ke desa melinjo, tapi ke Desa Babakan, Cirebon, sentra emping mentah yang belum punya merek.

Di Desa Babakan, jam dua pagi, mereka menemukan gudang emping mentah milik Bu Darmi, seorang janda tua dengan 3 anak, yang emping mentahnya menumpuk 2 ton di gudang, belum laku karena tengkulak Jakarta menunda beli karena harga turun.

"Bu Darmi, emping mentahnya dijual berapa, Bu?" tanya Nayla.

"30 ribu per kilo, Neng, ke tengkulak. Tapi tengkulak belum bayar 2 bulan. 2 ton numpuk di gudang. Saya bingung mau jual kemana, Neng. Anak saya mau sekolah, butuh uang," jawab Bu Darmi dengan mata berkaca-kaca.

Fardhan maju.

"Bu, kami dari Koperasi Wakaf Produktif Emping Madrasah Al-Huda Karangtawang. Kami mau beli emping mentah Ibu, 1 ton dulu, harga 40 ribu per kilo, cash hari ini. Boleh, Bu?"

Bu Darmi hampir pingsan mendengar harga 40 ribu cash hari ini, padahal tengkulak beli 30 ribu hutang 2 bulan.

"Boleh, Ndan! Boleh banget! 40 ribu cash hari ini! Alhamdulillah! Anak saya bisa sekolah! Makasih, Ndan!"

Malam itu juga, jam tiga pagi, 1 ton emping mentah dari gudang Bu Darmi di Desa Babakan, Cirebon, diangkut ke mobil Kijang dan mobil pick-up pinjaman warga Babakan, dibawa ke Karangtawang.

Perjuangan menyelamatkan emping dari kehabisan melinjo, akhirnya selesai dengan membeli emping mentah 1 ton dari janda tua di Babakan dengan harga 40 ribu cash, lebih mahal 10 ribu dari tengkulak, demi selamatkan pesanan 1 ton Emping Madrasah yang membludak.

Merek baru, harapan baru: bukan lagi merek emping tumbuk sendiri, tapi merek emping gotong royong, emping dari Babakan digoreng di Karangtawang, dikemas di madrasah, dijual ke Jakarta, Dubai, Surabaya, dengan cerita: "Emping ini menyelamatkan 2 keluarga: keluarga Bu Darmi di Babakan dan keluarga Bu Tati di Karangtawang yang kakinya diamputasi."

Cerita yang lebih mahal dari empingnya sendiri.

༺♡༻

Pagi jam 8 di Karangtawang, setelah 1 ton emping mentah dari Babakan tiba jam 5 pagi, warga langsung gotong royong goreng emping.

Bukan di pabrik baru yang belum jadi, tapi di halaman madrasah baru, dengan 10 wajan besar pinjaman warga, dengan minyak goreng 20 liter dari uang wakaf, dengan api dari kayu bakar.

Bu Tati yang kaki kanannya baru diamputasi 2 hari lalu dan masih di RSUD Kuningan, ikut video call dari RSUD, ngajarin cara goreng emping biar tidak gosong lewat HP Laras.

"Neng, apinya jangan besar-besar, Neng! Emping mentahnya tipis, gampang gosong! Minyaknya harus panas, tapi apinya kecil! Kayak cinta, Neng, harus panas tapi jangan besar-besar, nanti gosong!" teriak Bu Tati dari layar HP, dengan kaki kanannya yang diperban tebal terlihat di layar.

Warga tertawa mendengar Bu Tati yang masih bisa bercanda meski kaki kanannya diamputasi.

"Neng Nayla, empingnya jangan lama-lama di wajan, Neng! 10 detik aja! Angkat! Tiriskan! Kayak move on dari mantan, Neng, jangan lama-lama di wajan kenangan, nanti gosong!" teriak Bu Tati lagi, membuat Raka yang baru jadi warga Karangtawang dan lagi goreng emping, tersedak karena teringat Nayla mantan pacarnya.

Fardhan yang menggoreng emping di wajan paling besar, dengan sandal jepit pinjaman karena sandal swallow-nya laku 55 juta, berteriak,

"Bu Tati, ini empingnya sudah digoreng 1 ton, Bu! Tinggal kemas! Kemasnya pakai merek baru apa, Bu? Masih Emping Madrasah atau merek baru?"

Bu Tati di layar HP menjawab,

"Merek baru, Ndan! Mereknya: Emping Berkah Karangtawang-Babakan! Biar Bu Darmi di Babakan juga dapat berkah! Jangan cuma Karangtawang aja yang dapat berkah! Babakan juga!"

Usul merek baru Emping Berkah Karangtawang-Babakan itu disetujui warga.

"Merek baru, harapan baru! Emping Berkah Karangtawang-Babakan!"

Tapi saat emping 1 ton sudah digoreng dan siap dikemas, masalah baru muncul: plastik kemasan habis. Plastik kemasan lama yang tahan api dan ada tulisan Emping Madrasah Al-Huda, habis terbakar bersama gudang pabrik H. Darsono minggu lalu. Sisa plastik kemasan baru yang didesain Raka gratis sebagai kado pernikahan, baru dicetak 100 lembar, belum 1 ton.

"Kemasnya pakai apa, Ndan? Plastik kemasannya habis! Yang baru dicetak 100 lembar!" teriak Laras yang bertugas kemas.

Fardhan bingung. Pesanan 1 ton sudah digoreng, harum, gurih, siap kirim ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Dubai, tapi plastik kemasannya habis.

Lihat selengkapnya