AKAD YANG TERTUNDA
Ujian terakhir sebelum pernikahan
༺♡༻
Tawaran film USTADZ EMPING gaji 1 Miliar plus profit sharing 10% dari Ahmad Dirgantara jam dua belas malam itu tidak langsung diterima Fardhan dan Nayla.
Mereka minta waktu sehari untuk musyawarah sama warga, sama Pak Haji Sobari, H. Darsono, Bu Tati yang baru pakai kaki palsu 50 juta, Pak Kuwu yang baru sembuh jadi tukang sapu madrasah, Laras, Raka yang baru jadi warga Karangtawang, dan Pak Ahmed Dubai yang masih di Kuningan karena mau lihat jalan desa dicor selesai.
Rapat musyawarah itu diadakan di madrasah baru yang atapnya sudah selesai 100% karena uang wakaf 1 Miliar, dengan lesung besar wakaf produktif di tengahnya, dengan 2000 besek bambu kosong bekas kemasan 2 ton emping 240 juta yang sudah terkirim ke Jakarta.
Fardhan membuka rapat.
"Warga, semalam Mas Raffi Ahmad telepon, mau bikin film tentang Karangtawang, judulnya USTADZ EMPING, pemeran utamanya saya sama Nayla, gaji 1 Miliar plus profit sharing 10%. Syuting bulan depan di Karangtawang. Gimana menurut warga? Kami terima atau tolak?"
Warga terdiam. 1 Miliar gaji plus profit sharing 10% yang kalau filmnya laku kayak Dilan bisa dapat 10 Miliar, adalah angka yang tidak pernah mereka bayangkan. Bahkan wakaf 8 Miliar dari Dubai saja sudah bikin mereka pingsan, apalagi 1 Miliar gaji film plus 10 Miliar profit sharing.
Bu Tati yang baru bisa jalan pakai kaki palsu 50 juta, dengan tongkat, berdiri pertama.
"Ndan, Neng, menurut Ibu, jangan terima, Ndan. 1 Miliar itu besar, tapi kalau kalian jadi artis, nanti Karangtawang siapa yang jaga? Madrasah baru siapa yang ngajar? Koperasi wakaf produktif siapa yang ketua? Emping Berkah Karangtawang-Babakan siapa yang goreng? Jangan jadi artis, Ndan. Jadi Ustadz Emping aja di Karangtawang."
Pak Kuwu yang baru sembuh jadi tukang sapu madrasah, dengan baju koko putih dan peci hitam, berdiri juga.
"Ndan, Neng, saya setuju sama Bu Tati. Jangan jadi artis. Saya dulu pernah mau jadi artis, mau jual tanah Karangtawang ke Robert Belanda 20 Miliar biar dapat komisi 1,2 Miliar, biar bisa jadi artis di Jakarta. Ternyata jadi artis itu nggak enak, Ndan. Enak jadi tukang sapu madrasah. Nyapu halaman jam 4 pagi, lihat matahari terbit. Jangan jadi artis, Ndan."
H. Darsono yang duduk di kursi roda karena masih lemas, mengangguk.
"Bapak setuju sama Bu Tati sama Pak Kuwu. Jangan jadi artis. 1 Miliar itu godaan, Ndan. Kayak dulu Bapak digoda rentenir 1,2 Miliar bunga 240 juta sebulan. Godaan. Jangan diambil. Tetap di Karangtawang. Jadi juragan emping yang jujur, bukan artis yang kaya tapi lupa Karangtawang."
Pak Haji Sobari juga mengangguk.
"Bapak juga setuju. Fardhan itu Ustadz Emping, bukan artis. Kalau jadi artis, nanti lupa tafsir Jalalain, lupa cara ngupas melinjo."
Laras dan Raka yang baru jadian seminggu setelah Raka potong rambut pendek kayak Ustadz Emping dan jadi warga Karangtawang, berdiri bersama.
"Kami juga setuju, Ndan, Nay, jangan jadi artis. Biar kami aja yang jadi artis. Kami kan suka kamera. Kalian tetap jadi Ustadz Emping dan Seniman Emping di Karangtawang. Kami yang jadi artis di film USTADZ EMPING, jadi figuran. Gaji figurannya buat modal koperasi lagi," kata Laras sambil menggandeng tangan Raka yang baru jadi pacarnya.
Nayla yang dari tadi diam, menatap Fardhan.
"Mas, menurut Mas gimana?"
Fardhan menatap satu per satu warga yang sudah seperti keluarganya sendiri: Bu Tati kaki palsu, Pak Kuwu tukang sapu, H. Darsono kursi roda, Hj. Lilis pucat, Pak Haji Sobari tasbih, Hj. Maryam rantang, Laras kamera, Raka mantan pacar yang jadi warga, Pak Ahmed Dubai koko putih.
"Menurut saya, kita tolak, Nay. 1 Miliar gaji film plus 10 Miliar profit sharing itu besar, tapi Karangtawang lebih besar. Karangtawang itu rumah kita. Rumah yang mengajarkan kita cinta yang tidak direncanakan di antara tumpukan melinjo. Kalau kita jadi artis di Jakarta, kita lupa cara ngupas melinjo, lupa cara nyapa pohon waru sedih, lupa cara bikin emping Berkah Karangtawang-Babakan 2 ton 240 juta bebas boraks. Kita tolak, Nay. Kita tetap di Karangtawang. Jadi Ustadz Emping dan Seniman Emping, bukan artis."
Nayla mengangguk dan memeluk Fardhan di depan warga.
"Setuju, Mas. Kita tolak. Kita tetap di Karangtawang."
Keputusan tolak 1 Miliar gaji film plus 10 Miliar profit sharing itu langsung di-WA ke Raffi Ahmad jam 10 pagi.
Raffi Ahmad membalas: "Wow, Ustadz Emping tolak 1 Miliar demi Karangtawang? Keren! Kalau gitu saya tetap bikin filmnya, tapi pemeran utamanya bukan Fardhan dan Nayla, tapi Laras dan Raka. Gaji 1 Miliar buat Laras dan Raka. Fardhan dan Nayla jadi cameo, jadi Ustadz Emping dan Seniman Emping beneran di filmnya, gaji cameo 100 juta. Gimana? Setuju? Biar Karangtawang tetap ada di film, tapi Fardhan dan Nayla tetap di Karangtawang, nggak jadi artis Jakarta."
Tawaran cameo 100 juta itu diterima Laras dan Raka dengan senang, karena mereka memang suka kamera dan mau jadi artis figuran.
Fardhan dan Nayla juga setuju cameo 100 juta, karena cameo cuma syuting 1 hari di madrasah baru, tidak perlu ke Jakarta, tidak perlu jadi artis.
Ujian terakhir sebelum pernikahan yang sesungguhnya bukan tawaran film 1 Miliar, tapi akad yang tertunda yang ketiga kalinya.
Karena setelah tolak film 1 Miliar, Pak Kyai Mukhlis penghulu asli datang lagi ke madrasah baru dengan wajah cemas, membawa surat dari KUA.
"Fardhan, Nayla, ada masalah lagi. Akad kalian yang kedua di KUA kemarin jam 9 pagi, yang sah secara negara, ternyata belum sah secara adat. Karena adat Karangtawang, akad harus di bawah pohon waru yang jadi saksi janji dua ayah 25 tahun lalu, bukan di KUA. Kalau tidak di bawah pohon waru, pernikahannya tidak diakui warga Karangtawang. Jadi harus akad lagi yang ketiga kalinya, di bawah pohon waru, malam ini jam 8, disaksikan warga. Ini ujian terakhir sebelum pernikahan kalian diakui warga Karangtawang. Kalau tidak akad di bawah pohon waru, warga tidak akui kalian suami istri, koperasi wakaf produktif bubar lagi, wakaf 8 Miliar batal lagi. Gimana?"
Akad yang tertunda yang ketiga kalinya, di bawah pohon waru, malam ini jam 8, ujian terakhir sebelum pernikahan diakui warga.
༺♡༻
Pohon waru yang menjadi saksi bisu janji dua ayah 25 tahun lalu, cinta dua anak yang tidak direncanakan, dan pengkhianatan keluarga Kuwu sebagai antek Belanda sejak 1942, malam itu dihias dengan lampu-lampu kecil dari uang wakaf 50 juta, dengan pelaminan baru: bukan karung goni berisi melinjo, bukan besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan, tapi pelaminan dari anyaman daun waru itu sendiri, anyaman warga Karangtawang yang dibuat Bu Tati dengan satu kaki palsunya.
Di bawah pohon waru itu, tikar pandan digelar, lesung besar wakaf produktif diangkat dari madrasah baru ke bawah pohon waru, jadi meja akad.
Warga Karangtawang dan Linggarjati, Babakan, bahkan warga Cirebon dan Kuningan kota yang pernah beli emping 2 ton 240 juta, datang dengan obor bambu, seperti malam pernikahan pertama Fardhan dan Nayla jam 4 pagi yang dinikahkan penghulu gadungan Pak Kuwu.
Bedanya, malam ini akadnya sah: penghulu asli Pak Kyai Mukhlis, saksi asli Pak Haji Sobari dan H. Darsono, wali asli H. Darsono, calon pengantin asli Fardhan dan Nayla yang sudah sah negara kemarin pagi tapi belum sah adat.
Jam 8 malam, akad ketiga dimulai.
Pak Kyai Mukhlis dengan jubah resmi KUA dan peci hitam, duduk di depan Fardhan dan Nayla yang memakai baju pengantin baru: Fardhan memakai baju koko putih baru hadiah Pak Ahmed Dubai, bukan koko putih dengan noda semen, Nayla memakai kebaya putih baru hadiah Hj. Maryam, bukan gamis putih pinjaman, dengan mahkota melinjo baru anyaman Bu Tati, bukan mahkota melinjo layu.
"Fardhan bin Sobari, saya nikahkan engkau dengan Nayla Adinda binti Darsono, dengan mahar seperangkat alat shalat, 1000 besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan, dan janji untuk tetap di Karangtawang selamanya, tidak ke Dubai 50 juta sebulan, tidak ke Jakarta 500 juta, tidak jadi artis 1 Miliar, dibayar tunai," kata H. Darsono sebagai wali, dengan suara bergetar, dengan mahar baru: 1000 besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan, bukan 100 bungkus Emping Madrasah, bukan balok kayu Al-Ilmu Nurun.
Fardhan dengan suara lantang, tanpa gugup, karena sudah dua kali ijab kabul: pertama jam 4 pagi dengan penghulu gadungan Pak Kuwu, kedua jam 9 pagi di KUA dengan penghulu asli, kini ketiga kalinya di bawah pohon waru dengan penghulu asli dan saksi adat warga Karangtawang.
"Saya terima nikahnya Nayla Adinda binti Darsono dengan mahar tersebut, dibayar tunai," jawab Fardhan.
"Sah!" teriak warga bersamaan, dengan obor bambu diangkat tinggi-tinggi, lebih keras daripada akad pertama jam 4 pagi dan akad kedua jam 9 pagi di KUA.
Semua warga bersorak, ada yang menangis, ada yang memeluk lesung besar wakaf produktif yang jadi meja akad.
Bu Tati yang kaki kanannya baru diamputasi dan pakai kaki palsu 50 juta, mencoba jalan tanpa tongkat di atas tikar pandan, menuju pelaminan daun waru.
"Ndan, Neng, selamat ya, sudah sah ketiga kalinya. Sah agama, sah negara, sah adat. Sah di bawah pohon waru. Sekarang sudah sah jadi warga Karangtawang seutuhnya," kata Bu Tati sambil memeluk Fardhan dan Nayla.
Pak Kuwu yang sudah sembuh jadi tukang sapu madrasah, dengan baju koko putih dan peci hitam, menyapu daun-daun waru yang jatuh di sekitar pelaminan, sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya akadnya di bawah pohon waru, bukan di KUA, bukan di pelaminan karung goni. Di bawah pohon waru yang jadi saksi janji dua ayah 25 tahun lalu. Sah adat," kata Pak Kuwu.
H. Darsono dan Pak Haji Sobari yang 25 tahun lalu janji di bawah pohon waru itu untuk menjodohkan anak-anak mereka, kini berpelukan di bawah pohon waru yang sama, melihat anak-anak mereka akad ketiga kalinya, sah adat.
"Bar, janji kita 25 tahun lalu di bawah pohon waru ini akhirnya jadi kenyataan, Bar. Anak kita nikah, sah agama, sah negara, sah adat, di bawah pohon waru ini juga," kata H. Darsono sambil menangis.
"Iya, Son, janji dua ayah akhirnya lunas, Son. Di bawah pohon waru ini juga," jawab Pak Haji Sobari sambil menangis juga.
Nayla yang duduk di pelaminan daun waru dengan mahkota melinjo baru, menatap Fardhan yang duduk di sampingnya dengan baju koko putih baru.
"Mas, akhirnya akad yang tertunda selesai ya, Mas. Tiga kali akad: pertama jam 4 pagi pelaminan karung goni penghulu gadungan Pak Kuwu, kedua jam 9 pagi di KUA penghulu asli, ketiga malam ini jam 8 di bawah pohon waru sah adat. Ujian terakhir sebelum pernikahan diakui warga."
Fardhan mengangguk dan menggenggam tangan Nayla yang dingin.
"Iya, Nay. Akad yang tertunda 25 tahun, sejak janji dua ayah di bawah pohon waru ini. Janji dua ayah yang retak 12 tahun karena sertifikat hilang, disambung lagi sama kita di bawah pohon waru ini juga. Sah adat."
Mereka berdua berpelukan di pelaminan daun waru, di bawah pohon waru yang menjadi saksi bisu, dengan obor bambu warga yang diangkat tinggi-tinggi, dengan lesung besar wakaf produktif di depan mereka sebagai meja akad, dengan 1000 besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan sebagai mahar.
Akad yang tertunda, ujian terakhir sebelum pernikahan diakui warga, akhirnya selesai malam itu jam 8 di bawah pohon waru, dengan mahar 1000 besek bambu.
Tapi di ujung kerumunan warga yang bersorak, terlihat mobil Innova putih Pak Ahmed Dubai yang terparkir, dengan Pak Ahmed di dalamnya, menatap akad ketiga di bawah pohon waru itu dengan wajah haru, sambil menelepon Sheikh Ahmed di Dubai dengan bahasa Arab.
"Ya Sheikh, akad ketiga di bawah pohon waru sudah sah, Sheikh. Sah agama, sah negara, sah adat. Janji dua ayah 25 tahun lalu lunas. Wakaf 8 Miliar aman. Jalan desa sudah dicor 50%, pabrik baru pondasi, madrasah baru atap selesai, kaki palsu Bu Tati sudah dipakai, warung Mba Pevita buka lagi, Pak Kuwu sudah jadi tukang sapu madrasah, Raka jadi warga Karangtawang, Laras dan Raka mau jadi artis film USTADZ EMPING gaji 1 Miliar, Fardhan dan Nayla cameo 100 juta. Semua selesai, Sheikh. Karangtawang sudah jadi desa wisata wakaf produktif. Alhamdulillah."
Di seberang telepon, Sheikh Ahmed dari Dubai menjawab dengan bahasa Arab yang diterjemahkan Pak Ahmed,
"Alhamdulillah, Ahmed. Kamu sudah berhasil. 8 Miliar wakaf produktif di desa kecil Karangtawang, dengan akad tiga kali di bawah pohon waru, dengan 1000 besek bambu mahar, dengan 2 ton emping 240 juta bebas boraks. Cerita yang bagus. Buat filmnya, Ahmed. Judulnya USTADZ EMPING. Biar Dubai tau, di Indonesia ada desa kecil yang tolak 50 juta sebulan di Dubai demi bertahan di desa."
Pak Ahmed menutup telepon dengan air mata mengalir, menatap akad ketiga di bawah pohon waru yang menjadi ujian terakhir sebelum pernikahan diakui warga.
Ujian terakhir selesai.
༺♡༻
Setelah akad ketiga di bawah pohon waru selesai jam 9 malam, warga tidak langsung pulang. Mereka menggelar syukuran terakhir, syukuran akad yang tertunda yang sudah lunas.
Syukuran itu bukan dengan kambing guling atau organ tunggal, tapi dengan 1000 besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan yang menjadi mahar akad tadi, yang dibuka dan dimakan bersama-sama warga di bawah pohon waru, dengan teh hangat 20 liter.
Fardhan dan Nayla duduk di pelaminan daun waru, dikelilingi warga yang makan emping besek bambu.
"Mas, enak ya empingnya, Mas? Gurih ya, Mas? Padahal digoreng di halaman madrasah, mentahnya dari Babakan, dianyam beseknya di Karangtawang," kata Nayla sambil makan emping dari besek bambu maharnya sendiri.
"Enak, Nay. Paling enak, Nay. Soalnya ini mahar kita, Nay. Mahar 1000 besek bambu. Mahar yang tidak direncanakan, kayak cinta kita. Cinta yang tidak direncanakan di antara tumpukan melinjo, maharnya juga tidak direncanakan: besek bambu, bukan karung goni, bukan balok kayu," jawab Fardhan sambil makan emping juga.
Bu Tati yang sudah bisa jalan pakai kaki palsu baru tanpa tongkat, duduk di samping pelaminan dengan besek bambu di pangkuannya.
"Ndan, Neng, mahar 1000 besek bambu ini bagus, Ndan. Beseknya bisa dipakai lagi buat tempat beras, tempat gula, tempat apa aja. Nggak kayak karung goni yang cuma buat melinjo. Beseknya awet, Ndan. Kayak cinta kalian, awet."
Pak Kuwu yang sudah jadi tukang sapu madrasah, ikut duduk dengan besek bambu di pangkuannya.
"Ndan, Neng, maaf ya, dulu saya pernah mau bakar pelaminan karung goni kalian jam 4 pagi. Sekarang pelaminan kalian daun waru, maharnya besek bambu, saya nggak bakar lagi, saya jaga. Saya sapu daun-daun waru yang jatuh di pelaminan kalian, biar bersih."
Fardhan dan Nayla tertawa mendengar Pak Kuwu yang dulu mau bakar pelaminan karung goni, kini jaga pelaminan daun waru.
"Pak Kuwu, makasih ya sudah jaga pelaminan kami," kata Fardhan.
H. Darsono dan Pak Haji Sobari yang duduk di depan lesung besar wakaf produktif yang jadi meja akad, makan emping besek bambu bersama-sama.
"Bar, janji dua ayah 25 tahun lalu di bawah pohon waru ini, akhirnya lunas ya, Bar. Anak kita nikah tiga kali: pertama jam 4 pagi pelaminan karung goni penghulu gadungan Pak Kuwu, kedua jam 9 pagi di KUA penghulu asli, ketiga malam ini jam 8 di bawah pohon waru sah adat. Lunas, Bar," kata H. Darsono.
"Lunas, Son. Janji dua ayah lunas. Sekarang giliran janji dua anak, janji Fardhan dan Nayla yang bilang anaknya boleh jadi apa aja, boleh jadi ustadz, seniman, juragan emping, tukang cor jalan, tukang sapu madrasah, kayak Pak Kuwu sekarang," jawab Pak Haji Sobari.
Laras dan Raka yang baru jadian dan baru dapat tawaran jadi pemeran utama film USTADZ EMPING gaji 1 Miliar, duduk di pojok dengan besek bambu, sambil merekam akad ketiga dengan kamera.
"Ndan, Nay, kami rekam ya akad ketiganya buat film USTADZ EMPING. Nanti filmnya ada adegan akad di bawah pohon waru, mahar 1000 besek bambu. Keren," kata Laras.