ANAK JURAGAN EMPING
Hari pernikahan Fardhan dan Nayla
༺♡༻ PEMBUKA BAB - 350 Kata
Operasi otak Raka 100 juta itu akhirnya lunas jam satu pagi, satu jam setelah dokter bilang harus operasi malam ini juga atau meninggal.
Bukan dari wakaf 8 Miliar yang sudah ada pos-posnya: 1,2 Miliar lunasi rentenir, 500 juta lunasi Bank Syariah, 1 Miliar jalan desa cor, 1 Miliar pabrik baru tahan api, 1 Miliar madrasah baru, 1 Miliar modal koperasi, 300 juta beasiswa, 50 juta kaki palsu Bu Tati, 20 juta modal warung Mba Pevita, 1 Miliar rehab Pak Kuwu, 930 juta cadangan. Tidak ada pos untuk operasi otak mantan pacar istri.
Tapi lunas dari hasil lelang kedua sandal jepit pinjaman Fardhan dan Nayla yang dipakai ngecor jalan desa.
Lelang itu dibuat Laras jam 12 malam di Instagram @EmpingMadrasah dengan caption: "LELANG SANDAL JEPIT PINJAMAN USTADZ EMPING & SENIMAN EMPING YANG DIPAKAI NGECOR JALAN DESA - MULAI 0 RUPIAH".
Dalam satu jam, sandal jepit pinjaman itu laku 120 juta. Dibeli oleh Pak Ahmed Dubai, yang bilang: "Sandal jepit pinjaman yang dipakai ngecor jalan desa itu lebih mahal dari sandal swallow putus yang laku 55 juta. Karena yang ini dipakai berdua, Ustadz dan Seniman, ngecor jalan bersama. Buat museum juga, di samping sandal swallow."
Uang 120 juta itu langsung dibawa ke RSUD Kuningan jam satu pagi, 100 juta buat operasi otak Raka, 20 juta sisa buat beli helm baru buat warga Karangtawang biar tidak kecelakaan lagi.
Operasi otak Raka berjalan lancar. Dokter bilang, Raka selamat, tapi harus istirahat total 3 bulan, tidak boleh naik motor, tidak boleh syuting film USTADZ EMPING dulu.
Laras yang menunggu di luar ICU dengan mata sembab, langsung sujud syukur begitu dokter bilang Raka selamat.
"Alhamdulillah, Raka selamat!"
Pagi jam 8, Raka sudah sadar di ruang rawat, dengan kepala diperban tebal, dengan Laras di sampingnya.
"Ras... gue... gue masih hidup, Ras?" tanya Raka lemah.
Laras mengangguk sambil menangis.
"Masih, Ka. Masih hidup. Operasi otak 100 juta lunas dari lelang sandal jepit pinjaman Fardhan dan Nayla yang dipakai ngecor jalan desa. Laku 120 juta dibeli Pak Ahmed Dubai."
Raka tersenyum lemah.
"Sandal jepit pinjaman... laku 120 juta... lebih mahal dari sandal swallow 55 juta... Karangtawang memang desa aneh..."
Siang itu, setelah Raka sadar dan boleh dijenguk, Fardhan dan Nayla datang ke RSUD Kuningan dengan 1000 besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan sisa syukuran tolak gugatan keluarga Kuwu malam akad ketiga di bawah pohon waru.
"Ka, ini emping buat kamu, Ka. Biar cepat sembuh. Emping Berkah Karangtawang-Babakan, bebas boraks, hasil lab BPOM negatif," kata Fardhan sambil menyodorkan besek bambu.
Raka mengambil besek bambu itu dengan tangan gemetar.
"Makasih, Ustadz... makasih sudah lelang sandal jepit pinjaman buat operasi otak gue... padahal gue mantan pacar Nayla..."
Nayla memeluk Raka yang terbaring.
"Ka, kamu bukan mantan pacar aku lagi, Ka. Kamu warga Karangtawang. Keluarga. Keluarga itu kalau kecelakaan, dibantu. Bukan ditinggal."
Raka menangis di pelukan Nayla, dengan kepala diperban tebal.
"Makasih, Nay... makasih sudah anggap gue keluarga..."
Setelah jenguk Raka, Fardhan dan Nayla kembali ke Karangtawang jam 12 siang, karena hari ini adalah hari yang sudah ditunggu 25 tahun: hari pernikahan Fardhan dan Nayla yang sesungguhnya, yang diakui warga, yang sah agama, sah negara, sah adat, sah pengadilan, setelah akad tertunda tiga kali, setelah gugatan tanah lesung milik keluarga Kuwu ditolak hakim.
Hari pernikahan yang bukan jam 4 pagi pelaminan karung goni penghulu gadungan Pak Kuwu, bukan jam 9 pagi di KUA, bukan jam 8 malam di bawah pohon waru dengan mahar 1000 besek bambu, tapi hari pernikahan resepsi besar yang dijanjikan H. Darsono dan Pak Haji Sobari sejak awal: resepsi di madrasah baru yang atapnya sudah selesai 100%, jalan desa sudah dicor 100% karena tambahan 1 Miliar lagi dari Sheikh Ahmed setelah sertifikat lama 1950 ketemu, pabrik baru sudah setengah jadi, kaki palsu Bu Tati sudah dipakai, warung Mba Pevita sudah buka lagi, Pak Kuwu sudah jadi tukang sapu madrasah, Raka sudah jadi warga Karangtawang.
Hari pernikahan Fardhan dan Nayla, anak juragan emping.
༺♡༻ PERISTIWA PEMICU - 480 Kata
Resepsi pernikahan itu digelar di madrasah baru Al-Huda Karangtawang yang kini sudah selesai 100%, bukan setengah jadi, dengan atap genteng baru, dinding dicat putih, lantai keramik baru dari uang wakaf 1 Miliar, dengan lesung besar wakaf produktif di tengahnya yang kini jadi meja prasmanan, bukan meja akad, dengan pelaminan baru: pelaminan dari besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan yang disusun tinggi 2 meter, dengan bunga melinjo asli, bukan bunga plastik.
Tamu yang datang bukan cuma warga Karangtawang, Linggarjati, Babakan, tapi juga warga Cirebon, Kuningan kota, Jakarta, Bandung, Surabaya, Dubai. Pak Hendra Jakarta yang pesan 2 ton 240 juta, Raffi Ahmad yang beli lesung wakaf 150 juta dan sandal swallow 55 juta dan sandal jepit pinjaman 120 juta, Pak Ahmed Dubai baju koko putih peci hitam, Sheikh Ahmed Dubai yang datang langsung dari Dubai dengan jubah putih, Robert Van Der Berg keturunan Belanda yang sudah lepas klaim tanah dan sekarang jadi donatur beasiswa 300 juta, bahkan Ujang admin akun palsu @InfoKuninganAsli yang sudah bebas dari penjara karena mengaku disuruh Pak Dadan, datang juga dengan membawa besek bambu.
Total tamu 1000 orang, sesuai janji H. Darsono dulu mau undang 500 orang di gedung, kini jadi 1000 orang di madrasah baru.
H. Darsono sebagai tuan rumah, dengan baju beskap Jawa dan blangkon, berdiri di depan pelaminan besek bambu 2 meter, dengan Hj. Lilis yang sudah agak baikan setelah pingsan di mobil mogok dan keguguran kembar, memakai kebaya putih, dengan perut yang sudah tidak hamil lagi tapi senyumnya sudah tidak dipaksakan lagi, senyum jujur.
"Warga, hari ini hari pernikahan anak saya, Nayla Adinda Darsono, anak juragan emping, dengan Fardhan bin Sobari, Ustadz Emping lulusan Turki. Pernikahan yang tertunda 25 tahun sejak janji dua ayah di bawah pohon waru, retak 12 tahun karena sertifikat hilang, disambung lagi sama emping, sama lesung, sama madrasah. Hari ini sah agama, sah negara, sah adat, sah pengadilan, sah warga. 1000 besek bambu mahar, 2 ton emping 240 juta bebas boraks, 8 Miliar wakaf produktif, jalan desa cor 100%, pabrik baru setengah jadi, madrasah baru selesai 100%, kaki palsu Bu Tati baru, warung Mba Pevita buka lagi, Pak Kuwu jadi tukang sapu madrasah, Raka jadi warga Karangtawang, Laras dan Raka jadi artis film USTADZ EMPING gaji 1 Miliar, Fardhan dan Nayla cameo 100 juta. Semua kembali ke Karangtawang. Alhamdulillah," kata H. Darsono dengan pengeras suara baru dari uang wakaf.
Warga bersorak.
"Alhamdulillah! Hidup pengantin baru!"
"Hidup anak juragan emping!"
Pak Haji Sobari sebagai besan, dengan baju koko putih dan peci hitam, juga berdiri.
"Warga, saya Pak Haji Sobari, bapaknya Fardhan, dulu janji sama Darsono di bawah pohon waru 25 tahun lalu mau jodohkan anak kita. Janji itu retak 12 tahun karena sertifikat madrasah lama hilang, yang ternyata disembunyikan Pak Kuwu di brankas anaknya Pak Dadan. Sekarang sertifikat lama 1950 ketemu, janji dua ayah lunas, anak kita nikah tiga kali: pertama jam 4 pagi pelaminan karung goni penghulu gadungan Pak Kuwu, kedua jam 9 pagi di KUA penghulu asli, ketiga jam 8 malam di bawah pohon waru sah adat. Sekarang resepsi keempat, di madrasah baru selesai 100%, pelaminan besek bambu 2 meter, mahar 1000 besek bambu, tamu 1000 orang. Janji dua ayah lunas, sekarang janji dua anak: anaknya boleh jadi apa aja, boleh jadi ustadz, seniman, juragan emping, tukang cor jalan, tukang sapu madrasah, artis film, warga Karangtawang. Itu janji dua anak. Alhamdulillah."
Warga bersorak lagi.
Fardhan dan Nayla sebagai pengantin, duduk di pelaminan besek bambu 2 meter, dengan baju pengantin baru: Fardhan baju beskap Jawa hitam dengan blangkon, Nayla kebaya putih dengan mahkota melinjo baru anyaman Bu Tati, bukan mahkota melinjo layu.
"Mas, akhirnya hari pernikahan kita ya, Mas? Setelah akad tertunda tiga kali, setelah ujian terakhir sebelum pernikahan, setelah gugatan tanah lesung milik keluarga Kuwu ditolak hakim, setelah Raka kecelakaan operasi otak 100 juta," bisik Nayla pada Fardhan di pelaminan besek bambu 2 meter.
Fardhan menggenggam tangan Nayla yang dingin karena gugup.
"Iya, Nay. Hari pernikahan kita. Anak juragan emping. Hari yang ditunggu 25 tahun sejak janji dua ayah di bawah pohon waru. Hari yang hampir batal karena Pak Kuwu bakar madrasah 3 kali, bakar gudang 2 ton, tabrak Bu Tati sampai diamputasi, fitnah kamu bakar pabrik bapakmu, kasih info tanah ke Robert Belanda, suruh anaknya bikin gugatan cerai palsu dan fitnah boraks dan gugat tanah lesung milik keluarga Kuwu. Hari yang hampir batal karena utang 1,7 Miliar di balik senyum Bapak, karena tanah mau disita Belanda, karena gugatan cerai palsu, karena wakaf 8 Miliar dibekukan, karena fitnah boraks, karena Raka kecelakaan. Tapi hari ini jadi, Nay. Karena kita memilih bertahan di Karangtawang."
Nayla mengangguk dan menangis bahagia di pelaminan besek bambu 2 meter.
"Mas, aku bahagia, Mas. Bahagia jadi anak juragan emping yang nikah sama Ustadz Emping di bawah pohon waru, di madrasah baru selesai 100%, jalan desa cor 100%, dengan 1000 tamu, 1000 besek bambu mahar, 2 ton emping 240 juta bebas boraks, 8 Miliar wakaf produktif."
Fardhan mengusap air mata Nayla.
"Aku juga bahagia, Nay. Bahagia jadi Ustadz Emping yang nikah sama anak juragan emping."
Di bawah pelaminan besek bambu 2 meter, Bu Tati yang kaki kanannya diamputasi dan pakai kaki palsu 50 juta baru, mencoba jalan tanpa tongkat, membawa nampan berisi 2 besek bambu Emping Berkah Karangtawang-Babakan untuk pengantin.
"Ndan, Neng, ini emping buat pengantin baru. Makan, Ndan, Neng, biar gurih kayak cinta kalian yang tidak direncanakan di antara tumpukan melinjo," kata Bu Tati.
Fardhan dan Nayla mengambil emping dari besek bambu Bu Tati dan memakannya bersama-sama di pelaminan besek bambu 2 meter, disaksikan 1000 tamu dengan obor bambu.
Emping yang gurih, cinta yang tidak direncanakan, hari pernikahan anak juragan emping.
Tapi di ujung kerumunan 1000 tamu, terlihat Pak Dadan, anak Pak Kuwu, yang seharusnya masih di ICU RSUD Kuningan setelah minum racun dan operasi, kini sudah pulang dengan kursi roda, dengan infus masih di tangan, dengan wajah pucat, membawa map berisi surat.
Surat apa lagi yang dibawa Pak Dadan kali ini? Apakah surat gugatan baru? Atau surat permintaan maaf terakhir?
Fardhan yang melihat Pak Dadan di kursi roda dengan infus di tangan, menggenggam tangan Nayla lebih erat di pelaminan besek bambu 2 meter.
"Nay, Pak Dadan datang, Nay. Pakai kursi roda, infus masih di tangan."
༺♡༻
Pak Dadan yang duduk di kursi roda dengan infus masih di tangan, didorong Pak Kuwu yang sudah jadi tukang sapu madrasah, masuk ke halaman madrasah baru yang penuh 1000 tamu, menuju pelaminan besek bambu 2 meter tempat Fardhan dan Nayla duduk.
Warga yang melihat Pak Dadan yang dulu bikin gugatan cerai palsu, fitnah boraks pakai akun palsu @InfoKuninganAsli, gugat tanah lesung milik keluarga Kuwu, minum racun dan masuk ICU, kini datang dengan kursi roda dan infus, langsung terdiam dan menatap sinis.
"Pak Dadan datang lagi! Mau bikin masalah lagi!"
"Usir Pak Dadan!"
Tapi Fardhan mengangkat tangan, minta warga tenang.
"Warga, tenang. Biar Pak Dadan ngomong. Kita dengar dulu."
Pak Dadan yang di kursi roda dengan infus di tangan, dengan wajah pucat karena baru seminggu minum racun dan operasi, membuka map yang dibawanya dengan tangan gemetar.
"Fardhan... Nayla... Warga Karangtawang... saya... saya minta maaf... saya sudah bikin gugatan cerai palsu... fitnah boraks... gugat tanah lesung milik keluarga Kuwu... saya salah... saya sudah dihukum... minum racun... masuk ICU... hampir mati... saya tobat..."
Pak Dadan mengeluarkan surat dari map, surat dengan kop PERADI, Persatuan Advokat Indonesia.
"Ini... ini surat pengunduran diri saya dari PERADI... saya tidak mau jadi pengacara lagi... saya mau jadi warga Karangtawang... kayak bapak saya Pak Kuwu yang jadi tukang sapu madrasah... kayak adik saya Raka yang jadi warga Karangtawang... saya mau jadi tukang sapu juga... boleh?"
Pak Dadan menyodorkan surat pengunduran diri dari PERADI itu pada Fardhan dan Nayla di pelaminan besek bambu 2 meter.
Fardhan mengambil surat itu dan membacanya. Surat pengunduran diri Pak Dadan dari PERADI, dengan alasan: "Saya malu jadi pengacara yang bikin gugatan cerai palsu, fitnah boraks, gugat tanah wakaf milik warga demi komisi 1,2 Miliar. Saya mau jadi warga Karangtawang, jadi tukang sapu madrasah kayak bapak saya."
Nayla yang melihat surat itu langsung menangis.
"Pak Dadan..."
Pak Kuwu yang mendorong kursi roda anaknya Pak Dadan, ikut menangis.
"Jajang... Dadan... Raka... bapak bangga... akhirnya keluarga Kuwu yang dulu jadi antek Belanda sejak 1942, mandor Belanda buka lahan 1940, Kuwu bakar madrasah 3 kali, pengacara gugat cerai palsu dan fitnah boraks dan gugat tanah lesung, sekarang semua mau jadi warga Karangtawang... tukang sapu madrasah... Alhamdulillah..."
H. Darsono dan Pak Haji Sobari yang duduk di depan pelaminan besek bambu 2 meter, melihat keluarga Kuwu yang dulu musuh besar Karangtawang, kini semua mau jadi warga Karangtawang, tukang sapu madrasah, langsung berdiri dan memeluk Pak Kuwu dan Pak Dadan di kursi roda.
"Pak Kuwu, Pak Dadan, kami maafkan. Kami terima jadi warga Karangtawang. Asal jangan bakar lagi, jangan gugat lagi, jangan fitnah lagi. Jadi tukang sapu madrasah aja, kayak Pak Kuwu sekarang," kata H. Darsono.