ANAK JURAGAN EMPING

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

SATU MUARA, DUA HATI

SATU MUARA, DUA HATI

Cinta yang menjadi rumah

༺♡༻

Surat cinta Bu Darmi muda ke Kyai Haji Marzuki kakek buyut Pak Haji Sobari tahun 1950 yang ditemukan di gudang emping mentah Babakan tempat Fardhan dan Nayla bulan madu itu, tidak jadi rahasia besar baru yang bikin sengketa tanah Babakan-Karangtawang.

Isinya bukan perjanjian bagi hasil 50% seperti perjanjian paksa Belanda 1942, tapi surat cinta biasa, tulisan tangan Bu Darmi umur 17 tahun, dengan ejaan lama:

"Kang Marzuki, saya Darmi dari Babakan. Saya suka sama Kang Marzuki yang ngajar ngaji di surau Karangtawang. Saya bikin emping mentah 1 kilo tiap hari buat Kang Marzuki. Kalau Kang Marzuki mau, saya mau jadi istri Kang Marzuki, bantu bikin emping di Karangtawang. Tapi Kang Marzuki sudah dijodohkan sama Nyai Salamah dari Linggarjati. Saya sedih. Saya doakan Kang Marzuki bahagia. Emping 1 kilo ini buat Kang Marzuki, biar Kang Marzuki ingat Darmi dari Babakan. - Darmi"

Surat cinta berbalas, karena di bawah surat Darmi ada balasan Kyai Haji Marzuki:

"Neng Darmi, makasih emping 1 kilo tiap hari. Enak. Tapi saya sudah dijodohkan sama Nyai Salamah dari Linggarjati, tidak bisa sama Neng Darmi. Maaf ya, Neng. Empingnya saya makan, doanya saya terima. Semoga Neng Darmi dapat jodoh yang lebih baik dari saya, yang mau bantu bikin emping di Babakan. - Marzuki"

Surat cinta yang tidak jadi, cinta bertepuk sebelah tangan tahun 1950, antara gadis Babakan pembuat emping mentah dan kyai muda Karangtawang pengajar surau, yang akhirnya menikah dengan orang lain: Kyai Haji Marzuki nikah sama Nyai Salamah dari Linggarjati, Bu Darmi nikah sama juragan emping Babakan, punya 3 anak, jadi janda tua dengan gudang 2 ton emping mentah yang numpuk karena tengkulak tunda bayar.

Fardhan dan Nayla yang bulan madu di gudang emping mentah 1 ton sisa, membaca surat cinta 1950 itu dengan air mata.

"Mas, Bu Darmi dulu cinta sama kakek buyut Mas, Kyai Haji Marzuki, Mas. Cinta bertepuk sebelah tangan tahun 1950, Mas. Kayak kita dulu, Mas, cinta yang tidak direncanakan di antara tumpukan melinjo, tapi kita kesampaian, Bu Darmi tidak kesampaian," kata Nayla sambil memegang surat cinta 1950 yang sudah menguning.

Fardhan mengangguk dan memeluk Nayla di gudang emping mentah.

"Iya, Nay. Bu Darmi cinta bertepuk sebelah tangan 1950, kita cinta tidak direncanakan 2025 kesampaian. Beda 75 tahun. Tapi sama-sama emping. Bu Darmi bikin emping 1 kilo tiap hari buat kakek buyutku, kamu bikin emping 2 ton 240 juta bebas boraks buat koperasi. Sama-sama emping, sama-sama cinta."

Bu Darmi yang masuk ke gudang dengan membawa teh hangat 2 gelas untuk pengantin baru yang bulan madu di gudangnya, melihat Fardhan dan Nayla membaca surat cintanya 75 tahun lalu, langsung malu dan menutup muka dengan kerudung.

"Neng, Ndan, jangan dibaca surat cinta Ibu 75 tahun lalu, Neng! Malu, Neng! Ibu dulu masih 17 tahun, suka sama Kang Marzuki kyai muda Karangtawang! Tapi Kang Marzuki sudah dijodohkan! Ibu sedih! Jangan dibaca, Neng!"

Nayla memeluk Bu Darmi yang malu.

"Bu, surat cinta Ibu bagus, Bu. Jujur. Ibu suka sama kakek buyut Mas Fardhan, tapi tidak kesampaian. Sekarang 75 tahun kemudian, emping mentah Ibu 2 ton dibeli anak cucu kakek buyut Ibu, Fardhan dan Nayla, harga 40 ribu cash, buat selamatkan pesanan 2 ton 240 juta. Cinta Ibu yang tidak kesampaian 75 tahun lalu, kesampaian sekarang lewat emping, Bu. Lewat kami. Satu muara, dua hati."

Bu Darmi menangis dipeluk Nayla.

"Neng... makasih, Neng... Ibu sudah tua, 75 tahun janda, emping mentah numpuk 2 ton, tengkulak tidak bayar, anak 3 mau sekolah, Ibu bingung. Sekarang emping 2 ton laku 80 juta, anak bisa sekolah. Makasih, Neng, Ndan... cinta Ibu yang tidak kesampaian 75 tahun lalu, sekarang kesampaian lewat kalian... satu muara, dua hati... Karangtawang-Babakan..."

Fardhan yang melihat Bu Darmi dan Nayla berpelukan di gudang emping mentah 1 ton sisa, dengan surat cinta 1950 di tangan, berkata,

"Bu Darmi, mulai hari ini, gudang emping mentah Ibu di Babakan ini jadi cabang Koperasi Wakaf Produktif Emping Madrasah Al-Huda Karangtawang. Namanya: Cabang Babakan. Ibu jadi ketua cabang Babakan. Emping mentah Babakan, digoreng di Karangtawang, dikemas besek bambu Karangtawang, dijual ke Jakarta, Dubai, Surabaya, dengan merek Emping Berkah Karangtawang-Babakan. Satu muara, dua hati. Muara Karangtawang, hati Babakan. Atau sebaliknya. Sama aja. Yang penting satu muara, dua hati, jadi rumah."

Bu Darmi sujud syukur di atas tumpukan emping mentah 1 ton sisa.

"Alhamdulillah... gudang saya jadi cabang koperasi... saya jadi ketua cabang Babakan... Alhamdulillah..."

Bulan madu di gudang emping mentah Babakan yang menemukan surat cinta 1950 tidak jadi, kini menjadi bulan madu yang menemukan muara baru: satu muara, dua hati, Karangtawang-Babakan, cinta yang menjadi rumah.

Rumah bukan lagi rumah kayu kecil belakang madrasah, bukan madrasah baru selesai 100%, bukan rumah besar Linggarjati yang jadi homestay wakaf produktif, tapi rumah yang lebih besar: Karangtawang-Babakan, satu muara, dua hati.

༺♡༻

Pulang dari bulan madu 2 hari di gudang emping mentah Babakan, Fardhan dan Nayla kembali ke Karangtawang dengan membawa surat cinta 1950 Bu Darmi ke Kyai Haji Marzuki dan 1 ton emping mentah sisa yang belum digoreng, plus Bu Darmi dan 3 anaknya yang ikut pindah ke Karangtawang, mau tinggal di rumah kayu kecil Fardhan dan Nayla yang dulu ditempati H. Darsono dan Hj. Lilis, yang kini kosong karena H. Darsono dan Hj. Lilis sudah pindah ke madrasah baru tidur di atas lesung besar bersama keluarga besar.

"Bu Darmi, kenapa ikut pindah ke Karangtawang, Bu? Kan gudang di Babakan masih ada 1 ton emping mentah sisa?" tanya Nayla di mobil Kijang yang sudah tidak mogok dan tidak ada sarang tikus 3 ekor mati di mesin lagi karena sudah dibersihkan mekanik 5 juta.

Bu Darmi yang duduk di belakang dengan 3 anaknya yang masih kecil, menjawab,

"Neng, Ibu mau pindah ke Karangtawang, biar dekat sama koperasi. Di Babakan sepi, Neng. Tengkulak tidak ada, emping numpuk, anak tidak ada teman. Di Karangtawang ramai, ada madrasah baru selesai 100%, ada jalan cor 100%, ada pabrik baru setengah jadi, ada lesung besar wakaf produktif, ada Bu Tati kaki palsu baru, ada Pak Kuwu tukang sapu, ada Laras dan Raka artis film, ada 1000 warga makan 1000 besek bambu. Ibu mau pindah ke Karangtawang, jadi warga Karangtawang, biar anak Ibu bisa sekolah di madrasah baru, bisa ngaji sama Ustadz Emping."

Fardhan yang menyetir mobil Kijang yang sudah tidak mogok, mengangguk.

"Boleh, Bu Darmi. Selamat datang di Karangtawang. Jadi warga Karangtawang. Rumah kayu kecil kami di belakang madrasah kosong, boleh ditempati Bu Darmi sama 3 anaknya. Kami sudah pindah tidur di madrasah baru di atas lesung besar, sama keluarga besar. Rumah kayu kecil itu jadi rumah Bu Darmi sekarang. Satu muara, dua hati. Muara Karangtawang, hati Babakan, sekarang hati Babakan pindah ke Karangtawang."

Mobil Kijang itu masuk ke jalan desa Karangtawang yang sudah dicor 100% mulus, tidak berlubang lagi, dengan lampu listrik baru dari uang wakaf yang menyala terang di pinggir jalan.

Warga yang melihat mobil Kijang H. Darsono datang dengan Bu Darmi dan 3 anaknya dari Babakan, langsung keluar rumah dan menyambut.

"Bu Darmi! Datang ke Karangtawang! Selamat datang!"

"Anak-anak Babakan pindah ke Karangtawang!"

Bu Tati yang kaki palsu baru sudah bisa jalan 10 langkah tanpa tongkat, sekarang sudah bisa jalan 20 langkah tanpa tongkat, datang dengan besek bambu berisi emping goreng baru.

"Bu Darmi! Selamat datang di Karangtawang! Ini emping goreng baru, buat anak-anak!"

Bu Darmi turun dari mobil Kijang dengan 3 anaknya dan langsung memeluk Bu Tati kaki palsu baru.

"Bu Tati! Makasih, Bu! Empingnya gurih! Anak saya suka!"

Anak-anak Bu Darmi yang masih kecil langsung makan emping goreng besek bambu Bu Tati dengan lahap.

"Enak, Bu!"

Warga Karangtawang yang melihat Bu Darmi dan 3 anaknya makan emping goreng Bu Tati di pinggir jalan cor 100% yang baru selesai, langsung terharu.

"Satu muara, dua hati! Karangtawang-Babakan!"

"Selamat datang Bu Darmi! Selamat datang anak-anak Babakan!"

Fardhan dan Nayla yang melihat Bu Darmi dan 3 anaknya disambut warga Karangtawang dengan emping goreng besek bambu, berpelukan di depan mobil Kijang yang sudah tidak mogok.

"Mas, lihat deh, Bu Darmi dan 3 anaknya sudah jadi warga Karangtawang, Mas. Satu muara, dua hati, jadi rumah," kata Nayla.

Fardhan mengangguk.

"Iya, Nay. Rumah bukan lagi rumah kayu kecil, bukan madrasah baru, bukan rumah besar Linggarjati homestay, tapi rumah yang lebih besar: Karangtawang-Babakan, satu muara, dua hati, cinta yang menjadi rumah."

Malam itu, di madrasah baru selesai 100%, dengan lesung besar wakaf produktif di tengahnya, dengan jalan desa cor 100%, dengan pabrik baru setengah jadi, dengan 1000 besek bambu kosong bekas syukuran, dengan keluarga besar: H. Darsono, Hj. Lilis, Pak Haji Sobari, Hj. Maryam, Bu Tati kaki palsu baru, Pak Kuwu tukang sapu, Laras, Raka kepala diperban, Pak Jajang kursi roda infus, Pak Dadan kursi roda infus, Bu Darmi dan 3 anaknya, Pak Ahmed Dubai, Sheikh Ahmed Dubai, Robert Van Der Berg mantan keturunan Belanda yang sekarang donatur beasiswa, Ujang admin akun palsu yang sudah tobat, Mba Pevita warung buka lagi, Pak Hendra Jakarta, Raffi Ahmad, plus Fardhan dan Nayla pengantin baru, menggelar syukuran lagi: syukuran selamat datang Bu Darmi dan 3 anaknya dari Babakan jadi warga Karangtawang, satu muara, dua hati.

Syukuran itu dengan 2 ton emping baru? Tidak, dengan 1 ton emping mentah sisa dari gudang Bu Darmi di Babakan yang dibawa ke Karangtawang, digoreng lagi di halaman madrasah dengan 10 wajan besar, dikemas lagi 1000 besek bambu, dimakan lagi 1000 warga, dengan teh hangat 20 liter.

"Selamat datang Bu Darmi! Selamat datang anak-anak Babakan! Satu muara, dua hati! Karangtawang-Babakan!"

Fardhan dan Nayla duduk di pelaminan besek bambu 2 meter yang masih ada dari resepsi kemarin, dengan baju pengantin kemarin yang masih dipakai karena belum sempat ganti, dengan mahkota melinjo baru.

"Mas, ini syukuran keberapa, Mas? Syukuran akad ketiga, syukuran tolak gugatan keluarga Kuwu, syukuran 2 ton 240 juta bebas boraks, syukuran jalan desa cor 100%, syukuran madrasah baru selesai 100%, syukuran kaki palsu Bu Tati baru, syukuran warung Mba Pevita buka lagi, syukuran Pak Kuwu jadi tukang sapu, syukuran Raka jadi warga, syukuran Pak Jajang jadi warga, syukuran Pak Dadan tobat, syukuran film USTADZ EMPING budget 2 Miliar, syukuran 200 juta beasiswa, syukuran selamat datang Bu Darmi dan 3 anaknya. Syukuran keberapa, Mas?" tanya Nayla.

Fardhan menghitung dengan jari.

"Syukuran ke-12, Nay. 12 syukuran dalam sebulan. Sebulan penuh syukuran. Dari pabrik kebakaran 800 juta, utang 1,7 Miliar di balik senyum Bapak, tanah mau disita Belanda 20 Miliar, gugatan cerai palsu, fitnah boraks, gugatan tanah milik keluarga Kuwu, Raka kecelakaan operasi otak 100 juta, sampai hari pernikahan anak juragan emping dan selamat datang Bu Darmi dan 3 anaknya. 12 syukuran. Satu muara, dua hati, 12 syukuran."

Nayla tertawa.

"12 syukuran, Mas? Kayak 12 bulan, Mas. Setahun syukuran."

"Iya, Nay. Setahun syukuran dalam sebulan. Karena Karangtawang itu desa syukuran, Nay. Desa yang kalau dapat masalah, syukurannya banyak. Kalau dapat 8 Miliar wakaf, syukurannya 12 kali."

Mereka berdua tertawa bersama di pelaminan besek bambu 2 meter, dengan 1000 warga makan 1000 besek bambu di bawah pohon waru saksi janji dua ayah 25 tahun lalu.

Satu muara, dua hati, 12 syukuran.

Tapi di ujung kerumunan 1000 warga yang makan 1000 besek bambu syukuran selamat datang Bu Darmi, terlihat mobil Kijang H. Darsono yang sudah tidak mogok dan tidak ada sarang tikus mati di mesin, mogok lagi dan mengeluarkan asap hitam lagi, untuk ketiga kalinya.

H. Darsono melihat mobil Kijangnya mogok lagi dan berasap hitam lagi, berteriak,

"Tolong! Mobil mogok lagi! Asap hitam lagi! Ada tikus lagi mati di mesin?!"

Fardhan dan Nayla yang baru saja selesai syukuran ke-12, langsung berlari ke mobil Kijang yang mogok ketiga kalinya dan berasap hitam, dengan besek bambu kosong di tangan.

"Mobil mogok lagi, Pak?"

༺♡༻

Mobil Kijang H. Darsono yang mogok ketiga kalinya dan berasap hitam jam 9 malam di hari syukuran selamat datang Bu Darmi dan 3 anaknya, ternyata bukan karena sarang tikus 3 ekor mati di mesin lagi, tapi karena kehabisan bensin. Bensinnya habis karena dipakai keliling 5 desa cari melinjo nol kilo, ke Babakan 2 kali beli 2 ton emping mentah 40 ribu, ke Jakarta bawa 2 ton 240 juta, ke RSUD jenguk Bu Tati amputasi dan Raka operasi otak, ke pengadilan tolak gugatan keluarga Kuwu, ke KUA akad ketiga di bawah pohon waru, ke madrasah baru syukuran 12 kali.

Mekanik panggilan yang dipanggil lagi jam 9 malam, bilang,

"Pak Haji, bensin habis, Pak. Bukan oli habis, bukan tikus mati. Bensin habis. Isi bensin 100 ribu, jalan lagi."

H. Darsono yang mendengar bensin habis, tertawa lagi, lebih keras daripada tawa karena sarang tikus 3 ekor mati di mesin kemarin.

"Hahaha... bensin habis... bukan oli habis, bukan tikus mati... bensin habis... mobil juragan emping kehabisan bensin... hahaha..."

Hj. Lilis juga tertawa.

"Hahaha... juragan emping kehabisan bensin... kayak emping kehabisan melinjo..."

Warga yang masih makan 1000 besek bambu syukuran selamat datang Bu Darmi, ikut tertawa.

Fardhan dan Nayla juga tertawa di atas lesung besar, dengan 2 besek bambu kosong bekas emping terakhir di tangan.

"Mas, mobil Bapak kehabisan bensin, Mas. Pantesan mogok terus," kata Nayla sambil tertawa.

"Iya, Nay. Mobil juragan emping kehabisan bensin, kayak emping kehabisan melinjo bulan lalu. Sama. Harus isi lagi. Isi bensin, isi melinjo, isi cinta," jawab Fardhan sambil tertawa juga.

Setelah diisi bensin 100 ribu dari uang wakaf cadangan 930 juta, mobil Kijang H. Darsono jalan lagi, tidak mogok, tidak berasap hitam.

H. Darsono mencoba mobilnya mengelilingi jalan desa cor 100% yang baru selesai, dengan Hj. Lilis di sampingnya, dengan Bu Darmi dan 3 anaknya di belakang, dengan Bu Tati kaki palsu baru di samping Bu Darmi, dengan Pak Kuwu tukang sapu di belakang, dengan Laras dan Raka kepala diperban, dengan Pak Jajang dan Pak Dadan kursi roda infus, dengan Pak Ahmed Dubai dan Sheikh Ahmed Dubai, dengan Robert Van Der Berg mantan Belanda donatur beasiswa, dengan Ujang admin akun palsu tobat, dengan Mba Pevita warung buka lagi, dengan Pak Hendra Jakarta, dengan Raffi Ahmad, dengan 1000 warga yang ikut naik mobil pick-up di belakang mobil Kijang.

Konvoi 10 mobil, mengelilingi jalan desa cor 100% Karangtawang-Linggarjati yang baru selesai, jam 10 malam, dengan obor bambu, dengan klakson, dengan emping besek bambu.

"Konvoi jalan cor 100%! Hidup Karangtawang!"

"Hidup jalan cor!"

Lihat selengkapnya