Namaku Rana Kurniawan. Aku adalah anak keempat dari sebelas bersaudara. Hidup di keluarga besar bukanlah hal yang biasa bagi sebagian orang, tapi bagiku itu adalah kehidupan sehari-hari yang sudah aku jalani sejak kecil.
Ayahku bernama Saderi, seorang pria yang sederhana namun pekerja keras. Setiap hari beliau berusaha mencari nafkah untuk keluarga kami yang besar. Ibuku bernama Sarkunah, seorang ibu yang sangat sabar dan penuh kasih sayang. Mengurus sebelas anak tentu bukan perkara mudah, tapi ibu selalu melakukannya dengan penuh ketulusan.
Di keluargaku, aku memiliki banyak saudara. Kakakku yang pertama adalah Sadiah, kemudian Martani, dan Suryati. Mereka sering membantu ibu mengurus rumah dan menjaga adik-adik.
Aku berada tepat di tengah-tengah mereka sebagai anak keempat.
Di bawahku ada adik-adikku: Santi, yang dulu pernah hadir dalam keluarga kami namun meninggal ketika usianya baru empat tahun. Lalu ada Rina dan Rini, dua saudara kembar yang sering membuat rumah kami semakin ramai. Setelah itu ada Rani, yang juga sudah meninggal ketika masih bayi.
Kemudian ada Mira, Risa, dan yang terakhir adalah Ridwan, adik bungsu sekaligus satu-satunya adik laki-lakiku.
Dari sebelas bersaudara itu, hanya aku dan Ridwan yang laki-laki. Selebihnya semuanya perempuan. Karena itu, kadang aku merasa punya tanggung jawab lebih sebagai kakak laki-laki.
Setiap hari di rumah kami selalu dimulai sejak pagi buta.
Biasanya ibu sudah bangun lebih dulu sebelum matahari terbit. Dari dapur terdengar suara piring, wajan, dan aroma masakan yang mulai menyebar ke seluruh rumah.