Pagi itu tidak berbeda dari biasanya. Suara ibu dari dapur kembali membangunkanku.
“Rana, bangun! Bantu ibu dulu,” panggil ibu.
Aku membuka mata dengan malas. Udara pagi masih terasa dingin, dan selimut terasa begitu nyaman. Tapi aku tahu, kalau ibu sudah memanggil, berarti memang ada yang harus dikerjakan.
Aku bangkit pelan, lalu berjalan ke dapur.
Di sana, ibu sudah sibuk memasak. Kakakku, Sadiah, juga sudah membantu menyiapkan sarapan.
“Ada apa, Bu?” tanyaku sambil mengucek mata.
“Tolong ambilkan air di sumur, ya. Air di dapur hampir habis,” jawab ibu.
Aku mengangguk. Tanpa banyak bicara, aku langsung mengambil ember dan berjalan ke sumur di belakang rumah.
Setelah selesai mengambil air, aku kembali ke dalam rumah. Di ruang tengah, suasana sudah mulai ramai.
Rina dan Rini sedang bercanda sambil tertawa. Mereka memang selalu bersama, seperti tidak bisa dipisahkan. Kadang mereka terlihat kompak, tapi kadang juga bisa saling bertengkar hanya karena hal kecil.
Di sudut lain, Mira dan Risa masih terlihat mengantuk. Mereka duduk sambil bersandar, belum sepenuhnya siap memulai hari.
Sementara itu, Ridwan, si bungsu, masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak peduli dengan keramaian di sekitarnya.
Aku tersenyum kecil melihat mereka.
Rumah ini memang tidak pernah benar-benar sepi.
Tak lama kemudian, ayah keluar dari kamar. Seperti biasa, beliau sudah siap untuk berangkat bekerja.
Aku mendekat.
“Ayah berangkat sekarang?” tanyaku.
“Iya,” jawab ayah singkat.
Beliau menatapku sejenak, lalu berkata, “Rana, kamu bantu ibu, ya. Jaga adik-adik.”
Aku mengangguk pelan. Kata-kata itu sederhana, tapi selalu terasa berat.
“Iya, Yah.”