Hari itu siang terasa lebih sunyi dari biasanya.
Sebagian kakakku sedang membantu ibu di dapur, sementara adik-adik sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku duduk di depan rumah, menatap jalan yang lengang.
Angin berhembus pelan, membawa suasana yang entah kenapa terasa berbeda.
Aku tidak tahu kenapa, tapi hari itu pikiranku tiba-tiba melayang ke masa lalu.
Ke masa di mana rumah ini… terasa sedikit lebih lengkap.
Aku masih ingat dengan jelas sosok Santi.
Waktu itu, aku masih kecil. Santi adalah adik yang ceria, suka tertawa, dan selalu mengikuti ke mana pun aku pergi.
“Ka Rana… tunggu!” suaranya yang kecil sering memanggilku.
Aku yang saat itu belum terlalu mengerti arti tanggung jawab, kadang merasa terganggu karena dia terus mengikutiku. Tapi sekarang, aku justru merindukan hal itu.
Santi sangat dekat denganku.
Ia sering duduk di sampingku, bahkan hanya untuk melihatku melakukan hal-hal sederhana. Kadang ia tertawa tanpa alasan yang jelas, dan itu membuat suasana rumah terasa lebih hidup.
Namun semua itu berubah…
Saat suatu hari, Santi jatuh sakit.
Awalnya, aku tidak terlalu mengerti. Aku hanya melihat ibu terlihat lebih panik dari biasanya, dan ayah sering bolak-balik keluar rumah.
Suasana rumah yang biasanya ramai… perlahan berubah menjadi cemas.
Aku masih ingat malam itu.
Santi terbaring lemah. Wajahnya pucat, tidak seperti biasanya yang ceria.
Aku berdiri di dekat pintu, hanya bisa melihat dari jauh.
“Ibu… Santi kenapa?” tanyaku pelan.
Ibu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengusap kepala Santi dengan mata yang berkaca-kaca.
Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Santi tersenyum.
Beberapa hari setelah itu, rumah kami dipenuhi suasana duka.
Aku melihat ibu menangis.
Ayah hanya diam, tapi wajahnya terlihat sangat berbeda. Seperti menyimpan kesedihan yang dalam.